
Riana tersenyum mendengar ucapan Dira.
"Iya, kerja kantoran memang capek. Tapi sejauh ini aku menikmati" jawab Riana.
"Kamu enak ya kerja nya ga perlu ngantor, ga ada jam kerja juga" ucap Riana basa basi.
Ia tahu Dira ingin pamer bahwa uangnya lebih banyak dari Riana yang kerja kantoran. Bekerja sebagai seorang content creator di instagram atau istilah kerennya yaitu selebram dengan sekitar 2 juta followers membuat Dira mempunyai banyak peluang dalam meraup rupiah dari media sosial.
Biaya satu kali endorsment saja bisa hampir setara dengan satu bulan gaji Riana. Dan dalam sehari Dira bisa mereview lebih dari lima barang endorsment. Tak heran jika mudah baginya membeli barang mewah dan hidup serba dikelilingi kemudahan.
Ditunjang dengan wajah cantik, make up selalu on point, body goals serta style yang selalu aesthetic dan up to date membuat followersnya selalu menanjak tajam.
"Yaa, gitu deh. Makanya aku ga suka kerja kantoran, capek menurutku. Enakan begini, bebas dan hasilnya lebih gede" ucap Dira.
Riana tersenyum dan membathin dalam hati, 'Iya, terus aja Dir. Teruus bandingin aku sama kamu. Aku dengerin sampe kamu puas.'
"Aku bisa jalan-jalan kemanapun, ga perlu harus duduk depan komputer seharian, dan ga harus nunggu weekend dulu baru deh bisa jalan-jalan" ucap Dira sambil tertawa.
Riana kembali menarik nafas panjang.
"Oh iya, calon suami kamu kerja apa?" tanya Dira to the point.
__ADS_1
"Ooh, dia arsitek" jawab Riana.
"Hmmm, kerja satu perusahan sama kamu juga?" tanyanya lagi.
"Ga, dia ada perusahaan sendiri" jawab Riana datar.
"Ooooh gituuu," ucap Dira dengan nada panjang.
"Wah tajir dong, pantes kamu mau di ajak nikah cepet" ucapnya lagi.
"Ga Dir, biasa aja. Aku ga ngitungin hartanya ada berapa." ucap Riana yang mulai kesal.
Dira tersenyum simpul melihat Riana yang mulai kesal. Dari dulu membuat Riana merasa kesal adalah hobbynya.
"Aku ga mampir ya Ri, salam aja sama Budhe. Aku ada urusan soalnya" ucap Dira yang memberhentikan mobilnya di depan teras rumah Budhe Retno.
"Iya, nanti aku sampaikan. Makasih ya Dir. Kalau kamu ga sibuk, hari Rabu datang ya" ucap Riana mengundang Dira seadanya.
"Iya, aku usahakan datang" jawab Dira.
Tak lama kemudian Dira pun berlalu.
__ADS_1
Riana langsung bergegas masuk dan mencari Budhe Retno, karena ia dan Budhe Retno akan mengurus pendaftaran pernikahan ke Kantor Urusan Agama.
Begitu Riana memasuki ruang tamu, Budhe Retno langsung menghambur ke arahnya.
"Ya Allah ndhuuk, udah sampai kamuu?" ucapnya sambil memeluk Riana.
"Iya Budhe, maaf ya aku jadi ngerepotin Budhe karena acaranya mendadak" ucap Riana tak enak hati.
"Ya ampun, ya ga apa-apa tho ndhuk, kamu jangan ngomong gitu. Siapa lagi kalo bukan Budhe yang ngurusi kamu? Kamu ndak boleh ngerasa gitu" jawab Budhe Retno.
"Pokoknya kamu ndak usah pikir macem-macem. Fokus saja ke diri kamu ya" lanjutnya sambil menarik Riana untuk duduk.
"Gedung sudah, catering sekalian dari hotel, pokoknya semua sudah aman. Tenang aja, semuanya diurus sama temennya Budhe, Wedding Organizer yang udah biasa ngurus begini" jelasnya agar Riana tenang.
Riana menggenggam tangan Budhenya itu, "Makasih ya Budhe, aku ga tau kalau ga ada Budhe gimana jadinya" ucap Riana terharu.
"Wis wis ndak usah sedih-sedih. Ini harus jadi moment bahagia. Papa sama Mama kamu pasti bahagia dan seneng liat kamu udah mau jadi istri. Jadi kamu jangan sedih-sedih, harus semangat" ucapnya sambil mengelus tangan keponakannya itu.
Riana tersenyum mendengar ucapan Budhenya itu.
"Iya Budhe, aku mau nyalamin Pakdhe dulu ya" ucap Riana sambil berdiri kemudian melangkah menuju halaman belakang di mana Pakdhe Heri, suami Budhe Retno biasanya duduk sambil melihat tanaman.
__ADS_1
Budhe Retno menghela nafas. Ia menguatkan Riana padahal ia sendiri pun sebenarnya sedih.
"Kasian kamu ndhuk, Papa Mama mu sudah ndak ada saat kamu menikah" gumamnya.