Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 84


__ADS_3

"Yaudah aku langsung balik ke kantor aja ya Mas" ucap Riana sambil berniat turun dari mobil Diko yang baru saja sampai di pelataran parkir kantornya.


Namun Diko dengan cepat menarik tubuh Riana dan mengecup bibir istrinya itu dengam begitu syahdu.


"Mas, nanti aja ya di rumah kita lanjutkan, udah sore" ujarnya sambil berusaha melepaskan diri.


Diko menggeleng seperti anak kecil yang sedang merengek.


"Apa masih kurang yang tadi?" tanya Riana.


Diko mengangguk sambil tersenyum nakal.


Riana menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir.


"Kamu minum obat kuat ya?" selidik Riana penuh kecurigaan.


"Dih, enak aja" sangkal Diko tak terima.


"Aku itu strongnya alami" jawabnya lagi.


Riana tersenyum mengejek.


"Ga percaya?" tanya Diko penuh penekanan.


"Percaya sayangkuu, percaya" jawab Riana sambil mencubit pipi suaminya gemas.

__ADS_1


"Yaudah aku balik ke kantor dulu yaa, sampai ketemu di rumah" ucapnya lagi sambil mengecup pipi Diko mesra kemudian keluar dan menuju tempat dimana mobilnya terparkir.


...***...


Beberapa minggu kemudian..


Riana keluar dari kamar mandi dengan muka pucat. Ia merasa tak enak badan hari ini.


Berhubung ibu mertuanya sedang pergi mengunjungi Tia, weekend ini ia dan Diko hanya di rumah saja.


"Kita ke dokter aja yuk sayang" saran Diko melihat Riana yang lemas.


"Coba liat dulu sampai siang ini Mas, mana tau nanti mendingan" jawab Riana.


Ia merasakan seperti mulas sejak bangun tidur tadi pagi. Namun berkali-kali ditungguinya di toilet, tetap saja ia tidak buang air besar. Kepalanya pusing seperti berputar-putar, dan badannya terasa lemas.


"Hah?! aku belum telat haid kok sayang" jawabnya sambil meringkuk mencari posisi nyaman.


"Ya mana tau kan, bisa jadi" ucap Diko sambil mendekat ke arah Riana.


Riana terlihat berpikir.


'Apa iya aku hamil?' tanyanya dalam hati.


"Jangan-jangan sudah ada bayi kita di dalam sini" ucap Diko sambil mengelus perut Riana.

__ADS_1


"Ah masa sih Mas, kayaknya ga deh. Aku rasa ini masuk angin biasa" jawab Riana yang tak yakin.


"Lha kita bikinnya hampir tiap hari, bisa jadi kan sayang" ucap Diko sambil tersenyum sumringah.


Riana pun tersenyum membayangkan kalau memang sudah ada makhluk hidup di rahimnya tanda buah cintanya bersama Diko kemudian ikut mengelus perutnya.


"Duh, aku jadi ga sabar niih mau ngerawat ibu hamil" ucap Diko gemas.


"Mudah-mudahan memang benar ya Mas. Aku rela ga apa-apa sakit begini kalau memang benar" ucap Riana.


"Apa kita langsung ke dokter kandungan aja buat ngecek langsung?" tanya Diko penuh semangat.


"Jangan Mas, kan belum pasti. Kita harus tahu hasilnya dulu baru abis itu memastikan ke dokter" jawab Riana.


"Ooh begitu ya" jawab Diko sambil cengengesan.


Riana berdiri menuju lemari pakaiannya. Dibukanya kemudian diambilnya sesuatu yang ada di sela-sela baju. Kemudian dibawanya ke dekat Diko.


Diko melihat Riana membawa sesuatu berwarna biru yang bertuliskan SENSI*IF. Diko mengeryitkan dahinya sambil membaca keterangan yang ada di bungkusnya.


Kemudian barulah ia tahu ternyata benda itu adalah sebuah testpack untuk mengecek kehamilan. Ternyata Riana sudah mempersiapkannya untuk sewaktu-waktu diperlukan.


"Aku ga sabar mau tahu hasilnya" ucap Diko tak sabaran.


"Tapi aku takut Mas, aku deg-degan" jawab Riana.

__ADS_1


"Kamu temenin aku ya" ucap Riana sambil menarik lengan Diko menuju toilet.


__ADS_2