Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 11


__ADS_3

Riana terlihat mengaduk kopinya di pantry. Entah kenapa ia merasa ngantuk sekali siang ini. Ingin rasanya ia merebahkan tubuhnya dan tidur siang dengan nyaman. Namun sayangnya jam kantor belumlah usai sehingga keinginannya hanya sebatas khayalan saja.


Di angkatnya gelas kopi yang telah selesai dibuatnya, kemudian ia duduk di meja pantry sambil meniup dan menyeruput kopi hitam buatannya.


Tiba-tiba Mey masuk dan duduk di sampingnya.


"Disini lu ternyata Ri. Gue cariin juga" ucap Mey menyerobot kopi Riana.


Riana hanya pasrah, ia sudah terbiasa dengan temannya yang suka main serobot itu.


"Memangnya ada apa lu nyariin gue?" tanya Riana penasaran.


"Ini mau balikin flashdisc yang tadi gue pinjem" jawab Mey sambil menyerahkan flashdisc pada Riana kemudian membuka kaleng biskuit yang tergeletak di meja.


"Mey, lu sama Mas Heru udah serius? Ada rencana nikah ga?" tanya Riana.


Mey sudah tiga bulanan ini dekat dengan Mas Heru, seorang karyawan bagian IT. Riana tahu Mey sangat berharap hubungannya dengan Mas Heru sukses ke jenjang pernikahan. Namun sampai saat ini ia belum mendengar kabar keseriusan keduanya.


"Gimana ya Ri, gue sama Mas Heru udah nyusun rencana sih sebenernya untuk nikah dalam waktu dekat. Umur gue dan Mas Heru udah ga muda soalnya. Kita ga mau banyak ini itu, kalau bisa ga lama setelah lamaran langsung nikah. Tapi, orang tuanya Mas Heru masih di Singapura sampai empat bulan kedepan. Jadinya ya mau ga mau masih belum ada progres sampai saat ini" jelas Mey.


"Haah?! Serius lu Mey? Kok lu ga cerita sih kalau udah serius. Gue kira malahan masih pacaran biasa doang" jawab Riana sambil memukul lengan Mey.

__ADS_1


"Hehehe, ya maap. Gue nyari waktu yang pas aja sih buat cerita ke elu" ujar Mey yang tak enak hati.


Sebenarnya ia tak enak cerita ke Riana.


"Eh terus elu gimana sama anak pimpinan kampus lu itu? Siapa sih namanya, lupa gue" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Namanya Diko" jawab Riana sambil mengambil sebuah biskuit.


"Belum ada progres sama sekali. Dia belum ada ngehubungin gue" ucapnya lagi.


"Lho kok bisa?" tanya Mey penasaran.


"Awalnya gue yang bilang sih jangan sering ngehubungin gue, eh malah ga dihubungin sama sekali" jawab Riana sambil menghela nafas.


Riana cemberut mendengar ucapan temannya itu.


"Abisnya gue takut aja dia sering ngehubungin, jatuhnya kan malah bikin ga nyaman" jawab Riana.


"Terus sekarang dia ga ngehubungin elu, elu jadi nyaman? Ga kan?? Gue jamin sekarang elu pasti dilanda rasa penasaran" ucap Mey yang kesal dengan sahabatnya.


Riana mengangguk sambil cemberut, ia membenarkan omongan Mey.

__ADS_1


"Apa gue out aja ya dari perkenalan ini? Daripada gue nungguin yang ga pasti" ucapnya sambil menopang dagu.


"Yahh, gitu aja nyerah. Kan lu bisa ngehubungin duluan" ucap Mey memberi saran.


"Ah ga!, gengsi gue. Ntar dikira gue ngebet banget lagi" jawabnya.


"Ri, kan ga ada salahnya elu nyoba. Lagian sekarang lu ga lagi deket sama siapa2 kan??Apa salahnya mencoba?" ucap Mey memberi semangat.


...***...


Diko melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.00 WIB. Dilihatnya Joe masih asik dengan ballpoint dan notesnya.


Diko menyambar ponsel dan kunci mobilnya kemudian berjalan menuju pintu.


"Bro, gue duluan ya, ada urusan. Ga apa-apa kan?" tanyanya basa basi pada Joe.


"Oke, sip" ucap Joe sambil mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Joe turun ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Sambil menyalakan mesin, ia menelpon seseorang.


"Hallo, lu dimana?" ucapnya pada sambungan telepon.

__ADS_1


"Oh oke, gue kesana" lanjutnya kemudian mematikan panggilannya dan melaju keluar area kantor.


__ADS_2