
Riana cukup terkejut dengan pernyataan Diko. Ternyata Diko menyetujui perkenalan ini.
'Tapi kalau dipikir-pikir benar juga,' bathinnya dalam hati.
'Tidak ada alasan untuk menolak perkenalan ini. Apa hanya karena tengsin perihal kejadian salah kamar hari itu? Sepertinya tidak fair dan kekanakan kalau hanya karena gengsi dan malu semata,' pikir Riana sambil menghilangkan keraguannya.
'Apa salahnya berkenalan, toh bukan di suruh kawin. Cocok atau tidak urusan belakangan. Apalagi, hmmm kalau dilihat-lihat Diko manis juga walaupun agak dingin dan kaku.' bathinnya dalam hati sambil tersenyum.
"Ehh, ngapain kamu senyum-senyum sendiri sambil ngelamun? Ngelamun jorok ya??!" ucap Diko mengagetkan Riana.
"Iih enak aja kamu," jawab Riana sebal.
"Oke, deal kita teruskan perkenalan ini," ucap Riana sambil mengulurkan tangan.
Diko menyambut uluran tangan Riana bak dua orang yang baru saja membuat persetujuan.
"Tapi dengan syarat," ucapnya lagi.
Wajah Diko terlihat keheranan mendengar ada syarat yang akan diajukan Riana.
"Tidak ada yang namanya chat atau pun telepon terus-terusan. Aku ga suka sering dihubungin," ucap Riana dengan mantap.
__ADS_1
"Eh siapa juga yang mau nghubungin kamu terus, ge er kamu," jawab Diko.
"Oke kalau begitu, aku juga punya syarat. Jangan sering-sering ajak ketemuan, aku sibuk," ucap Diko lagi.
"Iih siapa juga yang mau ngajakin kamu ketemuan," jawab Riana sambil cemberut.
Diko tersenyum melihat wajah kesal Riana.
Hari itu pertemuan mereka berakhir dengan tidak begitu lancar. Diko masih bersikap agak dingin dan cuek. Sedangkan Riana masih malu untuk banyak bertanya.
Sebenarnya keduanya ingin lebih saling mencari tahu namun masih gengsi di mulut, di hati bertanya-tanya.
...***...
Malam itu sambil menonton TV, Riana melihat deretan pesan WhatsApp yang masuk di ponselnya, dan dibalasnya satu persatu.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama Mey sedang melakukan panggilan. Ia langsung mengangkat telepon dari sababatnya itu.
"Hallo," ucap Riana pada Mey yang berada diseberang telepon.
"Hallo Ri, lu lagi dimana? Malam ini nonton midnight yuk. Ntar gue jemput," ajak Mey.
__ADS_1
"Duh, ga deh Mey. Gue ga ikut ya." jawabnya malas-malasan.
"Emangnya lu lagi di mana Ri? Oooh gue tau, lagi malam mingguan lu ya sama anak pimpinan lu itu??" cecar Mey pada sahabatnya.
"Ngaco lu! Apaan gue lagi di kosan doang nonton TV. Gue lagi males keluar," jawabnya.
"Emangnya dia ga ada ngajakin lu keluar Ri? Malem minggu lho ini," pancing Mey yang penasaran.
"Eeh, gue itu baru kenalan ya, belom PDKT apalagi pacaran. Ngapain juga mesti malam mingguan," jawab Riana.
"Yaudah sih, gue kan cuma nanya doang. Emang susah nih nanya sama jomblo, bawaannya ngegas mulu." ucap Mey sambil tertawa.
"Dasar lu! Udah ah gue mau tidur dulu," jawab Riana sambil tersenyum mendengar ejekan sahabatnya itu dan mematikan panggilannya.
Riana hanya geleng-geleng kepala menghadapi ocehan Mey yang terkadang menyakitkan hati sekaligus menghiburnya.
Namun terbersit di hatinya tentang Diko yang benar-benar tidak pernah menghubunginya setelah pertemuan mereka minggu lalu. Ia ingin Diko tidak sering menghubunginya, bukannya tidak menghubunginya sama sekali. Rianapun gengsi kalau harus memulai komunikasi duluan.
Di-scrollnya sekali lagi deretan pesan WhatsAppnya, untuk memastikan bahwa benar-benar tidak ada pesan dari Diko.
Di gosoknya keningnya sendiri sambil bergumam, "Duh Rianaa, kok lu malah ngarepin chat dari Diko sih. Kan lu sendiri yang ga mau kalau Diko sering ngehubungin,"
__ADS_1
Riana makin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia heran kenapa dirinya jadi begitu penasaran dengan Diko. Bukannya dirinya juga yang meragukan perkenalan ini.
Rianapun melempar ponselnya ke atas tempat tidurnya. Ia langsung berbaring dan memeluk guling serta berusaha untuk tidur dan memejamkan matanya.