
"Lho, kita mau ke supermarket mana sih sayang?" tanya Riana yang bingung karena Diko mengemudikan mobilnya ke arah yang berbeda.
"Hmmm, supermarket baru, pasti kamu suka deh belanja di sana" jawab Diko sambil terus fokus menyetir.
"Oh ya?? Kok kamu bisa tahu?" tanya Riana heran, perasaan Diko tidak pernah mengurusi hal-hal seperti supermarket baru yang ada di Jakarta.
"Temenku yang cerita" jawabnya kemudian.
Riana hanya mengangguk.
'Ooh mungkin memang sejak menikah pembahasan para lelaki sudah berubah menjadi tentang supermarket ataupun pusat perbelanjaan lainnya' bathin Riana.
Setelah sekitar sepuluh menit berkendara, mobil Diko berbelok kearah sebuah komplek perumahan. Riana yang bingung kemudian bertanya kembali.
"Kamu yakin Mas supermarketnya ada di daerah ini? Ini kan perumahan" ucap Riana heran sambil celingak celinguk.
Diko sengaja pura-pura sibuk dan tak menjawab pertanyaan Riana.
__ADS_1
Akhirnya sampailah mereka di depan sebuah rumah berwarna putih bergaya minimalis modern. Rumah satu lantai yang tak terlalu besar namun elegan dan terlihat manis.
"Turun dulu yuk sayang" ucap Diko sambil mengajak Riana untuk turun.
"Ini di mana Mas?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi Diko memilih untuk tak menjawab.
Setelah Riana turun dan berdiri tepat di depan rumah tersebut, Diko pun merentangkan tangannya seraya berkata "Selamat datang di rumah baru kita sayaang".
Riana tercengang sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Diko mengangguk mantap kemudian tersenyum. Ia langsung menarik Riana ke pelukannya, dipeluknya begitu erat dengan rasa cinta yang semakin hari semakin dalam.
"Rumah kita yang dulu sudah aku jual" ucap Diko.
Mendengar hal itu Riana langsung melepaskan pelukannya dan menatap Diko tak percaya.
__ADS_1
"Mari kita lupakan tentang rumah itu, kita mulai lembaran baru kita di rumah ini" ucap Diko.
"Anggaplah rumah itu tak pernah ada, anggap apa yang pernah terjadi di sana pun tak pernah terjadi. Sampai saat kita bertengkar kemudian kamu pergi dari rumah pun terjadinya di rumah itu. Anggaplah kita baru menikah dan masih pengantin baru, mari kita mulai semuanya di sini, berdua" lanjutnya sambil membelai mesra rambut istrinya yang terkena angin.
Riana meneteskan air mata bahagianya. Ia tak tahu harus berkata apa saat ini. Bahkan tak terpikir olehnya untuk pindah rumah, namun Diko memikirkannya sampai sedemikian rupa.
Dipeluknya suaminya itu dengan erat. Ia benar-benar merasa beruntung punya suami seperti Diko, selalu bisa ia andalkan dan selalu menjadi yang terdepan baginya.
"Jangan nangis lagi sayang, aku mau kamu bahagia, kita bahagia" ucap Diko sambil menghapus tetesan air yang meluncur dari sudut mata Riana.
Riana mengangguk sambil mengelap sisa-sisa butiran yang masih membasahi pipinya.
"Kamu itu wanita yang kuat, wanita yang mandiri dan cerdas. Aku yakin istriku ini tidak lemah, dia luar biasa" ujar Diko memberikan sugesti positif pada Riana.
Riana merasa ada sesuatu yang semakin terisi dalam dirinya, ibarat baterai yang sedang di-charge yang membuatnya kuat dan semakin kuat.
"Aku ingin Rianaku yang dulu kembali lagi, Riana istriku yang periang dan manja penuh kejutan. Riana yang setiap hari mengomeliku saat melihat handuk basah di atas kasur. Riana yang selalu membangunkan aku dengan suara dentingan wajan di pagi hari" ucap Diko sambil memegang kedua pipi Riana.
__ADS_1
Air mata Riana kembali menetes. Ia sadar sudah lama ia mengabaikan Diko karena kondisinya. Hari ini tepat dua bulan sejak kejadian itu, selama itu pulalah Diko telah berubah menjadi seseorang yang semakin mandiri. Diko yang dulu tak pernah tahu di mana letak kaos kakinya sendiri, kini sudah terbiasa mengambilnya sendiri tanpa harus bertanya di mana dan di mana. Banyak hal yang berubah pada Diko karena kondisi Riana saat ini.
"Sayang, yuk kita liat isi dalammya ya. Smoga kamu suka yaa" tarik Diko kemudian membuka pagar rumah tersebut