
Pagi itu Diko terbangun dari tidurnya. Ia keluar kamar lalu berhenti di area dapur. Diambilnya segelas air kemudian diteguknya dengan perlahan.
Diperhatikannya sekeliling, ia heran kenapa seperti tidak ada aktifitas dirumahnya. Biasanya jam segini Riana sedang sibuk memasak di dapur. Kemudian biasanya ia pun menyambil berberes rumah. Jadi suara-sura denting wajan atau pun barang-barang di rumah ini terdengar jelas memenuhi rumah di pagi hari.
Kemudian ia masuk ke kamar, ia tak juga melihat adanya Riana disana.
'deg'
Hatinya mulai merasa ada yang tak beres. Di ketuknya pintu kamar mandi, tak ada sahutan. Kemudian dibukanya, ternyata kosong.
Diko segera berlari ke ruang tamu, disingkapnya gorden. Kepalanya melongok memeriksa halaman.
Benar saja, mobil Riana tak ada di sana. Diko segera mengambil ponselnya, ia menelepon Riana berkali-kali namun tak ada jawaban.
"Angkat Ri, angkat" gumamnya sambil terus mencoba menghubungi Riana namun tetap tak mendapat jawaban.
'Sejak kapan Riana pergi? Apa baru saja?Apa ia ada urusan sehingga harus pergi pagi-pagi? Ataukah ia pergi karena pertengkaran tadi malam?' tanyanya dalam hati sambil terus berpikir.
Diliriknya jam dinding yang tergantung di ruang tamu, kemudian ia buru-buru menuju kamar mandi dan berniat untuk siap-siap ke kantor.
__ADS_1
Sesampainya di kamar mandi, dilihatnya kotak peralatan mandi Riana yang kosong. Hatinya kembali tak karuan, sepertinya sudah fix Riana pergi dari rumah.
'Apa kata-katanya tadi malam benar-benar telah menyakiti hati Riana?' tanyanya dalam hati walaupun ia sudah tahu jawabannya adalah iya.
Setelah berpakaian, ia segera menuju ruang kerjanya untuk mengambil tas laptopnya. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada secarik kertas kecil. Kertas itu adalah kertas yang di tulis Riana tadi malam sebelum pergi meninggalkan rumah.
Diko mengambil kertas tersebut, dibacanya kata perkata dengan seksama. Kemudian diremasnya dan dilemparkannya ke sembarang arah dengan perasaan kesal.
Setengah berlari ia menuju mobilnya dan dikemudikannya dengan kecepatan tinggi menuju kos Riana. Feelingnya mengatakan Riana pasti pergi ke sana.
Selama perjalanan, hatinya makin tak karuan. Ia tak bermaksud untuk membuat Riana pergi dari rumah seperti ini.
"Pak, Riana ada ke sini?" tanyanya berharap menemukan jawaban.
"Iya Pak, sekitar jam setengah dua tadi malam Mbak Riana datang. Tapi baru aja pergi, sepertinya kerja" jawab Pak Giman.
Mendengar jawaban Pak Giman, Diko langsung mengemudikan mobilnya ke kantor Riana. Ia berusaha secepat mungkin untuk tiba di sana.
Sesampainya di sana, ia melihat Riana masuk ke dalam lobby. Kemudian ia cepat-cepat turun untuk memanggil Riana.
__ADS_1
Saat hendak melangkah, tiba-tiba Diko terhenti.
'Bisa malu kalau bertengkar di depan umum' gumam Diko sambil memundurkan langkahmya.
Diko pun langsung masuk ke dalam mobil lagi kemudian pergi ke kantornya. Ia tak mau membuat Riana malu di tempat kerjanya, oleh karena itu ia mengurungkan niatnya untuk menemui Riana pagi ini. Ia berpikir lebih baik nanti ketika pulang kerja saja ia akan menemui Riana.
...***...
Siang itu, Diko duduk di sebuah kursi yang terletak di balkon kantornya.Sambil merokok, pikirannya melayang entah kemana-mana.
Joe mengintip dari balik pintu.
"Dik, lu ngerokok? Tumben," ucap Joe yang keheranan.
Bukannya menjawab, Diko malah terus asik dengan lamunannya.
"Lu lagi ada masalah Dik? Keliatannya lu kacau banget" ujar Joe jujur.
"Riana pergi dari rumah" jawab Diko sambil terus menghembuskan nafas beratnya.
__ADS_1