Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 135


__ADS_3

Diko dan Riana terlihat berlari sambil masing-masing menyeret koper mereka. Waktu untuk check in akan segera habis. Keduanya takut ketinggalan pesawat.


Beruntungnya Diko lumayan hapal seluk beluk bandara sehingga Riana hanya tinggal berlari sambil mengikuti Diko dari belakang.


"Ayo sayang, cepetan" ucap Diko di depan.


Ingin rasanya Riana menoyor kepala Diko sambil berkata "Kita telat juga gara-gara siapaaaa?!".


Namun karena situasi yang sedang hectic, Riana tak menjawab dan hanya bisa terus berlari dan berharap mereka berdua masih bisa mengikuti penerbangan.


Setelah penuh perjuangan akhirnya mereka tiba di depan sebuah mesin untuk memasukkan bagasi mereka. Jika bagasi masih bisa terbuka saat barcode tiket pesawat mereka di-scan, berarti mereka masih bisa ikut penerbangan tersebut.


Dengan perasaan deg-degan Diko men-scan tiketnya dan berharap mesin tersebut masih bisa terbuka.


Begitu melihat mesin tersebut terbuka keduanya langsung lega dan buru-buru memasukkan barang bawaan mereka kemudian kembali berlari-larian menuju gate keberangkatan agar tidak terlambat. Karena jaraknya memang cukup jauh dan memakan waktu jika ditempuh dengan jalan santai.


Diko dan Riana takut jika gate telah ditutup saat mereka tiba. Tidak lucu jika barang-barang bawaan mereka ikut terbang ke Surabaya namun mereka berdua tertinggal.


Beruntungnya lagi, gate keberangkatan mereka belum di buka.


Begitu tiba di hall keberangkatan, Riana langsung menjatuhkan dirinya ke atas kursi. Dengan nafas terengah-engah ia memukul suaminya berkali-kali.

__ADS_1


Diko berusaha mengelak namun ia juga lelah setelah berlari sejak tiba di bandara tadi.


"Maaf sayang" ucap Diko di sela nafasnya yang tersengal-sengal.


"Tapi seru kan lari-larian di bandara gini, udah kayak di film-film" lanjut Diko.


Riana semakin memukuli lengan Diko sambil sesekali mencubitinya.


"Awww sakit" seru Diko sambil menggosok-gosong lengannya untuk mengurangi rasa sakit


"Biariiin, biarin aja sakit. Kamu nyebelin banget" ucap Riana.


"Aku hampir jantungan tau! Kan udah aku bilang waktu kita mepet, kamu masih aja ngeyel" ucap Riana sebal.


"Kamu sih" rajuk Riana kemudian berpaling.


Diko berbisik di telinga Riana.


"Tapi enak kaan?" tanya Diko yang membuat satu cubitan dari Riana mendarat telak di pinggangnya.


Diko mengaduh kesakitan. Namun ia hanya bisa pasrah karena memang benar semua ini karena ulahnya.

__ADS_1


Ia tidak menyangka akan setelat ini. Ia yang berniat sebentar ternyata tak bisa memenuhi janji dan niatnya. Mereka menghabiskan waktu cukup lama tadi pagi sebagai penutupan bulan madu mereka di Jepang.


...***...


Mereka mendarat di Bandara Internasional Juanda, Surabaya sekitar pukul 8 malam. Bintang telah sampai dan menunggu keduanya.


Budhe Retno menugaskannya untuk menjemput Diko dan Riana. Malam itu keduanya sedang ditunggu untuk acara makan malam keluarga di kediaman Budhe Retno.


Ketika tiba di sana, Riana dan Budhe Retno langsung berpelukan erat untuk melepas rindu satu sama lain.


"Ya Allah gustii, Budhe kangen banget ndhuk" ucap Budhe Retno.


"Iya Budhe, aku juga kangen banget sama Budhe" jawab Riana.


Setelah selesai keduanya berpelukan, Riana bergantian berpelukan dengan tante Risna dan sepupunya yang lain.


Namun saat menyalami saudaranya sati persatu Riana melihat pemandangan yang cukup aneh. Ada Dira di sana.


Tidak biasanya ia mau ikut acara makan malam seperti ini, ia tidak tertarik dengan acara keluarga yang membosankan baginya.


Dira sontak berdiri kemudian memeluk Riana dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2