Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 52


__ADS_3

Entah kenapa hati Riana benar-benar hancur melihat kesedihan Diko atas kepergian ayahnya. Semua terjadi mendadak dan tiba-tiba, tak ada satupun yang siap dihadapkan dengan kehilangan ini. Apalagi kondisi ayahnya sehat, segar bugar sehari-harinya tanpa pernah mengeluh sakit.


Di pemakaman, Diko tak bisa menahan air matanya yang begitu mengucur dengan derasnya. Riana hanya bisa mengelus pundaknya walaupun itu entah berhasil menguatkannya atau tidak. Riana hanya berusaha agar Diko tegar.


Riana menghadapi kondisi ini lebih dulu dari pada Diko. Oleh karena itu Riana begitu paham bagaimana rasanya.


Ia tak pernah melihat Diko sesedih ini. Terlebih ketika pulang dari pemakaman, tampak begitu murung.


Malam ini setelah pengajian selesai dan semua tamu pulang, keluarga dekat yang menginap membantu berberes-beres sehingga Riana bisa menemani ibu mertuanya untuk beristirahat di kamar.


Riana membaringkan Bu Hesti dengan pelan di tempat tidur. Kemudian ia pun ikut berbaring di sebelahnya. Begitupun Tia, mereka tidur bertiga dalam satu kasur menemani Bu Hesty agar tidak begitu terasa kehilangan sosok suamin yang biasa menemaninya di kamar ini.


Setelah Bu Hesti tertidur, Tia mencolek lengan Riana agar terbangun.


"Mbak..Mbak" panggilnya membangunkan Riana.


"Hmmm" jawab Riana sambil membuka sebelah mata.

__ADS_1


"Kamu nemenin Mas Diko aja ya, biar aku yang nemenin Mama. Kasian Mas Diko sendirian" ucap Tia.


'Benar juga' bathin Riana.


Kemudian Riana pun beranjak dari kasur dan menitipkan pesan pada adik iparnya itu untuk segera memanggilnya jika perlu bantuan.


Setelah Tia mengangguk, Riana pun keluar kamar dan menuju lantai 2 dimana kamarnya dan Diko berada.


Dengan perlahan, Riana membuka pintu kamar.


Terlihat Diko yang sudah tertidur dengan mata sembab. Riana pun berjingkat dan segera bersih-bersih ke kamar mandi terlebih dahulu karena seharian ia tak sempat mandi.


Setelah selesai mandi, Riana membaringkan tubuhnya yang begitu lelah. Rasa nyaman langsung menjalar ke seluruh persendiannya.


Riana memiringkan tubuhnya, berhadapan dengan Diko. Dilihatnya wajah Diko inci demi inci.


Rasa amarahnya dikesampingkannya dulu karena melihat kesedihan mendalam sedang melanda suaminya itu.

__ADS_1


'Sedang tidur saja ganteng' bathin Riana.


Baru sekali ini ia memperhatikan wajah Diko dari dekat. Ternyata menyenangkan.


Diarahkannya jari telunjuknya menyusuri hidung Diko yang mancung bak perosotan. Hidung Riana yang minimalis khas orang Indonesia seketika insecure karena melihat hidung Diko.


'Kalau punya anak dari Mas Diko, pasti cakep banget kayak Papanya' ucapnya dalam hati.


Tiba-tiba mata Diko terbuka dan melihat Riana.


Jari Riana masih berada di hidung Diko. Seketika ia terperanjat kaget dan malu. Kemudian langsung membelakangi Diko tanpa sepatah kata pun. Ia sungguh malu dan mengutuk dirinya sendiri kenapa tidak bisa menahan diri untuk tak menyentuh suaminya yang tampan itu.


Diko mendekatkan tubuhnya pada Riana. Dipeluknya Riana dari belakang dengan begitu erat tanpa bicara.


Jantung Riana berdegub begitu kencang. Darahnya berdesir bak main roller coaster hanya karena di peluk Diko. Pelukan di atas ranjang yang baru pertama kali ia rasakan sejak menikah.


Ada rasa ingin membalas pelukan tersebut sambil menggenggam erat jemari Diko yang berada di perutnya. Namun gengsinya mengatakan untuk tidak melakukannya.

__ADS_1


Mereka berdua pun terlelap sambil berpelukan hingga pagi menjelang.


__ADS_2