
Diko terbangun pagi itu karena Riana menggeliat di dalam pelukannya. Matahari sudah tinggi dan keduanya baru saja terbangun. Tentu saja karena tadi malam keduanya menghabiskan waktu berdua. Bercinta hingga lelah dan mengulangnya hingga keduanya menyerah dan tertidur pulas.
"Kamu udah bangun sayang?" tanya Diko sambil menaikkan selimut yang sedikit terbuka di bahu Riana kemudian mengeratkan pelukannya.
"Hmm" jawab Riana yang berusaha membuka matanya.
Ia semakin meringkuk dalam pelukan suaminya yang nyaman.
"Hari ini kita mau kemana?" tanya Riana yang masih dalam pelukan Diko.
"Hmm, kayaknya di hotel aja lebih enak. Bisa begini seharian" ucapnya sambil tertawa kecil.
Riana mendongak sambil melotot.
"Yaaah, masa gitu. Kalau mau di hotel aja, di Jakarta juga bisa" jawabnya dengan bibir manyun.
Diko terkekeh geli melihat ekspresi istrinya.
"Dih gitu aja ngambek" ucap Diko sambil menjawil hidung istrinya.
__ADS_1
"Abisnya kamu sih" jawab Riana sambil memukul dada suaminya pelan.
"Sayang kamu ingat ga pertama kali kita ketemu pas aku salah kamar waktu itu?" tanya Diko.
Riana memperbaiki posisinya dan berbaring berhadapan dengan Diko.
"Ya ingat lah Mas, itu ga bisa aku lupakan seumur hidupku. Laki-laki yang aku ga kenal entah siapa tiba-tiba tidur bertelanjang dada di sampingku" jawab Riana tersenyum geli.
"Aku juga goblok banget waktu itu kok bisa-bisanya salah kamar. Itu gara-gara aku mabuk berat sepertinya sampai mau jalan aja udah susah banget, apalagi buat fokus" jelas Diko.
"Gara-gara si Rio juga nih, udah tahu temennya mabuk malah ditinggal. Abis kejadian itu aku marah-marah sama dia, sampai kupingnya panas dengar omelan aku" kenang Diko.
"Makanya, mabuk itu tidak ada manfaatnya" jawab Riana.
"Iya sayang, aku kan ga pernah minum minuman keras sejak kita menikah. Waktu itu terakhir kalinya aku mabuk, itu aku sama Rio abis dari pesta bujangnya temanku, pastinya banyak minuman keras di sana. Aku dipaksa sama teman-temanku. Untungnya Rio berinisiatif bawa aku pulang sebelum aku minum makin banyak. Dan malam itu juga ternyata aku bertemu dengan istriku inii" ucap Diko sambil mengecup singkat sudut bibir istrinya.
"Kamu galak banget waktu itu. Marah-marah nuduh aku maling segala. Awalnya jantungku sampai berdegub kencang melihat ada perempuan yang cantik banget pagi itu, tapi begitu liat kamu marah-marah semuanya jadi buyar" jawab Diko sambil mengenang kisah mereka.
Riana tertawa mendengar pernyataan Diko.
__ADS_1
"Kamu juga galak banget, udah tahu salah malah nyolot. Gimana aku ga makin kesal coba. Nyebelin banget" ucap Riana membela diri.
Gantian Diko yang terkikik jahil.
"Laki-laki nyebelin itu sekarang jadi suami kamu" jawab Diko.
"Berarti kita udah pernah tidur bareng sebelum kita nikah dong ya?" tanya Riana sambil tertawa.
"Ah aku jadi menyesal, kenapa malam itu tidak kupeluk aja ya" kenangnya.
Riana langsung mencubit pinggang suaminya hingga Diko mengerang kesakitan.
"Eh, aku masih ingat lho warna dalaman kamu saat itu" ucap Diko lagi.
Wajah Riana bersemu merah karena malu. Ia dengan cepat mengambil bantal dan memukul ke arah Diko yang telah mengusilinya itu.
Diko tertawa terbahak-bahak. Ia puas jika sudah menjahili Riana sampai istrinya itu marah.
Tapi kejahilan-kejahilan itulah yang menjadi bumbu pernikahan mereka agar semakin harmonis.
__ADS_1
DItariknya Riana yang sedang malu ke pelukannya.