Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 124


__ADS_3

Sejak tiba di hotel tadi, Diko terlihat begitu mengantuk hingga tertidur. Ia tak bisa tidur dengan nyenyak selama di pesawat, hal ini membuatnya sangat mengantuk.


Begitu merebahkan tubuhnya ke atas kasur, ia pun langsung tertidur. Sedangkan Riana langsung membereskan barang bawaan mereka dan menyusunnya ke dalan lemari. Melihat suaminya yang kelelahan Riana pun tak tega untuk membangunkannya.


Destinasi bulan madu mereka dipilihkan oleh Diko sebagai kejutan untuk Riana. Diko memilih Jepang karena dulu saat ia bekerja di perusahaan asing, ia sempat tinggal di Jepang kurang lebih dua bulan untuk mengikuti training. Selama dua bulan itu, setiap ada waktu senggang ia selalu berjalan-jalan mengeksplore kota Tokyo dan kota lainnya, ia menemukan berbagai keindahan yang membuatnya takjub. Terlebih banyak tempat-tempat romantis yang layak dikunjungi oleh pasangan yang ingin berlibur. Sehingga ia mempunyai keinginan dalam hatinya bahwa jika suatu hari nanti ia memiliki istri, ia akan membawa istrinya untuk melihat dan menikmati indahnya Jepang bersama dirinya. Dan saat ini ia sedang mewujudkan keinginan lamanya itu, tentu saja bersama istri yang begitu ia cintai.


Setelah semua barang bawaannya beres, Riana langsung mandi untuk menghilangkan penatnya. Berhubung suhu di luar cukup dingin, ia berniat mandi dengan air panas.


Ditariknya tirai pemisah antara tempat mandi dan closet. Di guyurnya tubuhnya dengan air hangat. Begitu menyegarkan dan menenangkannya. Setelah ini ia akan berniat tidur sebentar untuk sekedar menghilangkan letih sebelum mereka mulai berwisata.


Setelah selesai dengan aktifitas mandinya, Riana segera membuka tirai pembatas dan berniat keluar kamar mandi. Tapi ia terperanjat melihat Diko yang duduk di closet dengan masih muka bantal.

__ADS_1


"Ya ampun Mas, sejak kapan kamu di sini? Kamu bikin aku kaget" tanya Riana yang benar-benar terkejut.


Dengan masih mengantuk Diko memencet tombol dengan simbol flush.


"Baru aja sayang, aku kebelet. Pas aku buka ternyata ga terkunci, yaudah aku masuk" ucapnya santai.


"Ia tapi kan kamu bisa panggil aku, jadi aku ga kaget begini" ucap Riana kesal.


"Aku udah panggil kamu, tapi kamu ga dengar" jawab Diko.


"Iya maaf yaa, lain kali aku ga akan bikin kamu kaget lagi" jawab Diko agar Riana tak marah.

__ADS_1


"Mas Diko nyebelin, baru aja sampai udah bikin aku kesal" omelnya sambil berlalu.


Namun dengan cepat Diko menarik tangan Riana dan mendekap tubuhnya.


"Masa bulan madu kita di mulai dengan adegan ngambek sih?" tanya Diko sambil menjawil hidung istrinya.


"Abisnya.." belum selesai Riana menjawab bibirnya sudah dihujani dengan ciuman dari suaminya yang membuatnya tak bisa melanjutkan omelannya.


Diko mengambil jalan pintas, daripada istrinya terus mengomel lebih baik ia kunci mulut istrinya itu dengan ciuman. Riana yabg semula merasa kesal, kini rasa itu sirna dengan sendirinya. Kini yang ada hanya desiran-desiran darah yang menyiratkan perasaan cinta.


Tanpa melepas ciumannya, Diko menarik Riana beberapa langkah kemudian menutup tirai pembatas dan menyalakan showernya.

__ADS_1


Bulan madu mereka dimulai dengan mandi bersama sambil diselingi penyatuan cinta untuk pertama kali di Jepang. Suara shower diramaikan dengan desahan yang bersahutan. Sesekali terdengar teriakan kecil yang turut bergabung di sana. Penyatuan cinta keduanya tak dapat terelakkan.


Ingin rasanya keduanya melakukannya sekali lagi, namun mereka ingat bahwa bulan madu mereka masih panjang. Akan ada kesempatan selanjutnya untuk saling berbagi sentuhan dan kenikmatan.


__ADS_2