Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 120


__ADS_3

Diko tertunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan setelah Riana menceritakan apa yang telah Mey sampaikan padanya tadi siang. Ia tak menyangka Devi benar-benar berencana menghancurkan dirinya dan Riana sampai sebegitunya.


"Sudahlah Mas, kita kan sudah berjanji untuk move on dari semua itu. Aku bercerita sama kamu cuma agar kamu tahu yang sebenarnya" ucap Riana sambil mengelus punggung suaminya.


"Tapi tak aku tak habis pikir, seniat itu dia ingin menghancurkan kita. Aku tidak bisa membayangkan jika dia belum tertangkap dan kamu jadi masuk kerja kembali untuk menggantikan Mey. Pasti dia akan dengan leluasa menggunakan kamu sebagai alat untuk membalas sakit hatinya padaku" ujar Diko.


"Syukurnya semua tidak terjadi Mas, Tuhan masih sayang sama kita" jawab Riana.


"Betul sayang" ucap Diko sambil menarik Riana yang duduk di sampingnya ke dalam pelukannya.


"Aku tidak akan melarang kamu untuk bekerja lagi kalau itu yang membuat kamu bahagia. Tapi jangan di perusahaan itu lagi, dan juga jangan sekarang, tunggu kamu benar-benar pulih. Aku ga mau kejadian seperti di supermarket hari itu sampai terulang lagi" lanjutnya sambil mengelus pundak istrinya itu.


Riana mengangguk paham.


Tiba-tiba ponsel Diko berdering. Terlihat panggilan video call dari Tia. Diko pun langsung mengangkatnya.

__ADS_1


Terlihat Tia, Reza dan Bu Hesti di layar ponsel Diko. Mereka terlihat sumringah. Tiba-tiba Tia menunjukkan sebuah alat pengecek kehamilan yang bertuliskan 'pregnant' di sana.


Diko dan Riana kaget kemudian berucap syukur. Keduanya terlihat penuh haru dan bahagia atas kehamilan Tia. Tak lupa Diko dan Riana memberi ucapan selamat pada Tia dan suaminya. Bu Hesti juga terlihat begitu senang, karena akan segera mendapatkan cucu yang memang ia nanti-nanti.


Tak henti-hentinya Riana dan Diko sepanjang panggilan video call itu memberi nasehat pada Tia untuk berhati-hati dan menjaga kehamilannya dengan sebaik mungkin.


Begitu selesai dengan panggilan video call mereka, keduanya saling berpandangan kemudian tersenyum bahagia.


Namun tiba-tiba senyum itu hilang dari bibir Riana. Ia terlihat menundukkan pandangannya yang semula berpandangan dengan Diko.


Riana menggeleng pelan.


"Ga apa-apa Mas" ucapnya berbohong.


Diko yang paham setelah mencerna lebih dalam apa yang di rasakan istrinya langsung memegang kedua pipi Riana dan menghadapkannya ke wajahnya.

__ADS_1


Tak bisa dipungkiri ada perasaan sedih dalam hati Riana karena ia belum kunjung hamil. Sebulan ini mereka berdua sudah begitu intens dalam berhubungan dan berharap ada kabar baik. Tetapi pagi ini di dapatinya ia datang bulan.


Entah kenapa seperti ada rasa sedih dalam hatinya. Walaupun mungkin terlalu dini untuk bersedih, tapi ia tetap berharap untuk bisa segera hamil.


"Kamu sedih karena kita belum diberi kepercayaan itu?" tanya Diko.


"Sedikit" jawab Riana dengan wajah murung.


"Kamu jangan sedih. Semua ada waktunya, kita nikmati dulu masa-masa ini. Kita lakukan banyak hal sebelum akhirnya nanti fokus pada anak. Percayalah sayang, waktu itu akan datang pada kita" ucap Diko menenangkan Riana.


"Iya Mas, mudah-mudahan. Aku juga berharap seperti itu" jawabnya.


"Nanti ada masanya aku akan sibuk mencari apa yang menjadi keinginan kamu saat ngidam, kemudian berbagi waktu dan bergantian untuk mengurusi anak kita. Kita tunggu saja dia hadir di sini" ucap Diko sambil mengelus perut istrinya.


Riana yang tadinya murung, kini tertawa mendengar apa yang di katakan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2