
Sudah sekitar 15 menit Diko berdiri di dekat mobil Riana. Namun Riana tak kunjung kelihatan, padahal ini sudah jam pulang kantor.
Diko bolak balik melirik jamnya dengan gelisah. Dan sesekali melihat setiap orang yang keluar dari pintu keluar.
Tak lama kemudian Riana pun keluar. Riana melihat seseorang berdiri di samping mobilnya tapi tak terlihat jelas siapa.
Semakin dekat Riana semakin yakin bahwa itu adalah Diko.
'Mau apa dia ke sini? Bukannya tadi malam dia yang bilang bahwa ingin sendirian?' bathinnya.
Riana tetap melangkahkan kaki menuju mobilnya bagai tak melihat keberadaan Diko di sana.
Begitu Riana membuka pintu mobilnya, Diko mencegah dengan menarik tangannya.
__ADS_1
"Kamu kemana aja Ri?" tanya Diko lembut.
"Aku ga kemana-mana kok Mas. Aku pulang ke kosan. Maaf aku ga pamit langsung, soalnya kamu udah tidur" jawabnya cuek dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Maafin aku Ri, kita pulang ya, kita obrolin baik-baik di rumah" rayu Diko sambil tak melepas tangan Riana.
"Sebaiknya kamu selesaikan masalah dengan diri kamu sendiri dulu deh Mas, baru setelah itu ngobrol sama aku. Aku ngerasa ga punya masalah soalnya" jawab Riana ketus dan mencoba melepaskan genggaman tangan Diko.
"Ri, aku tahu aku salah. Kemarin aku ada masalah sama Papa. Ga seharusnya aku bersikap kayak gitu ke kamu, aku minta maaf juga atas apa yang aku bilang ke kamu. Aku salah Ri" bujuk Diko agar Riana melunak.
"Maaf Mas, aku ga bisa. Menurut aku lebih baik kita pisah rumah dulu sampai kamu benar-benar bisa menyadari adanya rumah tangga kita. Karena sepertinya kamu belum bisa seutuhnya sadar bahwa kita sudah berumah tangga" ucap Riana sambil menatap dalam pada Diko.
"Tenang aja, aku ga kemana-mana kok. Kamu tahu dimana kamu bisa nemuin aku" lanjutnya sambil membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Oh iya, tenang aja. Aku ga akan bilang ke Papa Mama soal ini" ucapnya sebelum masuk ke dalam mobilnya, dan kemudian berlalu.
Tinggallah Diko yang masih terdiam mematung. Ia tak tahu harus berbuat apa. Riana benar, ia belum sepenuhnya sadar dengan rumah tangganya.
Ia masih menyimpan luka lama yang tak siap untuk ia jabarkan ke istrinya. Ia menyadari bahwa hal ini sangat melukai Riana. Ia menghancurkan perasaan Riana padanya.
Dengan langkah gontai ia melangkah menuju mobilnya. Dikemudikannya dengan perasaan tak menentu. Ingin rasanya mengulang kembali kejadian tadi malam. Jika waktu bisa diputar kembali, ingin ia rasanya menarik kembali sikap dan ucapannya pada Riana.
Tapi semua telah terlambat, kini Riana telah marah dan kecewa padanya. Pada suami yang baru saja 2 minggu lalu menikahinya.
Sesampainya di rumah, rumah terasa sepi baginya.
Tak ada makanan tersedia untuknya, tak ada baju bersih yang biasanya sudah disediakan Riana di atas tempat tidur saat ia mandi, tak ada suara denting wajan dan sutil yang beradu pertanda Riana sedang sibuk di dapur, tak ada wangi kopi yang semerbak yang menyambut Diko saat pulang kerja.
__ADS_1
Padahal belum dua minggu mereka menempati rumah ini, tapi keberadaan Riana sangat menyatu dengan rumah ini. Sehingga dengan kepergiannya, rumah ini terasa tak lagi hidup.
Ingin rasanya Diko pulang ke rumah orang tuanya karena sepi. Namun ia takut jika orang tuanya malah akan tahu permasalahannya dengan Riana saat ini, apalagi saat ini Diko dan ayahnya masih belum resmi berbaikan.