
Keduanya ternyata masih ingat dimana ruangan Pramudya. Tak butuh waktu lama Riana dan Diko sudah berada di depan pintu ruangan yang mereka tuju.
Meja sekretarisnya terlihat kosong. Mereka memutuskan untuk langsung mengetuk pintu ruangan dan masuk.
Saat melihat Riana masuk ke dalam ruangannya, Pramudya terlihat begitu sumringah.
Namun saat terlihat Diko ikut muncul di belakangnya, wajah Pramudya langsung berubah.
Riana berusaha tersenyum dan menunjukkan wajah senatural mungkin. Diko tetap konsisten dengan wajah dinginnya. Ia tetap harus berusaha tenang sesuai janjinya pada Riana, bahwa hari ini ia tidak boleh emosi.
"Silahkan duduk" ucap Pramudya sambil mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya, sofa tempat ia membaringkan Riana saat pingsan waktu itu.
Pramudya merasa seperti terdakwa yang akan di sidang. Ia sangat grogi hingga berkeringat dingin.
"Begini, maksud kedatangan kami berdua ke sini hanya ingin menyampaikan sesuatu. Tapi sebelumnya kami minta maaf karena sudah mengganggu waktunya" ucap Riana membuka obrolan.
"Sama sekali tidak mengganggu" jawab Pramudya.
"Ini terkait bingkisan yang kamu kirim ke rumah kami" ucap Riana.
Terlihat raut wajah Pramudya seketika berubah.
__ADS_1
"Aku sudah menceritakan pada suamiku tentang apa yang pernah ada di antara kita di masalalu, dan dengan datangnya bingkisan itu, jujur membuat kami tidak nyaman" jelas Riana.
"Apa maksud anda mengirimi istri saya bingkisan tersebut?" tanya Diko to the point.
Pramudya sedikit kaget mendengar ucapan Diko yang tak pakai basa-basi.
"Maaf sebelumnya kalau telah membuat kalian tidak nyaman" jawab Pramudya.
"Apa maksud anda mengirimi istri saya bingkisan tersebut?" ulang Diko dengan penekanan.
Riana yang takut Diko tersulut emosi terlihat mengelus punggung tangan Diko.
"Harus sampai dua kali?" tanya Diko telak.
Pramudya makin terlihat grogi.
"Maaf, sekali lagi maaf kalau kalian tidak berkenan. Saat itu saya kebetulan ke satu toko dan melihat ada kue kesukaan Riana" jawab Pramudya.
"That's not your bussiness anymore. Itu bukan lagi menjadi urusan anda" jawab Diko berusaha tenang.
"Ya, saya tahu itu. Saya hanya teringat saja. Maaf sekali lagi" jawabnya.
__ADS_1
"Pram" ucap Riana.
"Apa yang ada di masalalu, biarkan di masalalu. Sekecil apapun itu, tak perlu di bawa hingga saat ini" ucap Riana.
"Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara aku dan suamiku karena hal ini" lanjut Riana.
"Satu hal lagi, tolong perlihatkan saya cctv hari di mana istri saya pingsan. Saya ingin lihat kronologinya, karena ini menyangkut keselamatan istri dan anak saya" pinta Diko.
Wajah Pramudya mendadak pucat. Keringat dingin mengalir dan membuatnya semakin salah tingkah.
"Hmm, ituu, Riana pasti masih ingat kejadian saat itu. Ya kan Ri? " tanya Pramudya pada Riana.
"Saat menjelang pingsan aku tidak terlalu mengingatnya" jawab Riana jujur.
"Saya hanya ingin melihat, setelah memastikan semuanya aman, kami akan pergi" ucap Diko.
"Hmm bukan begitu maksud saya. Hmm, untuk membuka file cctv pastinya ada prosedur, tidak bisa sembarangan diperlihatkan" ucap Pramudya.
"Tapi ini bukan untuk melihat rahasia orang lain. Yang ingin saya lihat yaitu istri saya sendiri, saya ingin memastikan istri saya aman karena kondisinya yang sedang hamil. Memastikan bagian tubuh mana yang terbentur, dan lain-lain. Saya rasa itu alasan yang kuat" jawab Diko.
Pramudya masih terlihat Diam tak bergeming.
__ADS_1