
Keesokan harinya, lagi-lagi Diko menunggu Riana pulang dari kantor. Ia tetap ingin berusaha agar Riana pulang ke rumah.
Namun ia tak melihat mobil Riana di sana. Diliriknya jam tangannya, masih menunjukkan pukul 15.50, yang berarti belum lewat jam pulang kantor yaitu jam 16.00.
Diko langsung mencoba menghubungi Riana, namun tak ada jawaban. Ia pun segera mengemudikan mobilnya ke kos Riana.
"Barangkali Riana udah pulang" gumamnya sambil menyetir.
ia berharap Riana sudah melunak hari ini.
Sesampainya di sana, Diko pun tak menemukan mobil Riana di sana. Berdasarkan informasi dari Pak Giman pun, Riana belum pulang.
Hati Diko tak tenang. Ia penasaran ke mana Riana sebenarnya.
Terus dicobanya menelepon ke ponsel Riana, tapi tetap tak ada jawaban. Perasaannya makin tak menentu.
Ia teringat omongan ayahnya kemarin, Diko pun segera menepis pikiran buruknya.
Ia takut benar-benar ada lelaki yang lebih membuat Riana merasa dihargai dibanding dirinya yang telah membuat Riana kecewa.
Tapi buru-buru ditepisnya ketakutan tersebut, ia yakin Riana bukanlah tipe wanita seperti itu.
Hari pun mulai gelap, tapi tak ada tanda-tanda kemunculan Riana.
Diko masih bersabar menunggu. Ia masih berharap Riana akan pulang.
Sampai akhirnya Diko tertidur karena lama menunggu. Mungkin ia kelelahan setelah seharian bekerja.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, pukul 8, pukul 9, tapi Riana belum juga pulang. Sedangkan Diko masih terlelap di dalam mobilnya.
Sekitar pukul 10, Diko terbangun. Ia terperanjat kaget melihat jam yang menunjukkan pukul 10.15.
Ia pun keluar dari mobilnya kemudian menghampiri pos satpam
"Pak, Riana udah pulang? Saya ketiduran tadi" tanya Diko pada Pak Giman.
"Belum Pak, Bu Riana belum ada pulang" jawab Pak Giman yang merasa kasihan dengan Diko yang sudah menunggu sejak sore tadi.
Diko pun kembali ke mobilnya dengan perasaan cemas.
"Kemana sih Ri jam segini belum pulang?" ucapnya sendirian.
Pikiran Diko sudah tak karuan, karena tak biasanya Riana pulang kerja sampai larut malam. Apalagi mobil Riana tak ada di kantor.
Berkali-kali ia melirik jam karena cemas dan gelisah.
Sampai akhirnya ketika jam menunjukkan pukul 11.10 Riana pun pulang. Diko langsung dengan cepat keluar dari mobil dan menghampiri Riana.
Riana yang baru saja keluar dari mobilnya langsung kaget melihat keberadaan Diko di sana.
"Kamu dari mana aja Ri, jam segini baru pulang?" tanya Diko yang tak dapat membendung rasa penasarannya.
"Aku ada urusan kerjaan" jawab Riana.
"Tapi mobil kamu tidak ada di kantor sejak sore" ucap Diko menyelidik.
__ADS_1
"Aku ada kerjaan di luar kantor" jawab Riana lagi.
"Kamu kenapa sih Mas? Kok jadi curigaan gini?" tanya Riana menyindir.
"Aku ini suami kamu Ri, wajar kalau aku mau tahu istriku kemana aja jam segini baru pulang" jawab Diko membela diri.
Riana terdiam dan menghela nafas. Ia malas berkomentar.
"Aku mau masuk" ucap Riana sambil melangkah.
"Ri, Ri, tunggu dulu" ujar Diko sambil menghalangi langkah Riana.
"Apalagi Mas?" tanya Riana kesal.
"Aku minta maaf, aku tahu kamu masih kesal, kecewa dan marah sama aku. Tapi aku mohon, jangan seperti ini. Aku ingin kita selesaikan masalah ini. Aku ingin kamu pulang ke rumah" ucap Diko memelas.
"Maaf Mas, aku belum bisa. Aku tahu kamu masih penuh rahasia, ada yang kamu coba tutupi dari aku. Seharusnya suami istri bukan begitu" jawab Riana menolak.
"Kita ini suami istri Ri, aku ini suami kamu. Bukankah seharusnya kita tinggal satu rumah? Kalau ada masalah harusnya juga kita selesaikan di rumah? Bukan seperti ini" ucap Diko mencoba meyakinkan.
Riana tersenyum sinis.
"Iya, seharusnya memang begitu. Tapi, terhadap suami yang tanpa alasan yang jelas tidak menghargaiku sebagai istri apa tetap bisa dianggap suami istri? Terhadap suami yang tak pernah memberikan nafkah bathin pada istrinya tanpa alasan yang jelas juga apa bisa disebut suami?" ucap Riana dengan geram.
Diko terdiam, membeku. Ia merasa tertonjok telak oleh ucapan Riana barusan. Lidahnya kelu, tak dapat mengucapkan apapun.
Riana berlalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya meninggalkan Diko yang masih terdiam tanpa kata.
__ADS_1