
Hai readers semua ❤
Semoga kalian semua dalam keadaan sehat yaa, semoga semuanya masih setia di novel ini.
Sebelumnya, author mohon maaf karena novel ini beberapa hari belakangan macet ga ada update satu episode pun. Seminggu terakhir, author keluar kota dan di sana tidak ada sinyal internet, jadinya author tidak bisa menyerahkan draft untuk update episode selanjutnya. Tapi saat ini, author sudah kembali ke peraduan, dan pastinya akan segera update novel ini.
Sekali lagi author mohon maaf, semoga para readers masih setia menunggu dan mengikuti perjalanan cinta Diko dan Riana ❤
Terima kasih untuk yang selalu setia sama novel ini, yang selalu tanyain, komentar, like, vote, dll. You're really precious guys ❤❤
Selamat membaca..
...***...
Pagi itu sinar matahari menembus jendela kamar dan terpantul pada wajah Riana. Riana tersentak karena tajamnya sinar yang mengenai matanya.
Ia yakin ia kesiangan hari ini. Matanya sangat berat sekali karena tadi malam setelah sampai di rumah, ia berberes barang bawaan mereka dulu sampai pukul 2 dini hari.
Hari ini Diko sudah masuk kerja dan harus segera sarapan. Riana ingin bergegas bangkit dan membantu Bi Yum menyiapkan sarapan.
Dikucek-kuceknya matanya agar rasa berat dan ngantuknya berkurang. Ia harus bangun dan kembali ke rutinitas sehari-harinya setelah seminggu lebih berbulan madu dengan suaminya.
Begitu Riana berhasil membuka matanya dan terduduk, ia mendapati Diko tidak ada di sebelahnya. Riana mengira Diko sedang di kamar mandi.
Begitu Riana akan bangkit dan berdiri, tiba-tiba Diko datang dari luar kamar sudah dengan pakaian kerja lengkap sambil membawa baki berisi sepiring nasi goreng dengan telur matasapi kesukaan Riana di atasnya, dan dua buah sosis panggang tertata manis di sampingnya, serta segelas susu segar yang membuat Riana ingin segera meneguknya.
__ADS_1
"Stop! Jangan kemana-mana" ucap Diko spontan agar Riana tak bergerak.
Riana kaget dan mengeryitkan dahinya heran.
"Kamu sarapannya di kamar aja ya sayang" ucap Diko sambil meletakkan baki yang dibawanya ke atas nakas di samping Riana.
"Aku udah bawain sarapan kesukaan kamu. Walaupun Bi Yum yang masak, aku cuma bantu bawain aja" lanjut Diko sambil terkikik.
"Kenapa aku ga boleh sarapan di meja makan aja sayang? Terus juga kenapa kamu repot-repot begini? Memangnya aku lagi sakit? Aku sehat begini lho" tanya Riana penasaran.
Diko tersenyum mendengar pertanyaan Riana yang tak habis-habis.
"Sayangkuuu, kamu itu harus banyak istirahat, jangan capek dan jangan banyak aktifitas, harus makan makanan yang bergizi" jawab Diko sambil membelai puncak kepala Riana dengan lembut.
"Memangnya kenapa?" tanya Riana lagi karena tak puas dengan jawaban Diko.
"Pembuahan?" tanya Riana tertawa geli.
"Ya kan aku harus pakai bahasa yang sopan kan sayang. Masa aku bilang kalau seminggu kemarin kita udah ber..." belum selesai Diko dengan kalimatnya, Riana sudah menyela.
"Stop! Iya iya aku sudah paham ga perlu di jelaskan dengan kalimat lain" ucap Riana sambil berusana menutup mulut Diko.
"Tapi Mas, masa ke meja makan aja aku ga boleh? Masa harus makan di kamar?" rengek Riana.
"Pokoknya selama bisa ga banyak gerak, jangan ngapa-ngapain dulu" ucap Diko dengan tegas.
__ADS_1
"Bosen dong Mas, masa ga boleh ngapa-ngapain?" rengek Riana berusaha mengubah pikiran suaminya.
"Kali ini nurut, jangan banyak membantah" titah Diko seperti tak boleh disela.
"Mas, ini aku belum hamil aja udah ga boleh ini itu. Gimana kalau aku udah hamil?" ucap Riana sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Kalau nanti kamu hamil, aku gendong kemana-mana" jawab Diko sekenanya.
"Ga mauu, emangnya aku anak kecil?" rajuk Riana.
"Nah, makanya nurut aja ga usah membantah" ucap Diko sekali lagi.
"Sayaaang, ini demi kita, please nurut yaa. Sebisa mungkin banyak istirahat. Jangan kemana-mana dulu. Kalau butuh apa-apa panggil Bi Yum aja" ucap Diko sambil mendekati Riana.
Riana mengangguk pasrah walaupun hatinya masih merasa berat.
Bi Yum yang kebetulan lewat dan melihat dari depan pintu kamar hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat kedua majikannya itu.
Diko melirik jam tangannya kemudian tersentak.
"Sayang aku harus ke kantor, kamu makan ya, harus habis dan ga boleh tersisa" ucap Diko sambil mengecup mesra kening Riana.
Begitu Diko berlalu, Bi Yum masuk ke dalam kamar Riana.
"Jangan marah ya Bu sama saya. Soalnya Pak Diko yang maksa mau bawain sarapan ke kamar" aku Bi Yum.
__ADS_1
Riana hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Dinikmati aja Bu, tujuan Bapak itu baik" ucap Bi Yum berusaha menenangngkan.