
Riana keluar dari kamar mandi dengan perlahan. Ia tak sanggup jika harus melihat wajah kecewa Diko. Diko pasti sangat kecewa dan merasa di tolak olehnya.
Dilihatnya Diko sudah berada di tempat tidur, dengan posisi membelakanginya. Dengan perlahan ia naik dan berbaring di sebelah Diko.
Ingin rasanya dipeluknya tubuh Diko untuk meminta maaf. Ia merasa bersalah telah membuat Diko kecewa.
Ia tahu Diko tadi sedang terbakar nafsu, namun Diko harus meredamnya kembali karena ia menolaknya. Tak hentinya ia mengutuk dirinya sendiri.
Diberanikannya untuk buka suara.
"Mas, maaf kalau aku tadi tiba-tiba menyudahi begitu saja" ucapnya dengan hati-hati.
"Aku tahu kamu kecewa sama aku. Aku tidak bermaksud untuk..." ucap Riana tersendat.
"Hmm, maksudku. Aku cuma.." lanjutnya masih terbata-bata.
"Aku hanya perlu meyakinkan diri" ucapnya lagi.
__ADS_1
Diko langsung berbalik, memandang Riana.
"Aku ngerti mungkin kamu belum siap untuk ini" jawab Diko sambil mencoba tersenyum.
"Mungkin aku terlalu terburu-buru. Maafkan aku kalau aku membuat kamu jadi ga nyaman" lanjut Diko berusaha tenang.
Namun Riana tahu, ia bisa melihat ada sudut kekecewaan yang Diko tahan saat itu.
Di ambilnya tangan Diko, digenggamnya kemudian ditaruhnya di pipinya. Kemudian dibelainya pipi Diko dengan penuh rasa sayang.
Dirabanya bibir Diko dengan lembut. Di sentuhnya bibir yang begitu nikmat yang tadi telah dirasakannya. Bibir yang bisa membuatnya seolah lupa diri. Ciuman yang membuatnya begitu melayang dan tak ingin terlepas.
Riana mendekat ke arah Diko perlahan, dengan mantap dan tanpa berbasa-basi ia mengecup bibir suaminya itu dengan begitu lembut. Diko cukup terkejut melihat inisiatif Riana itu, inisiatif yang kembali memancing birahinya untuk hadir dan menguasainya.
Ia anggap kecupan Riana ini adalah pertanda bahwa Riana telah siap untuk ia sentuh, untuk ia berikan nafkah secara bathin. Dengan sigap ia membalas ciuman Riana dengan menggebu-gebu.
Dipegangnya rahang Riana dengan lembut sambil terus melu*at dengan begitu mesranya seakan takut Riana kembali menolak dan pergi. Kali ini tangan Riana gantian menjadi begitu aktif meremas punggung Diko yang bidang.
__ADS_1
Tanpa aba-aba tangan Diko menaikkan baju atasan yang dikenakan Riana. Ingin rasanya langsung merasakan sentuhan tanpa terhalang apapun.
Ia langsung meraba payu*ara Riana yang sejak tadi sudah menantangnya. Diremasnya dengan begitu lembut hingga terdengar erangan kecil dari mulut Riana yang sedang menikmati sensasinya.
Tanpa bisa ditahan lagi, Diko mengambil posisi di atas kemudian membuka baju atasan serta bra yang saat itu digunakan istrinya. Terlihat jelas dua gundukan penuh sedang memanggilnya seolah meminta untuk segera dinikmati.
Dilu*atnya dengan lembut, diji*atnya sambil sesekali menggigit pelan. Hingga Riana tak sanggup lagi menahan desahan yang keluar dari mulutnya. Dilepaskannya suara erangan-erangan yang semakin membuat Diko menggila.
"Hmmmph, Maas" ucapnya seperti sedang kehilangan kendali.
Diko terus bergerilya memainkan area payu*ara Riana yang begitu bulat dan padat. Ia habiskan hingga tak tersisa. Entah berapa buah kissmark yang telah di ciptakannya di sana.
Puas bermain-main dengan kedua bola kenyal milik Riana, Diko dengan perlahan melepaskan pakaian yang masih tersisa ditubuh Riana. Dilucutinya satu persatu hingga tak sehelai benang pun menutupi tubuh istrinya.
Kini keduanya telah polos tanpa mengenakan apa pun. Tiada lagi penghalang antara keduanya.
Dilihatnya tubuh indah Riana dengan seksama. Inilah tubuh yang beberapa waktu terakhir membuatnya hampir gila karena menahan nafsunya. Malam ini akan ia nikmati dan tak akan diberinya ampun hingga ia puas.
__ADS_1
Riana pun melihat sebuah benda yang menempel antara kedua kaki Diko yang sudah siap untuk berperang. Terlihat sudah begitu kokoh dan menantang. Baru sekali ini ia melihatnya, ternyata begitu menarik dan membuatnya penasaran.