Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 57


__ADS_3

Dipeluknya Riana hingga tenang dan tangisannya mereda. Hingga Riana benar-benar tenang dan bisa mengendalikan dirinya.


Diambilnya sebotol air mineral yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Diberikannya pada Riana untuk diminum agar semakin tenang dan lega.


"Makasih ya kamu udah mau maafin aku, nerima kesalahan yang aku perbuat ke kamu" ucap Diko sambil membelai mesra rambut istrinya.


"Hmm, tapi Ri" ucapnya dengan sedikit terbata.


"Ada apa Mas?" tanya Riana penasaran.


"Masih ada sesuatu yang perlu kamu tahu" ujarnya mengawali.


Riana mengeryitkan dahi tak mengerti.

__ADS_1


"Aku merasa harus jujur sama kamu, aku tak mau ada yang disimpan lagi. Aku ingin lega Ri' lanjutnya dengan menatap Riana dalam.


"Sekarang aku lebih siap atas apapun nantinya sikap kamu ke aku. Sekalipun kamu tidak bisa menerimanya, aku akan membuktikan aku sudah berubah, aku sudah jauh lebih baik saat ini" ucap Diko yang semakin membuat Riana bingung.


"Maaf sebelumnya aku baru cerita sekarang, aku baru kasih tau ke kamu sekarang, bahkan setelah baru saja kita memulai semuanya dari awal. Aku tidak berniat merusak semuanya, tapi aku ingin menyelesaikannya satu persatu. Kalau aku menceritakannya tadi sebelum kamu tenang, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi" jelasnya lagi.


"Tapi demi Tuhan Ri, aku sudah berubah, bahkan jauh sebelum kita bertemu" lanjutnya.


"Mas, ada apa ini?" tanya Riana cemas.


"Sekitar empat tahun lalu, ketika perusahaanku sedang baru-baru menanjak aku pernah tenggelam dalam kemaksiatan. Minuman keras, narkoba bahkan wanita jadi hiburan aku di club. Dan itu hampir setiap malam" ucap Diko.


Riana terbelalak tak menyangka. Ia ternganga sambil menutup mulutnya saking tidak percaya. Dilihatnya tubuh Diko atletis, Diko juga smart, sampai saat ini bahkan tak pernah ia melihat Diko memegang minuman keras.

__ADS_1


"Sekali lagi aku tekankan, itu sudah empat tahun lalu" ucap Diko penuh penekanan.


"Itu terjadi sekitar satu tahun lebih, sampai akhirnya ada satu kejadian yang membuat aku sadar dan tanggap untuk segera rehab. Aku di bantu sama Joe untuk rehab, Papa Mama dan Tia ga pernah tahu tentang itu. Ketika aku direhabilitasi sekitar tiga bulan, aku beralasan mengurus pekerjaan di luar kota" akunya lagi.


Lagi-lagi Riana mendelik tak percaya. Ia tak bisa berkata-kata saat ini.


"Kejadian yang membuat aku sadar itu juga sekaligus hal yang membuat aku selalu di bayangi rasa bersalah terhadap kamu. Rasa itu seperti menghantui ketika aku ingin dekat dengan kamu, ingin menyentuh kamu atau bahkan menunjukkan perasaanku ke kamu. Karna hal ini aku selalu menghindar dan aku berusaha bersikap biasa saja ke kamu" jelas Diko panjang lebar.


Diko mulai meremas rambutnya sambil memajamkan mata. Berat baginya untuk membuka ini semua, terlebih pada Riana. Ia takut Riana tak bisa menerima semua ini.


"Hal apa itu Mas?" tanya Riana yang tak sabar dan penasaran.


"Maafin aku Ri, aku bukan laki-laki yang baik, yang pantas di sandingkan dengan kamu yang begitu baik" ucap Diko sambil mengelap butiran yang jatuh dari sudut matanya.

__ADS_1


"Sudah banyak wanita yang pernah tidur denganku" ucap Diko dengan tenggorokan yang seperti tercekat namun ia tetap berusaha mengatakannya.


__ADS_2