Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 33


__ADS_3

"Oalah, iya ya Mbak. Aku lupaaa" ucapnya sambil menepuk jidat.


"Lha terus gimana ini Mbak??" tanyanya.


"Ya kamu sana ke kamarnya Diko" jawab Farah sambil menunjuk ke arah luar.


"Ah ga mau aku Mbak, ya aku gengsi. Masa aku yang nyamperin dia" ucap Riana ogah.


"Lha terus piye? Mosok aku yang pindah ke kamare Diko? Lha coba kamu telepon dulu lho Ri, tanyain Diko" ucap Farah dengan aksen medhoknya yang kental.


"Aku malu tho Mbak, masa aku yang duluan tanya tidurnya di mana. Kok kayaknya aku yang ngarep gitu tidur barengan" jawab Riana merengut.


"Lha ya kamu sama Diko udah suami istri lho Ri, ya harus tidur bareng tho yo. Lha masa suami istri tidur misah-misah ini gimana ceritane?" lanjut Farah sambil memukul gemas lengan Riana yang kebanyakan malunya.


Ditengah kekisruhan itu, tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


'tok tok tok'


"Nah itu Diko kali, udah kamu bukain dulu pintunya" ucap Farah.


Riana pun menurut.

__ADS_1


Ia bergegas mengambil sebuah cardigan berwarna cream dari kopernya, kemudian memakainya karena saat itu ia sedang menggunakan daster tanpa lengan.


Buru-buru dibukakannya pintu. Namun ternyata dugaan mereka berdua salah.


Yang datang bukanlah Diko, melainkan seorang lelaki yang menggunakan seragam hotel.


"Dengan Mbak Riana?" tanya petugas itu.


"Iya benar" jawabnya sambil mengeryitkan dahi.


"Mbak, mari saya tunjukkan kamar pengantinnya" ucap lelaki itu.


"Haah, kamar pengantin?" tanya Riana heran.


"Oh, hmm. Begitu yaa? Maaf kemarin mungkin saya kurang mendengarkan" jawab Riana tak enak hati.


"Mari Mbak, saya antar" ucap petugas itu.


"Hmm, sebentar ya Mas saya beresin koper dulu" jawab Riana yang masih seperti orang bingung.


Farah tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Riana yang kebingungan.

__ADS_1


"Mbak Farah, gimana ini? Jangan ketawa tho Mbak" ucap Riana sambil buru-buru membereskan kopernya.


"Ya udah cepetan kamu beres-beres kasian itu Masnya nungguin" jawab Farah sambil memungut beberapa barang milik Riana yang masih berantakan.


Setelah semua selesai, Riana bergegas menuju kamar mandi.


"Lho mau kemana kamu?" tanya Farah.


"Ganti baju dulu Mbak, masa dasteran gini?" jawabnya.


"Udah ga usah, gini aja ga apa-apa. Ayo cepetan kasian lho itu Masnya nungguin dari tadi" ucap Farah sambil mendorong sepupunya itu ke arah pintu.


Riana pun pasrah, ia melangkahkan kaki untuk pindah kamar tanpa diberi kesempatan untuk berganti baju terlebih dahulu kemudian mengikuti petugas hotel yang akan membawanya ke kamar pengantinya dengan Diko.


Setelah menggunakan lift untuk naik beberapa lantai, kemudian berjalan beberapa meter akhirnya sampailah mereka ke kamar yang di maksud.


Petugas hotel tersebut membukakan pintu kamar untuk Riana kemudian meletakkan koper Riana di tempatnya.


Riana takjub melihat dekorasi kamar yang benar-benar khas kamar pengantin tersebut. Dengan dekorasi bernuansa putih dan merah menambah kesan romantis di kamar ini.


Sejak kakinya melangkah pertama kali, ia sudah di sambut oleh ribuan kelopak mawar merah yang. Untaian kain ceruti berwarna putih berselang seling di dekor indah di sekitar ranjang.

__ADS_1


Simbol berbentuk hati khas kamar pengantin terbentuk dari ribuan kelopak mawar tampak indah di atas kasur.


__ADS_2