
Malam itu Riana tidur memunggungi Diko. Ia sengaja berusaha tidur cepat untuk menghindari pertanyaan suaminya. Namun hingga saat ini matanya tak juga kunjung mau terpejam.
"Ri, kamu udah tidur?" tanya Diko pelan.
Riana menghela nafas,
'Duh, akhirnya tiba juga saatnya Mas Diko nanya lagi soal itu'
Riana senyap pura-pura tidur.
"Riana" panggil Diko sekali lagi dengan lebih keras.
"Hmmm" sahut Riana dengan suara ala orang yang sedang tidur.
"Kamu udah tidur ya?" tanya Diko lagi.
"Iyaa" jawab Riana pura-pura.
"Kenapa sih Ri kamu selalu menghindar dari aku?" tanya Diko.
__ADS_1
"Setiap kali aku mau bahas ini, kamu selalu aja kelihatannya ga suka" lanjutnya.
"Kamu belum bisa ya percaya sama aku?" tanya Diko sambil berbalik badan melihat punggung istrinya.
"Aku harus apa biar kamu bisa percaya? Aku sudah ganti nomor Hp sejak setelah rehab, aku sudah tidak pernah kontak dengan teman-temanku dulu" jelas Diko.
"Termasuk dengan wanita yang pernah kamu tiduri?" tanya Riana sambil membalikkan badan berhadapan dengan Diko.
"Sumpah Ri, aku tidak pernah lagi berhubungan via Hp ataupun bertemu langsung dengan mereka" jawab Diko penuh keyakinan.
"Kamu bisa cek Hp aku kapanpun kamu mau. Aku akan kenalin kamu ke teman-temanku yang sekarang, biar kamu percaya" lanjutnya sambil menyodorkan Hpnya pada Riana.
Riana masih diam tak bisa memberikan jawaban.
"Kamu sayang sama aku?" tanya Diko sebagai pertanyaan pamungkas yang cukup membuat Riana kelabakan.
"Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Riana balik.
"Kalau kamu punya perasaan sayang ke aku, aku mohon kamu kasih aku kesempatan untuk membuktikan semuanya. Aku ga bisa janji kalau hubungan ini akan mulus-mulus saja, tapi aku janji aku akan melakukan yang terbaik untuk kita" ucap Diko berjanji.
__ADS_1
Air mata Riana mulai meleleh. Ia sedih saat mengingat waktu awal menikah dulu, hatinya sakit kalau ingat sikap Diko padanya.
"Aku takut Mas" ucapnya pelan.
"Kamu takut apa?" tanya Diko penasaran.
"Aku takut setelah aku berikan semuanya, kamu kembali berubah seperti dulu saat kita awal menikah. Aku juga takut ada masalalu yang masih membayang-bayangi kamu. Aku tahu kehadiranku di kehidupan kamu cukup mendadak, masih banyak yang aku ga tahu dari diri kamu" jelas Riana dengan genangan air mata yang terus menetes.
Diko beringsut mendekat. Ditariknya kepala Riana ke lengannya. Tak ada penolakan.
Dihapusnya air mata istrinya itu.
"Aku janji, aku ga akan pernah berubah seperti dulu. Cukup itu menjadi masalalu hubungan kita yang tak usah diingat lagi, beri aku kesempatan untuk memberikan memori yang indah untuk kamu kenang daripada masa-masa itu" ucap Diko.
"Satu lagi, saat ini dan aku harap selamanya, kamu adalah satu-satunya untuk aku. Aku sudah lelah Ri dengan kenakalanku di masalalu, aku ingin seperti orang normal. Punya keluarga yang bahagia, punya hubungan yang harmonis dengan istrinya. Aku ingin kehidupan yang seperti itu, bukan seperti dulu. Tak ada sedikitpun niatku untuk kembali seperti dulu" lanjut Diko sambil membelai rambut Riana dengan lembut.
Riana membenamkan wajahnya ke dada Diko tanpa menjawab sepatah kata pun. Dalam hatinya hanya bisa berharap Diko bisa benar-benar mewujudkan kata-katanya.
Diko paham Riana masih perlu waktu untuk benar-benar percaya padanya.
__ADS_1
Dipeluknya istrinya itu sampai keduanya tertidur.