Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 144


__ADS_3

Hari itu Riana ingin menyibukkan diri dengan berkebun. Ia ingin menghirup udara luar walaupun hanya di pekarangan rumah. Ia rasa itu bisa cukup membuatnya refresh setelah kekecewaan yang dialaminya kemarin malam.


Diko pun tak lagi melarang Riana untuk beraktivitas seperti kemarin. Karena kini jawabannya sudah terang baginya, Riana tak sedang mengandung. Apalagi setelah melihat kesedihan istrinya kemarin, hatinya benar-benar remuk. Ia merasa bersalah karena mungkin harapannya terlalu besar hingga membuat Riana begitu sedih dan tertekan saat belum kunjung hamil.


Mereka berdua benar-benar pasrah sekarang. Keduanya harus percaya bahwa akan ada waktu yang tepat. Diko juga tak ingin lagi melarang Riana seperti kemarin, karena ia berpikir jika Tuhan sudah menghendaki, dengan apapun kegiatan istrinya maka akan tetap bisa hamil. Ia menyesal karena telah bersikap berlebihan kemarin.


Riana mulai memotong beberapa daun yang terlihat kuning. Setelah itu ia mulai sibuk memindahkan anak tanaman ke pot-pot yang lebih kecil. Saking asiknya, ia tak menyadari Bi Yum memanggilnya sejak tadi.


"Buu" panggil Bi Yum lebih keras.


Akhirnya Riana menoleh pada Bi Yum yang terlihat sedang membawa segelas jus di atas nampan.


"Istirahat dulu Bu, ini jusnya diminun dulu" ucap Bi Yum sambil meletakkan gelas jus tersebut ke sebuah meja kecil di dekat pekarangan mereka.


Riana tersenyum sambil mengangkat jempolnya seolah berkata 'ok'. Kemudian ia kembali lagi asyik dengan kegiatan berkebunnya.


Ketika matahari sudah makin tinggi, Riana mulai menepi untuk duduk dan meminum jus yag dibawakan Bi Yum untuknya. Namun tiba-tiba pandangan Riana sedikit buram dan gelap. Ia langsung refleks mencengram dahan pohon palem untuk membantunya untuk tetap berdiri.


Bi Yum yang kebetulan lewat pun langsung sontak melemparkan sapu yang tengah ia bawa. Ia berlari membantu Riana untuk duduk.


"Ibu kenapa?" tanya Bi Yum yang panik.


"Sepertinya karena sudah lama ga kena matahari Bi" ucap Riana sambil memijat dahinya


"Atau mungkin anemia, seperti pas jaman kuliah dulu" lanjut Riana.


"Bu, ayo kita masuk. Mataharinya makin tinggi nanti ibu makin sakit" ajak Bi Yum.

__ADS_1


Riana mengangguk.


Bi Yum mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Riana. Setelah menghabiskannya Riana merasa lebih enakan.


Kemudian ia bangkit hendak kembali ke halaman.


"Bu, mau ke mana?" tanya Bi Yum.


"Mau lanjut lagi Bi" jawabnya sambil menunjuk ke arah pekarangan rumah.


"Aduh Bu, jangan. Nanti ibu kenapa-kenapa" ucap Bi Yum khawatir.


"Ya ampun Bi, saya tu udah biasa begini. Kalau lama ga kena sinar matahari memang suka begitu, sekalinya panas-panasan bisa keliyengan. Tapi ya cuma sebentar kok, udah Bi Yum tenang aja ya" jelas Riana.


"Jangan deh Bu, nanti kalau ada apa-apa sama ibu gimana? Nanti saya juga bisa dimarahin Pak Diko" ucap Bi Yum setengah memohon.


"Yaudah iya Bi, aku ambil jus itu dulu ya abis itu langsung masuk lagi" ucap Riana.


"Biar saya aja Bu" ucap Bi Yum sambil ngacir ke teras dan mengambilkan segelas jus yag dibuatnya untuk Riana tadi.


Riana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Bi Yum. Ia merasa sungguh beruntung karena di kelilingi oleh orang-orang yang sayang padanya.


...***...


Riana terperanjat tatkala membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Diko yang tengah berbaring di sampingnya sampai merasa kaget.


"Mas, liat ini" ujar Riana sambil memperlihatkan layar ponselnya.

__ADS_1


Diko mencoba membaca pesan yang ditunjukkan oleh Riana tersebut dengan seksama.


"Kamu ngelamar kerja kok ga bilang-bilang aku?" tanya Diko yang kaget ternyata pesan tersebut berisi panggilan interview.


Riana terlihat sedikit bingung.


"Kayaknya aku udah bilang deh, eh tapi apa belum ya?" jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu belum ada bilang sama aku, kalau kamu ada bilang pasti aku ingat" ucap Diko yakin.


"Hmmm, maaf ya Mas aku lupa bilang sama kamu, kamu jangan marah ya, please" ucap Riana sambil merayu mencolek lengan Diko.


"Kamu beneran mau kerja lagi?" tanya Diko.


Riana mengangguk.


"Aku bosen Mas di rumah terus, aku pengin kerja" jawab Riana.


"Kalau memang kamu mau kerja lagi, kan bisa di kantor aku sayang. Nanti aku bicarakan sama Joe kira-kira posisi apa yang bagus buat kamu" jelas Diko.


Riana menggeleng.


"Jangan Mas, aku ga mau nanti urusan kerjaan kita, terbawa ke rumah kalau seandainya kita satu kantor" jawab Riana.


"Please" ucap Riana menggelayut manja di lengan Diko.


Dahi Diko terlihat berkerut. Ia sedang berpikir tentang permintaan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2