Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 74


__ADS_3

Riana membuka pintu mobil kemudian duduk di samping Diko yang baru saja tiba menjemputnya di kantor. Riana menyalami dan mencium tangan suaminya itu. Diko langsung menarik wajah Riana kemudian mendaratkan bibirnya di kening istrinya itu.


"Tumben, biasanya ga pernah cium-cium kening" ucap Riana menyindir Diko.


"Kan kita udah jadi suami istri beneran" jawab Diko sambil nyengir.


"Terus kemarin-kemarin kita apa? Suami istri jadi-jadian?" tanya Riana kemudian tertawa.


Diko pun turut tertawa sambil mencubit gemas pipi istrinya itu.


"Mas, aku laper. Belum makan siang" rengek Riana.


"Lho, kok bisa sih?" tanya Diko heran.


"Abisnya tadi ada kerjaan dan harus cepet di serahkan, akhirnya aku ga sempet makan" jawabnya dengan memelas.


"Yaudah kita mampir makan dulu aja ya" jawab Diko sambil memelankan laju mobilnya melihat-lihat tempat untuk disinggahi.


Setelah mendapat sebuah tempat yang sepertinya enak dan nyaman, mereka berdua turun dan masuk ke dalam tempat makan tersebut.


Riana langsung memesan chicken katsu dan nasi yang ia rasa akan mengenyangkan perutnya. Begitu makanan datang, ia langsung melahapnya tanpa basa-basi.


Diko yang hanya memesan minuman pun sejak tadi sibuk memperhatikan istrinya yang sedang makan tersebut.


"Kenapa sih Mas, kok senyum-senyum?" tanya Riana yang sadar Diko memperhatikannya.


"Ga apa-apa. Senang aja kalau liat kamu lagi happy begini" jawabnya


Riana memandang heran suaminya itu.

__ADS_1


"Lagi makan aja kamu tu cantik banget" ucap Diko yang membuat pipi Riana bersemu merah karena malu mendengar pujian suaminya.


"Tuh padahal lagi belepotan, tapi tetep aja cantik" lanjut Diko yang semakin membuat nafsu makan Riana menghilang karena melayang tinggi.


"Kamu ada maunya ya? Kenapa sih tiba-tiba muji-muji?" tanya Riana curiga.


"Kamu tuh prasangkanya jelek terus, suami muji istrinya itu ibadah lho" jawab Diko membela diri.


Riana hanya bisa tersenyum walau dalam hatinya begitu senang karena pujian Diko padanya.


Begitu sampai dirumah, belum lagi sempat Riana menutup pintu rumahnya Diko sudah memeluknya dari belakang kemudian mencium lehernya dengan begitu ganas.


Riana yang kaget kemudian mendorong pintu dengan ujung kakiny agar tertutup dan tak ada orang yang melihat.


"Mas, kita baru sampai rumah lho" ucapnya mengingatkan suaminya itu.


Kemudian ia membalikkan tubuh Riana agar berhadapan. Dipegangnya rahang Riana dengan kedua tangannya dan segera mencium bibir istrinya itu dengan begitu bernafsu.


Riana berusaha mencari celah untuk berbicara.


"Mas, mandi dulu aja yuk. Kan masih bau abis pulang kerja" rayunya agar Diko berhenti.


"Justru aku pengennya gini sayang, wanginya natural dari badan kamu" jawab Diko sambil tersenyum nakal.


Dengan perlahan ditariknya rok yang dikenakan Riana ke atas. Dirabanya paha Riana hingga membuat istrinya itu bergidik.


Riana pun pasrah mengikuti kehendak Diko yang ingin mencoba di berbagai kondisi dan situasi untuk mendapatkan sensasi berbeda.


Begitu tangan Diko meraba area sensitifnya, ia sontak mendesah dan merasakan kakinya menjadi begitu lemas tak berdaya.

__ADS_1


Diko pun membaringkan Riana ke atas sofa. Kemudian dilucutinya pakaiannya dan pakaian Riana satu persatu hingga keduanya tak lagi terhalang apapun.


Riana yang semakin terbakar nafsu pun semakin membiarkan suaminya itu mengeksplore tubuhnya di berbagai penjuru. Diko menikmati wangi tubuh istrinya inci demi inci yang membuat suara erangan penuh kenikmatan dari mulut Riana terdengar semakin jelas.


"Hmmph, Maas, hmmph, aahh" ocehnya seperti hilang kendali.


Tak satupun bagian yang terlewatkan olehnya, ia benar-benar menyukai wangi alami dari tubuh Riana yang makin membuatnya bernafsu.


Melihat Riana yang sudah tak sabar dan mendesah sambil meremas lengan Diko dengan kuat, ia segera mengambil posisi dan menghujamkan juniornya ke area sensitif istrinya dengan bertenaga.


Riana yang kaget namun menikmati adegan tersebut hanya bisa terpejam merasakan detail kenikmatannya yang luar biasa.


Diko lagi-lagi memacu dengan kecepatan tinggi yang membuat keduanya semakin melayang dan mengeluarkan berbagai macam ocehan pertanda nikmat.


"Ahh"


"Ohh"


"Ehh"


Terdengar silih berganti. Semakin kuat dan semakin jelas memenuhi ruang tamu mereka.


Sampai akhirnya terdengar lenguhan panjang dan di akhiri dengan keduanya yang lemas sambil terengah-engah di atas sofa.


Riana tersenyum sambil melihat wajah Diko yang masih tepat berada di atasnya.


Ia mencium bibir Diko lembut dan begitu mesra.


"Kamu luar biasa Mas" bisiknya yang disambut senyuman manis Diko yang merasa bangga atas kemampuan memuaskan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2