Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 103


__ADS_3

Diko memarkirkan mobilnya di halaman rumah kemudian melirik jam tangannya. Ternyata sudah hampir jam 10.


Kemudian ia masuk dan mendapati ruang tamu dan ruang keluarga yang kosong. Sepertinya semua sudah berada di kamar masing-masing. Namun masih terdengar suara dentingan-dentingan piring, sepertinya Bi Prapti masih berkutat di dapur.


Diko langsung naik ke lantai dua dan membuka pintu kamarnya. Begitu ia masuk ia mendapati istrinya sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil terdiam. Terlihat tangan Riana masih memegang ponselnya.


Bahkan saat Diko masuk ke dalam kamarpun ia tak menoleh sedikitpun.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Diko heran.


Riana tetap diam dan tak bergeming.


"Barusan Dira telepon aku" ucap Riana yang membuat Diko tersentak kaget.


'Sia*an! Padahal sudah aku peringatkan' gumam Diko dalam hati.


"Kamu curiga sama Dira?" tanya Riana datar.

__ADS_1


Diko terdiam sejenak. Kemudian ia meletakkan tas laptopnya di meja kerjanya lalu mendekat dan berdiri di depan istrinya yang masih terduduk di sana.


"Wajar kan kalau aku curiga? Dia yang habis ada konflik sama kamu waktu itu" jawab Diko apa adanya.


"Terus kamu kasih tahu dia apa yang terjadi?" tanya Diko menyelidik.


Riana menggeleng.


Diko menghela nafas lega.


"Jangankan untuk menceritakan, untuk mengingatnya pun aku tidak mau" lanjutnya.


"Saat ini aku selalu berusaha untuk pura-pura lupa dengan kejadian itu. Walaupun hanya pura-pura, tapi itu cukup membuat aku sedikit tenang" ucapnya dengan butiran air mata yang terlihat menetes pertanda ada rasa perih yang sedang ia tahan.


"Aku ga peduli siapa pelakunya, aku ga peduli entah di mana dia sekarang. Semakin aku tahu orang itu, semakin aku mencari tahu motifnya, semakin aku tahu semua kebenarannya, semakin sulit bagiku untuk move on. Karena aku pasti akan sakit hati, memoriku pasti akan mengulang lagi tentang semua detail kejadian itu, dan aku ga siap untuk kenyataan yang akan aku terima Mas" jelas Riana pada Diko yang masih terdiam berdiri di depannya.


"Lebih baik aku tidak tahu apapun. Bisa kan Mas kalau kita jangan urusi hal ini? Serahkan semua ke polisi dan anggap kita tidak pernah melakukan laporan apapun. Kita lupakan sama-sama" ucap Riana dengan nada memohon di iringi suaranya yang sedikit terisak.

__ADS_1


Diko langsung mendekat membelai rambut istrinya. Muncul berton-ton rasa iba di hatinya melihat Riana yang sekuat tenaga ingin keluar dari pengalaman yang begitu pahit yabg ia rasakan.


Masih dengan posisi duduk di tepi tempat tidur, Riana kemudian memeluk pinggang Diko yang berdiri tepat di depannya. Dibenamkannya wajahnya ke perut suaminya tanpa kata-kata.


Diko mengelus kepala istrinya juga tanpa sepatah kata pun. Ia tak mungkin bilang bahwa ia sedikit lagi akan mengetahui siapa pelakunya. Apalagi sampai bercerita bahwa ia menyewa detektif untuk mengusut kasus ini serta mengajukan banding atas putusan hakim.


Berbeda dengan Riana, ia tak bisa membiarkan pelakunya bebas begitu saja sedangkan istrinya jatuh terpuruk seperti ini. Oleh karena itu ia tak berani mengiyakan perkataan Riana tadi. Biarlah ia menjalani semuanya tanpa sepengetahuan Riana untuk kebaikan istrinya.


Ia paham Riana tak ingin lagi mengingat apapun itu yang berkaitan dengan kejadian malam itu.


Dibiarkannya istrinya larut dalam pelukannya sampai benar-benar tenang.


"Jangan sedih lagi ya" ucap Diko singkat.


Riana masih tak bergeming. Masih memeluk suaminya itu dengan erat. Wangi tubuhnya membuatnya nyaman dan merasa aman.


Setelah puas, Riana perlahan melonggarkan pelukannya. Diko langsung mengusap pipi istrinya yang masih basah. Diturunkannya kepalanya, kemudian dikecupnya kening istrinya dengan mesra.

__ADS_1


__ADS_2