
"Yaudah coba dulu aja interviewnya, nanti aku pikirin lagi" ucap Diko.
Riana tersenyum, ada sedikit celah dari Diko untuk memberinya izin bekerja di perusahaan lain.
"Makasih ya sayangnya akuu" ucap Riana sambil mencubit manja pipi suaminya itu.
Diko tahu Riana sedang mencoba mengambil hatinya.
"Lain kali kalau ngelamar kerja kasih tahu suaminya" ucap Diko datar.
Riana menelan ludah. Ia tahu Diko sedikit kesal padanya.
...***...
"Ingat, abis interview langsung turun" ucap Diko yang sudah entah keberapa kali sejak mulai dari perjalanan hingga kini Riana sudah hendak masuk ke dalam lift.
Riana memberi kode 'OK' sebelum akhirnya pintu lift tertutup.
Diko duduk menunggu Riana di lobby kantor yang bergerak dalam bidang IT itu. Kantor yang jujur saja lebih besar jika dibandingkan dengan kantornya yang hanya 3 lantai. Sedangkan kantor ini ada 9 lantai.
Riana naik menuju lantai 5 dimana interview akan di lakukan. Begitu keluar lift ia melihat beberapa orang sedang duduk di kursi tunggu. Riana yakin mereka adalah orang yang juga akan mengikuti proses interview sama seperti dirinya.
__ADS_1
Riana duduk di salah satu kursi dan menunggu. Namun tak lama kemudian, seorang wanita muda yang berparas cantik dengan rambut dicepol dan blazer khas wanita kantoran datang menghampiri Riana dan beberapa orang lain yang ada di sana.
"Selamat pagi semua, sebentar lagi proses interview akan di mulai. Saya sendiri yang akan memanggil nama pelamar secara bergantian. Interview akan dilakukan langsung oleh pimpinan perusahaan. Silahkan menunggu di sini, dan untuk nama yang di panggil silahkan ikut saya masuk" ucap wanita tersebut.
"Baik, untuk yang pertama silahkan masuk Ibu Nadia Wijaya" ucapnya lagi sambil membuka pintu ruangan.
Dengan sabar Riana menunggu gilirannya. 40 menit berlalu, sudah 3 orang yang masuk bergantian, namun namanya belum juga di panggil. Entah kenapa dadanya dag dig dug tak karuan. Padahal ini bukanlah interview pertamanya, ia telah melewati puluhan interview saat mencari kerja setelah lulus kuliah dulu.
Setelah kurang lebih satu setengah jam menunggu, akhirnya Riana dipanggil untuk masuk ke dalam Ruangan. Ia adalah pelamar yang terakhir di panggil saat itu. Tak ada pelamar lain di sana karena semua sudah selesai dan pulang.
Riana masuk ke dalam ruangan dan segera berjalan menuju kursi yang telah di sediakan. Ia melihat ke sekelilingnya. Kosong tidak ada orang.
"Mohon tunggu sebentar ya Bu" ucap wanita yang mempersilahkan Riana masuk.
"Maaf sudah menunggu" ucap seseorang yang baru saja muncul dari pintu kamar kecil yang ada di ruangan tersebut.
Riana menegakkan kepala melihat sumber suara yang kini sudah duduk tegap tepat di balik meja yang ada di hadapannya.
Riana menahan napasnya yang seperti tercekat di tenggorokan. Ia melebarkan matanya seolah meyakinkan dirinya atas apa yang telah ia lihat.
Setelah yakin dengan apa yang di lihatnya. Riana segera berdiri dan berniat keluar dari ruangan tersebut. Ada rasa marah dan benci yang luar biasa di hatinya.
__ADS_1
"Riana, tunggu Ri" ucap orang itu sambil bergerak cepat mencegah Riana untuk keluar.
"Maaf, aku harus pergi" ucap Riana pelan.
"Aku mohon tunggu dulu Ri, jangan hanya karena aku pimpinan di perusahaan ini kamu jadi tidak mau interview" ucapnya.
"Lupakan tentang interview. Anggap saja aku salah melamar, maaf kalau aku membuang waktu mu, permisi" ucap Riana sambil melangkah pergi.
"Riana, Ri, aku mohon tunggu dulu sebentar. Aku menunggu hari ini untuk bisa bicara dengan kamu. Melihat nama kamu sebagai pelamar seperti memberikanku harapan untuk bisa menjelaskan semuanya, meluruskan kesalahpahaman kita" ucapnya sambil lagi-lagi mencegah Riana untuk pergi.
Riana tersenyum sinis.
"Kesalahpahaman?" ucap Riana sinis.
"Aku mohon, kita bicara baik-baik" ucapnya memohon.
Riana melirik wanita yang sejak tadi berdiri kikuk di samping dekat pintu. Wanita yang sepertinya sekretaris itu terdiam salah tingkah melihat kejadian di depan matanya.
Lelaki yang ada di depan Riana memberi kode agar wanita itu menunggu di luar.
"Silahkan duduk, aku janji kita akan bicara baik-baik" ucap lelaki itu.
__ADS_1
Riana melangkah kembali ke arah kursi dan duduk di sana.