
Diko sedang dalam perjalanan puoang ke rumah setelah hampir seharian ini ia sibuk menghadiri sidang di pengadilan. Ia sengaja tak pernah memberi tahu pada istrinya jika sidang proses sudah di lalukan sejak bulan lalu bahkan hari ini adalah sidang ketiga dan merupakan pembacaan putusan hakim.
Diko menyetir dengan perasaan campur aduk. Ingin ia rasanya menjerit sekuat-kuatnya melepaskan semua yang ada dihatinya. Ia tak rela jika lelaki brengsek itu hanya mendekam di penjara selama 7 tahun sesuai putusan hakim tadi. Karena menurut hakim, apa yang dialami Riana tidak menyebabkan luka berat sehingga tidak bisa pelaku di hukum maksimal sesuai UUD yaitu 12 tahun penjara, dan juga tanpa adanya pertimbangan terhadap trauma psikis yang di alami oleh Riana akibat kejadiam itu.
Ingin rasanya ia mengutuk hukum yang ada di negara ini karena terasa begitu tidak adil. Terbayang olehnya saat pertama kali menemukan Riana dalam kondisi yang begitu memprihatinkan secara fisik maupun mental, hatinya sakit saat pengadilan hanya menganggap enteng kasus ini tanpa penyelidikan lebih lanjut terhadap dalang dibalik semuanya.
Namun ia dan para kuasa hukum akan terus memperjuangkan nasib Riana. Ia ingin mendesak penyelidikan lebih lanjut atas kasus ini dan tidak hanya menerima pengakuan pelaku begitu saja.
Diko berpikir keras atas semua kejadian ini. Siapakah kira-kira dalang di balik ini semua. Ia sangat yakin bahwa lelaki itu adalah orang suruhan. Ia juga yakin bahwa yang menyuruhnya adalah seseorang yang berduit, karena bisa membuat lelaki itu tak menyeret namanya walaupun di siksa oleh polisi. Pastilah ia dibayar dengan sangat mahal oleh orang tersebut.
__ADS_1
Jujur, dugaannya pertama kali menuju pada Dira ataupun Reyhan. Terang saja, karena sekitar seminggu sebelum kejadian mereka baru saja berseteru. Namun tak ada satupun bukti yang mengarah pada mereka. Diko sempat akan menghubungi Dira, namun ia mengurungkannya karena takut keluarga yang lain akan tahu.
Diko bersumpah akan mencari otak dibalik ini semua dan tak akan melepaskannya. Kalau memang Dira yang merencanakan ini, apakah setega itu ia dengan saudara sepupunya sendiri. Dan kalau memang benar Dira, Diko tak akan melepaskannya dan tak akan mengasihaninya. Ia tak peduli walaupun jika seluruh keluarga Riana memohon padanya. Ia yang tahu penderitaan istrinya, ia yang mendampingi bagaimana Riana berjuang untuk keluar dari kondisi psikisnya yang buruk.
Dengan geram, di ambilnya ponsel yang berada di saku kemejanya. Dengan yakin ia mencari kontak Dira yang sudah di ambilnya dari ponsel Riana beberapa waktu lalu. Kini ia tak peduli sekalipun keluarga Riana mengetahui tentang kasus ini, saat ini ia hanya memikirkan tentang istrinya.
"Ini aku, Diko. Aku perlu bicara" jawab Diko tegas lalu ia meminggirkan mobilnya sejenak.
"Oh haii Mas Diko. Akhirnya menghubungi aku, benarkan dugaanku dulu. Kamu pasti akan mengambil kontakku di handphone Riana pada waktunya" ucap Dira dengan tawa khasnya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin berbasa basi. Apakah kamu kenal dengan laki-laki bernama Riko, dia berbadan tinggi besar, rambut lurus, dan punya tato elang di lengan sebelah kanan? Aku mohon jawab dengan jujur Dira!" tanya Diko dengan emosi yang berusaha di redamnya.
"Tunggu dulu, tunggu. Ini maksudnya apa ya?" tanya Dira.
"Jawab!!!" bentak Diko dengan keras dan begitu kasar.
Dira tersentak dan terkejut melihat kemarahan Diko, terlihat dari suaranya yang begitu terbata-bata.
"A..a..aku ga tahu itu siapa, sumpah" ucapnya terdengar ketakutan.
__ADS_1