Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 53


__ADS_3

Tiap malam tamu pengajian semakin ramai. Mulai dari para tetangga, kolega, mahasiswa, dan kerabat-kerabat Pak Ridwan memang terkenal ramah dengan siapapun. Maka tak heran, jika banyak yang peduli untuk datang mendoakannya.


"Mas" panggil Riana pada Diko baru saja keluar dari kamar mandi.


"Hmm" jawab Diko sambil menggantungkan handuknya kemudian duduk di pinggir tempat tidur.


"Hmm, maaf ya aku tanya soal ini" ucap Riana pelan.


Diko mengeryitkan dahi menunggu pertanyaan Riana.


"Apa kamu sempat baikan sama Papa setelah malam itu?" tanya Riana berhati-hati.


Diko menggeleng.


Riana memejamkan matanya sambil menghela nafas. Pantas saja Diko sampai sebegitu hancurnya. Pasti ada rasa penyesalan yang besar pada dirinya.


"Tapi ketika di rumah sakit, sebelum akhirnya meninggal Papa sempat sadar sebentar. Saat itu aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan. Papa mengangguk sambil meneteskan air mata, papa juga menggenggam tanganku sampai akhirnya kondisinya makin lemah, kemudian kesadarannya menghilang dan beberapa menit kemudian meninggal" jelas Diko sambil menahan air mata yang mendesak keluar.


Riana cukup lega mendengarnya. Ia pun mengangguk dan tak mau bertanya lebih banyak. Ia takut Diko kembali bersedih.


Riana mengangguk kemudian tersenyum.


Diko tak menyianyiakan kesempatan. Diraihnya tangan Riana.


"Kamu udah maafin aku?" tanya Diko.

__ADS_1


"Belum" jawab Riana tegas.


Terlihat guratan kecewa di wajah Diko


"Maaf Mas, masalah kita tetap harus selesai. Aku tak mau terulang lagi jika tidak di selesaikan" jawab Riana.


Diko menarik nafas panjang.


"Riana, mungkin kata maaf dariku tidaklah cukup. Tapi tolong jangan pergi lagi, jangan tinggalkan aku" ucap Diko sambil memeluk pinggang Riana.


"Rumah tanpamu benar-benar menyiksa. Aku tak sanggup jika harus sendirian di sana" lanjutnya.


"Jadi aku di rumah itu hanya sebagai teman kamu?" tanya Riana sambil melepaskan pelukan Diko.


"Ri, bukan begitu maksudku. Rumah itu tidak hidup, tanpa keberadaan mu" jawab Diko.


"Apa maksud kamu? Aku tidak pernah bermaksud begitu" sanggah Diko cepat.


"Maksudmu soal nafkah bathin dariku?" tanya Diko to the point.


Muka Riana bersemu merah mendengar pertanyaan Diko.


"Bukan, bukan itu maksudku" jawabnya berkelit.


"Kalau soal itu, aku ingin kita berdua melakukannya dengan cinta, tanpa keraguan" ucap Diko.

__ADS_1


"Jadi kamu meragukanku Mas? Apa tidak ada rasa cinta di hatimu setelah kita menikah?" tanya Riana yang semakin kesal mendengar jawaban Diko yang terkesan tak mencintainya.


Diko langsung mendekat ke arah Riana. Ia menarik pinggang Riana dengan paksa. Ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Riana.


Riana memberontak berusaha melepaskan diri. Namun Diko terus saja memegangnya dengan erat dan berusaha mencapai bibir Riana. Riana terus berusaha mendorong tubuh Diko untuk menjauh.


"Apa seperti ini seharusnya yang kita lakukan? Tanpa rasa, dengan paksaan, dan mengandalkan nafsu?" tanya Diko dengan tatapan tajam sambil terus mendekap erat pinggang Riana.


Riana menggeleng.


Diko pun seketika melepaskan Riana, kemudian keluar kamar tanpa sepatah katapun.


Tinggallah Riana yang terdiam seorang diri.


...***...


Keesokan harinya Riana pamit pada Diko untuk pulang ke kos nya untuk mengambil beberapa baju.


"Mas, aku ke kosan dulu ya ambil baju" ucap Riana datar.


"Aku antar pulang ke rumah ya, ambil baju yang ada di rumah aja" ucap Diko cepat.


Riana tahu itu hanya trik Diko saja agar ia pulang ke rumah. Dengan cepat Riana melontarkan alasan.


"Hmm, aku mau ambil pouch make up juga di kosan" jawab Riana memberi alasan.

__ADS_1


"Aku sendiri aja, kamu temenin Mama aja, kasian kalau rumah jadi sepi" lanjut Riana dengan cepat sebelum Diko menawarkan diri untuk mengantarnya.


Akhirnya Diko mengangguk mengizinkan Riana.


__ADS_2