
Setelah mereka cukup lama mengobrol ngalor ngidul, Tia mulai menyenggol kaki Diko guna untuk memberi kode. Diko pun mengangguk.
"Pa, Ma, kita berdua mau ngomong. Penting" ucap Diko membuka obrolan.
"Ada apa? Kok kayaknya penting banget" tanya Pak Ridwan.
"Iya, ada apa sih? Jangan bikin mama deg-degan gini deh" sahut Bu Hesti.
"Gini Ma, Pa.. Tia baru dapat kabar kalau Reza ga jadi pindah tugas bulan depan, melainkan dua minggu lagi" ucap Diko lancar.
"Wah berarti pernikahannya harus dimajukan dong. Sekitar 10 hari lagi dari sekarang mungkin bisa" jawab Pak Ridwan memberi solusi.
"Nah, masalahnya kita kan harus fokus ngurusin nikahannya Tia. Bagaimana kalau aku nikahnya belakangan aja Pa, Ma? Aku ga apa-apa dilangkahin Tia" jelas Diko.
"Lha kalau nikah itu yang penting sahnya, yang penting sakral dan lancar. Tidak perlu yang ribet-ribet segala. Kalau untuk persiapan itu tidak masalah, Papa yakin banyak gedung dan catering yang bisa menghandle semuanya. Kami masih bisa mengurusi dua pernikahan kalian" jawab Pak Ridwan santai.
__ADS_1
Diko menyenggol kaki Tia, isyarat menyuruh Tia menyelamatkannya.
"Hmm Pa, Mas Diko kan belum siap kalau harus menikah secepat itu" ujar Tia memelas pada ayahnya.
"Memangnya kamu sama Riana belum ada progresnya juga udah satu bulan ini? Belum ada bertemu lagi sejak hari itu?" tanya Pak Ridwan sambil mengeryitkan dahi.
"Hmm, ada Pa. Cuma kan ga bisa secepat itu juga Pa kalau untuk nikah. Apalagi kita berdua belum sama-sama yakin" jawab Diko.
"Ah Papa sama Mama menikah 3 hari setelah dikenalin. Alhamdulillah udah lebih dari 30 tahun masih saling sayang, masih saling bertanggung jawab. Ya kan Ma?" ucap Pak Ridwan kemudian menoleh minta persetujuan istrinya.
Diko hanya bisa terdiam mendengar jawaban orang tuanya. Sepertinya ia tidak berhasil meminta untuk mengulur waktu lagi.
"Kamu jangan bilang Papa dan Mama paksa kamu untuk menikah. Kamu sudah janji akan serius mencari jodoh sejak setahun yang lalu saat Tia di lamar Reza. Tapi apa? kamu tidak bisa pegang janji kamu. Kalau masalahnya kamu gagal, mungkin Papa dan Mama bisa mengerti. Tapi kamu bahkan tidak memulainya sama sekali. Sampai akhirnya Papa yang turun tangan mengenalkan kamu sama Riana. Sudah di depan mata pun kamu tidak bisa bergerak cepat Dik? Kamu tunggu apa lagi? Kamu mau cari yang bagaimana? Perasaan menyayangi itu, mencintai itu, bisa dipupuk dan disiram. Kalau dibiarkan saja, ya layu, bahkan mati. Begitulah konsepnya. Dan kalau kamu diam saja tidak bergerak mencoba memupuk dan menyiraminya, sama saja kamu mematikan rasa yang ada dalam diri kamu, makanya kamu tidak bisa membuka hati kamu untuk siapapun." jelas Pak Ridwan panjang lebar.
Diko hanya tertuntuk lesu mendengarkan omongan ayahnya. Ia pun mengutuk dirinya sendiri, kenapa sudah dekat dengan pernikahan Tia ia baru memulai pencariannya.
__ADS_1
"Sudah, Papa dan Mama mendoakan kamu semoga kamu bisa menyelesaikan semua ini" ujar Pak Ridwan sambil menepuk bahu anak sulungnya itu, kemudian berdiri.
"Ayo Ma, katanya mau jalan pagi keliling komplek" ajak Pak Ridwan pada istrinya.
Bu Hesti langsung berdiri mengikuti suaminya dari belakang.
"Oh iya, Tia kamu cepat mandi dan siap-siap. Kita hunting gedung hari ini" tambah Pak Ridwan sambil menoleh pada Tia.
Tia mengangguk.
Tia yang tahu hati kakaknya sedang dirundung kegalauan yang teramat sangat langsung berdiri dan memeluk kakak satu-satunya itu.
Diko membalas pelukan adiknya itu sambil tersenyum.
"Ga apa-apa. Doain Mas ya" ucapnya sambil mengacak rambut adiknya kemudian naik ke lantai dua untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1