
"Terus maksudnya Mas Diko mau buru-buru niakh karena biar ga di langkahin sama kamu?" tanya Riana penasaran.
Tia tak enak hati pada Riana. Ia tak tahu harus bilang apa. Ia takut kalau salah omong. Bisa-bisa ia di marahi oleh Diko.
"Mbak, Mas Diko baik kan sama kamu? Dia ga galak kan Mbak?" tanya Tia sambil memegang pundak Riana.
Riana mengangguk tak mengerti.
"Baik" jawabnya bingung.
Tia melepaskan nafas lega.
"Mbak, percaya deh, Mas Diko itu serius sama kamu. Kamu jangan mikir macem-macem ya. Kalau dia ga serius, dia ga akan semangat banget dengan pernikahannya ini" ucap Tia seolah tahu isi hati kakak iparnya.
Riana masih terlihat bingung.
"Mbak, kamu udah cinta sama Mas Diko?" tanya Tia meminta kejujuran.
Riana kaget mendengar pertanyaan Tia.
"Hmmm, gimana ya. Aku bingung jawabnya kalau itu. Tapi yang jelas doakan saja ya, semoga rasa cinta itu selalu ada dalam pernikahan kami" jawab Riana sambil menekan tombol lift.
__ADS_1
Mereka pun harus berpisah karena berbeda lantai, sebentar lagi Riana akan turun duluan.
Setelah berpisah dengan Tia, hati Riana mendadak gundah. Pikirannya berkecamuk berbagai pertanyaan.
'Apa Mas Diko menikahiku hanya karena syarat agar tidak dilangkahi adiknya? Terus kenapa dia belum cerita kalau Tia akan menikah minggu depan?' bathinnya sambil berjalan menuju kamar.
'Oh my God, apa karena itu sikap Mas Diko berubah baik sama aku? Padahal kan sebelumnya dia jutek banget' bathinnya lagi sambil menggigit kukunya karena gugup.
'Ya Tuhaan, cobaan apa inii? Kenapa di hari pertama pernikahanku, aku baru tahu alasan Mas Diko sebenarnya' ucapnya dalam hati.
Diketuknya pintu kamar beberapa kali. Tak lama kemudian terlihat Diko membukakan pintu untuknya.
Riana melirik laptop Diko sudah tak terlihat di atas meja, yang menandakan bahwa Diko sudah selesai bekerja.
"Kamu kenapa?" tanya Diko penasaran.
"Hmm, ga apa-apa Mas, aku cuma ngantuk aja" jawab Riana menyembunyikan kegundahannya.
"Kamu beneran ga apa-apa?" tanya Diko sambil memegang pipi Riana.
Dengan sentuhan Diko di pipinya, air mata Riana rasanya hendak menerobos keluar. Tapi ia tahan sekuat tenaga.
__ADS_1
Riana tersenyum kemudian mengangguk meyakinkan.
Dengan cepat Riana masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menyikat giginya.
Sambil menyikat gigi, lamumannya terbang jauh.
'Bagaimana kalau Mas Diko ga bisa cinta sama aku?' ucapnya dalam hati.
'Bagaimana kalau benar aku hanya syarat agar Tia bisa menikah' bathinnya lagi.
Riana pun buru-buru membasuh wajahnya untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruknya.
Saat ia keluar dari kamar mandi, terlihat Diko sedang tertidur di atas kasur dengan tangan masih memegang ponsel. Bisa dipastikan Diko ketiduran.
Riana pun memindahkan ponsel Diko ke atas nakas kemudian ia mengambil posisi berbaring di samping Diko.
Entah kenapa ada rasa kecewa melihat Diko tertidur di malam pengantinnya.
Dipandangnya lelaki itu. Di telusurinya wajah rupawan Diko inci demi inci.
'Apa ini pertanda bahwa dugaanku memang benar?' bathinnya sambil terus memandangi suaminya.
__ADS_1
'Buktinya di malam pengantin Mas Diko tertidur duluan, bukannya seharusnya ini menjadi moment mesra. Apa gunanya semua dekorasi ini kalau hanya dilewatkan dengan tidur? Kalau gini, di rumah juga bisa' dumelnya dalam hati.