
"Siang Ri, sudah lama menunggu ya?" tanya Pak Ridwan sopan.
Riana hanya tersenyum dan berdiri menyalami Pak Ridwan.
Terlihat olehnya lelaki yang berada di belakang Pak Ridwan itu menunjukkan ekspresi kaget melihat Riana. Ia tak menyangka bahwa wanita yang ingin diperkenalkan oleh ayahnya adalah Riana. Terlihat wajahnya yang panik dan malu.
"Dik, ayo sini," ajak Pak Ridwan.
Anak lelakinya itu langsung memasang senyum palsunya guna menyembunyikan rasa kaget.
"Iya Pa," jawabnya menurut sambil maju dan menarik kursi tepat di depan Riana.
Mereka duduk bertiga dengan rasa canggung yang luar biasa. "Ayo Dik, salaman dulu dong," ucap Pak Ridwan sambil menyenggol lengan Diko.
Diko mengulurkan tangannya mengajak Riana bersalaman. Memang dari awal bertemu saat kejadian itu mereka belum sempat berkenalan.
"Diko," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
Riana mengulurkan tangannya menyambut tangan Diko sambil tersenyum sopan.
"Riana," jawabnya singkat.
Melihat putranya dan Riana saling bersalaman, Pak Ridwan tersenyum lebar. Terlihat raut wajah bahagia terpancar di sana. Besar harapannya Diko bisa segera menemukan tambatan hatinya. Dan entah kenapa ia yakin bahwa Riana adalah wanita baik yang cocok untuk anaknya.
"Nah, Riana, ini Diko anak pertama saya. Diko ini anak laki-laki saya satu-satunya. Ia hanya mempunyai satu adik perempuan," jelas Pak Ridwan pada Riana.
"Untuk lebih detailnya, nanti Diko saja yang cerita ya," lanjutnya.
Riana tersenyum sopan menanggapi ucapan Pak Ridwan.
"Iya Pa," ucap Diko sambil tersenyum canggung.
"Yasudah kalau begitu papa pamit dulu ya, kalian silahkan lanjutkan ngobrol-ngobrolnya," ujar Pak Ridwan sambil berdiri.
"Lho, Bapak mau kemana? Ada acara ya Pak?" tanya Riana yang terkejut melihat Pak Ridwan yang tiba-tiba mau pergi meninggalkan dirinya berduaan dg anak laki-lakinya ini.
__ADS_1
"Maaf ya saya tidak bisa menemani kalian, silahkan kalian lanjutkan berdua ya biar lebih santai. Saya kebetulan ada kewajiban untuk membuka acara yayasan di Hotel Grand Harmoni siang ini," jawabnya sambil bersiap untuk pergi.
"Oke papa jalan dulu ya Dik, kamu baik-baik sama Riana ya," ucapnya sambil menepuk pundak Diko dan pergi meninggalkan cafe.
Jantung Riana berdegub kencang, ia gugup harus ngobrol apa dengan lelaki ini. Dari mukanya saja sudah terlihat dingin. Apalagi kalau ingat kejadian tempo hari, dia yang salah kamar eh dia yang marah-marah ke Riana. Apalagi sekarang melihat ekspresi Diko yang tetap senyap tanpa suara, duduk sambil menyilangkan tangan di dada membuat Riana ingin pulang saja.
"Ehemmm," ucap Riana memecah keheningan.
Dikopun merubah posisi duduknya lebih dekat dengan meja dan fokus melihat Riana. Riana yang dilihat begitu seketika menjadi salah tingkah.
'Dih apaan sih ni cowok, malah ngeliatin,' bathinnya sambil menarik tubuhnya menjauh sedikit.
"Sekarang, kalau kamu mau pergi ga apa-apa. Nanti aku bisa bilang sama Pak Ridwan kalau kita sudah kenalan," ucap Riana yang mencoba demokratis. Ia tak ingin Diko berkenalan dengan dirinya karena terpaksa.
Diko terdiam sejenak mencerna omongan Riana.
"Hmmm, sepertinya aku ga punya alasan untuk ga melanjutkan perkenalan ini," jawabnya sambil mencoba tersenyum ramah.
__ADS_1
"Atau kamu yang keberatan?" tanya Diko pada Riana.