Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 160


__ADS_3

Diko memegang kedua pundak Riana kemudian menurunkan intonasinya.


"Biarkan aku yang menyelesaikan semuanya dan memastikan dia pernah macam-macam dengan kamu hari itu" ucap Diko kemudian dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan berlalu.


Tinggallah Riana yang mulai meneteskan air mata. Ia kesal karena tak mampu mencegah Diko. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan suaminya.


Melihat Diko sudah pergi, Bi Yum langsung berlari dan mendekat pada Riana. Dipapahnya tubuh Riana yang sedang menangis untuk masuk ke dalam kamar. Ia tak berani bertanya macam-macam.


"Mas Diko Biii" tangis Riana sambil tertatih masuk ke dalam kamar di bantu Bi Yum.


"Iya Bu, kita doakan Bapak cepat pulang dan sudah lebih tenang" jawab Bi Yum.


Riana menyambar ponselnya dan memencet nomor Diko. Ia berusaha menelepon suaminya berharap Diko berubah pikiran.


Namun tak ada jawaban, sepertinya Diko dengan sengaja tak menjawab panggilan dari Riana.


"Maas, angkat Mas" ucap Riana sambil terus berusaha menelepon.


"Bu, sudah Bu. Bapak itu orang yang baik, orang yang bijaksana. Dia pasti tahu apa dengan apa yang akan dilakukannya. Ibu tenang yaa" ucap Bi Yum yang berusaha menenangkan Riana padahal dirinya pun tak tenang.

__ADS_1


"Tapi dia sedang emosi Bi, aku takut dia kenapa-kenapa" jawab Riana dengan pipi yang basah karena air mata.


"Nanti Ibu coba telepon Bapak lagi ya, sekarang mungkin karena sedang emosi jadi Bapak tidak mau mengangkat teleponnya" ucap Bi Yum.


"Ibu juga sekarang harus tenang ya, ingat ada anak di sini, kalau ibunya stress nanti dia juga ikutan stress" ucap Bi Yum sambil menunjuk perut Riana.


Riana mengangguk dan meletakkan ponselnya kembali. Kemudian ia berusaha menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.


Ia mencoba untuk merilekskan tubuhnya, memejamkan mata agar tak tegang, hingga akhirnya terkantuk kemudian ia tertidur.


Bi Yum membiarkan Riana tertidur dengan meredupkan lampu, ia berharap Riana tertidur lebih lama agar tak memikirkan pertengkarannya dengan Diko tadi.


Ia bergegas keluar berharap Diko sudah pulang.


Namun di luar ia hanya mendapati Bi Yum yang sedang menata makan malam di atas meja makan.


"Bapak belum pulang Bi?" tanya Riana sambil berjalan ke arah luar memastikan mobil Diko sudah terparkir di sana atau belum.


"Belum Bu" ucap Bi Yum yang membuat Riana kembali cemas.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa lama sekali" ucap Riana yang risau.


Ia kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Diko. Namun tetap saja tak ada jawaban.


"Mas, kamu kemana sih. Kenapa belum pulang juga" ucap Riana sambil mondar mandir.


Bolak balik ia melihat keluar, kalau-kalau Diko pulang. Bahkan ia berulang kali menuju ke luar pagar menunggu kepulangan Diko.


Bi Yum yang khawatir menyusul Riana keluar.


"Bu, ayo masuk. Di sini banyak nyamuk, sebentar lagi pasti Bapak pulang" ucapnya berusaha menenangkan Riana.


"Ayo makan dulu, jangan sampai Ibu terlambat makan, kasian yang di sini" ucap Bi Yum lqgi sambil menunjuk perut Riana.


Riana mengangguk kemudian beranjak masuk diikuti oleh Bi Yum di belakangnya.


"Mas Diko kok belum pulang juga ya Bi? Aku takut" ucap Riana.


"Ibu makan dulu yaa, sebentar lagi Bapak pasti pulang" jawab Bi Yum yang tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang ia sendiri bingung dengan jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2