Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 42


__ADS_3

Sehari setelah pernikahan Tia, Riana dan Diko masih menginap di rumah orang tua Diko.


Baru saja keluarga besar bertolak pulang ke rumah masing-masing, sehingga banyak PR yang harus di selesaikan alias beberes rumah. Dalam keadaan seperti ini tidak mungkin Diko dan Riana hanya berdiam diri saja. Mereka tentunya harus mengambil andil dalam hal ini. Oleh karena itu mereka berdua masih menginap.


Semua anggota keluarga terlihat sibuk dengan jobdesk masing-masing. Diko terlihat menyapu halaman dengan Bu Hesti. Sedangkan Riana tengah membereskan beberapa kamar tamu yang telah digunakan keluarga.


"Mbak, aku bantuin ya" ujar Tia yang baru saja masuk.


"Dikit lagi selesai kok, udah ga apa-apa" sahut Riana.


"Udah ga apa-apa Mbak, sini aku bantuin" ucapnya sambil mengambil sprei bersih di lemari kemudian memasangnya berdua.


"Aah, akhirnya selesai jugaaa" ucap Riana sambil menghempaskan tubuhnya di kasur.


"Kamu pasti capek banget ya Mbak" ucap Tia sambil duduk di samping Riana yang sedang berbaring.


"Tapi seru banget sih, jadi bisa ketemu keluarga besar Papa dan Mama. Semuanya baik-baik" jawab Riana sambil tersenyum.


"Kamu juga capek banget pasti. Ditambah lagi sebentar lagi ikut Reza pindah tugas. Kalian berdua harus jaga kesehatan biar fit dan sehat saat pindahan nanti, karena pasti akan lumayan repot." saran Riana pada Tia.


"Iya Mbak, makasih ya Mbak. Kamu tu baru satu minggu jadi iparku, tapi udah berasa kayak lama banget" ucap Tia jujur.

__ADS_1


"Hahaha, masa sih?" tanya Riana tak yakin.


"Oh iya Mbak, bener kata kamu" ucap Riana tiba-tiba.


Riana mengeryitkan dahi menunggu ucapan selanjutnya.


"Ternyata kalau kita relax dan santai, malam pertama itu ga semenyakitkan kata orang-orang kok" lanjut Riana sambil tersenyum menerawang.


"Wahh, selamat ya kamu udah resmi jadi istri yang sesungguhnya buat Reza, yang melayani Reza dengan sepenuh hati" jawab Riana.


"Iya Mbak, kamu juga" ucap Tia.


Riana tersenyum menyeringai penuh arti.


"Mbak, kamu kenapa? Mikirin apa?" tanya Tia.


"Hmmm," gumam Riana.


"Tia, maaf ya kalau aku bohong sama kamu" lanjutnya.


Gantian Tia yang mengeryitkan dahi menunggu ucapan Riana selanjutnya.

__ADS_1


"Sebenarnya Mbak sama Mas Diko belum melakukan malam pertama. Mas Diko belum menyentuh Mbak hingga saat ini" jelasnya nekad.


Tia menutup mulutnya karena terkejut dengan pengakuan Riana.


"Ada apa Mbak?" tanyanya pelan sambil menggenggam tangan Riana menguatkan.


Riana hanya menggeleng dan mengangkat bahu, kemudian tersenyum yang dipaksanya agar terlihat kuat.


"Kamu udah coba komunikasikan ke Mas Diko langsung Mbak?" tanya Tia lagi.


"Ga Tia, mungkin Mas Diko punya alasan yang aku ga tahu apa" jawab Riana.


"Ya Allah Mas Dikooo" ucapnya sambil meremas rambut karena pusing dengan kelakuan abangnya.


...***...


"Astaghfirullahaladziim" ucap Pak Ridwan dan Bu Hesti serentak.


"Makanya Pa, Ma,coba Papa cari tahu kenapa" ucap Tia pada orang tuanya.


"Tapi Papa dan Mama ingat, jangan pernah sebut-sebut nama aku ya. Nanti aku ga enak sama Mas Diko dan Mbak Riana" ucap Tia setelah membongkar masalah rumah tangga Diko pada orang tuanya, karena Tia merasa ia tidak bisa untuk menyelesaikan ini sendirian.

__ADS_1


"Nanti malam Papa akan panggil Diko." ucap Pak Ridwan dengan muka geram.


__ADS_2