
Diko tertunduk lesu. Lagi-lagi ia tak bisa berkutik saat di debat Riana.
'Andai saja kamu tahu Ri, aku sedang berusaha memperbaiki semuanya. Aku ingin punya rumah tangga seperti orang pada umumnya' keluhnya dalam hati.
Tapi tak ada guna ia terus memaksa Riana. Sepertinya memang benar, ia harus introspeksi diri dulu dan tidak gegabah.
Seandainya saat ini pun Riana pulang ke rumah, ia masih belum yakin bahwa ia siap membuka segala masalalunya yang kelam.
Diko pun masuk ke dalam mobilnya kemudian pulang. Salah besar dirinya tidak berpikir panjang malam itu.
Riana adalah wanita mandiri jauh sebelum bertemu dengan Diko. Mentalnya sudah ditempa sedemikian rupa, ditambah lagi Riana punya penghasilan yang terbilang lebih dari cukup. Jadi mudah baginya untuk sekedar pergi ketika merasa dirinya tersakiti.
Diko mengutuk dirinya, kenapa dari awal tidak berpikir bahwa ia harus hati-hati dengan seorang wanita yang mandiri seperti Riana. Karena biasanya mereka lebih tegas dalam mengambil keputusan, dan lebih berani karena merasa tidak bergantung.
Namun kini yang tinggal hanyalah penyesalan.
...***...
Pagi itu Riana masuk kerja seperti biasa. Walaupun moodnya sungguh berantakan.
Permasalahan rumah tangganya benar-benar menguras emosinya.
Ia tak berani cerita pada siapapun. Hanya ia dan Diko yang tahu permasalahan mereka. Karena Riana malu jika orang tahu, pernikahan baru seumur jagung sudah pakai acara pisah rumah.
__ADS_1
Ia menganggap bahwa ini adalah aib rumah tangganya. Jadi lebih baik untuk ia simpan sendiri.
Riana pun tak tahu harus sampai kapan seperti ini, tapi ia sudah bertekad tak akan kembali ke rumah sampai Diko benar-benar menganggapnya sebagai istri dan tidak menutupi apapun darinya.
Riana menghela nafas panjang. Rasanya suntuk sekali, tidak fokus kerja, dan ingin di rumah saja rebahan.
Sejak tadi ia hanya memainkan kursor di laptopnya saja, dengan tatapan kosong dan pikiran yang entah kemana.
Tiba-tiba handphonenya bergetar.
Terlihat nama Tia sedang memanggilnya.
'Kenapa ya Tia pagi-pagi begini? Pindahannya kan dua hari lagi' bathinnya.
'Apa pindahannya dimajuin ya?' tanyanya dalam hati.
Namun tak ada jawaban dari Tia di seberang telepon.
"Tia, hallo" ulangnya lagi.
Tetap belum terdengar suara Tia.
Namun tiba-tiba terdengar suara seperti terisak pelan.
__ADS_1
"Mbak" ucap Tia berusaha berbicara.
Hati Riana langsung tak enak. Tak biasanya Tia menangis.
'Apa apa ini?' bathinnya.
"Iya Tia, ada apa? Kamu kenapa nangis?" tanya Riana dengan penekanan.
"Mbaak" ucap Tia lagi dengan semakin terisak.
"Tia, ada apa??" tanya Riana panik.
"Coba kamu jelasin pelan-pelan, ada apa?" ucap Riana agar Tia bisa berbicara dengan jelas.
"Papa Mbak" jawab Tia lirih.
"Papa Kenapaa???!" tanya Riana yang tak bisa lagi menahan kepanikannya.
"Papa tiba-tiba jatuh di kamar mandi Mbak, sepertinya serangan jantung. Sekarang aku sama Mama di rumah sakit. Papa ga sadarkan diri, sekarang sedang ditangani dokter" jelas Tia dalam isaknya.
Hati Riana langsung tak karuan membayangkan ayah mertuanya sedang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.
"Kamu di rumah sakit mana? Mbak ke sana sekarang" tanya Riana sambil menyambar tasnya.
__ADS_1
"Di Asih Medika deket rumah. Ini Mas Diko udah sampai" jawab Tia lagi.
"Oke, Mbak ke sana" jawab Riana dengan cepat.