
Pagi harinya, Riana tetap menyiapkan segala sesuatu untuk Diko seperti biasa. Ia tetap memasak untuk sarapan dan menyiapkan kopi untuk suaminya.
Setelah sarapan selesai di susun di atas meja makan, Riana mengetuk pintu kamar Diko guna memanggilnya untuk makan.
Tak lama kemudian Diko pun keluar sambil merapikan dasinya. Namun mata Riana menangkap dasi Diko masih belum rapi.
Ia pun pura-pura tak tahu karena gengsinya. Ia tak mau Diko merasa bahwa Riana sudah memaafkannya hanya karena perhatian padanya.
Ditahannya tangannya yang sudah gatal ingin memperbaiki dasi yang merusak pemandangannya itu. Namun ia tetap berpura-pura tak peduli.
Namun lama kelamaan, sambil sarapan otaknya berpikir kemana-mana.
'Kalau orang liat, ntar dikira ga diurusin istrinya lagi, yang malu juga gue' bathinnya.
'Eh tapi nanti dia kegeeran," gumamnya dalam hati.
'Duh tapi emang tinggi sebelah gitu, aneh banget' hati dan logikanya sedang berdebat.
Setelah Diko selesai sarapan, kemudian berdiri.
Dengan memantapkan hati, Riana berdiri kemudian mendekat dan memegang kerah baju Diko. Dibukanya dasi suaminya, dipasangnya ulang sampai kelihatan sempurna.
Sambil Riana memasangkan dasinya, jantung Diko berdegub begitu kencang.
'Duh, kok gue jadi deg-degan gini. Perasaan, dulu ga kayak gini kalau dekat sama Riana, aneh.' bathinnya sambil menelan ludah.
__ADS_1
Begitu selesai, Diko langsung keluar rumah.
Ia langsung standbye bersandar di pintu mobil. Begitu Riana keluar, ia langsung dengan sigap membukakan pintu untuk sang istri.
Riana terheran-heran melihatnya. Tak biasanya Diko memperlakukannya seperti ini. Ia cukup geli dan aneh melihat Diko yang mesam mesem sambil mempersilahkan Riana masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan pun Diko tak henti-hentinya mengumbar senyuman. Sesekali mengajak Riana mengobrol walaupun hanya mendapatkan jawaban ketus. Ia rela, ia ikhlas menunggu sampai Riana bisa bersikap baik padanya suatu hari nanti
Sesampainya di kantor Riana, Diko pun langsung turun dan kembali membukakan pintu untuk istrinya.
Riana langsung salah tingkah karena di parkiran kantornya sedang ramai orang termasuk beberapa karyawan yang dikenalnya.
"Mas, ga perlu sampai dibukain" bisik Riana pada Diko.
"Ga apa-apa dong. Namanya istri, emangnya kenapa? Kamu malu ya?" tanya Diko sambil celingak-celinguk melihat sekitarnya.
"Dih, biarin aja. Kenapa mesti ga enak?" tanya Diko lagi.
"Ah udah ah, kamu mah" jawab Riana kesal dan melangkah pergi.
"Eh eh, sini dulu" panggil Diko sambil melambaikan tangannya.
"Apaan sih Mas?" tanya Riana sambil balik lagi.
"Belum juga salim" ucap Diko sambil menyodorkan tangannya sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Setelah Riana mencium punggung tangannya, ia seraya bergerak hendak mencium kening istrinya. Namun Riana langsung berbalik dan berlalu.
Tinggallah Diko yang masih dengan posisi mulut condong ke depan.
Ia menarik nafas panjang.
'Duh begini ya rasanya jadi bucin tapi tak dianggap' gumamnya dalam hati.
Setelah dilihatnya Riana masuk ke dalam kantor, ia pun masuk ke dalam mobil kemudian melaju menuju kantornya.
Ketika masuk, Riana langsung mendapat tatapan sinis dari Mei yang menunggunya di pintu lift.
"Apaan sih?" tanya Riana sambil mendekat ke sahabatnya itu.
"Bohong lu ya?" tanyanya.
"Bohong apaan?" tanya Riana balik karena tak mengerti maksud Mei.
"Kemarin lu bilang Diko ga cinta sama elu, pake curhat mewek-mewek lagi lu. nah terus itu tadi apa? Pake adegan buka-bukain pintu mobil segala. Udah kayak putri kerajaan aja lu, ga sekalian dianterin pake kuda lu ke kantor?" omel Mei panjang lebar.
Riana langsung tertawa ngakak mendengar ocehan pagi dari sahabatnya itu.
"Masih pagi udah ngomel aja lu, suka-suka gue. Suami kan suami gue. Mau bukain pintu mobil kek, mau bukain bemper mobil sekalian bukan urusan elu" ucap Riana dengan sengaja membuat Mei semakin kesal.
"Oooh, gitu lu sekarang ya. Lagi happy lu bisa ngomong gini. Awas lu ntar kalau nangis-nangis ke gue lagi" balas Mei pura-pura marah.
__ADS_1
"Eh jangan dong, gitu aja ngambek lu. Gue ga bohong, ntar gue ceritain" ucap Riana sambil menarik lengan Mei untuk masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.