
Tiga hari sudah Riana di rumah sakit, hari ini ia sudah diperbolehkan pulang dengan dokter karena kondisi Riana yang sudah membaik dan dirasa sudah cukup kuat.
Namun dokter berpesan agar Riana tak terlalu banyak beraktivitas berat dan banyak beristirahat.
Sesampainya di rumah, Bi Yum langsung menyambut Riana dengan suka cita. Ia sangat senang mendengar berita bahwa Riana sedang mengandung.
"Ibu kalau kepengin makan apa gitu tinggal kasih tau sama Bi Yum, nanti Bi Yum masakin" ucap Bi Yum yang sangat perhatian.
Riana mengangguk sambil tersenyum. Ia senang Bi Yum sangat perhatian padanya.
Merekapun langsung menuju kamar untuk beristirahat. Riana juga masih sering pusing kalau terlalu lama berdiri.
Riana berganti baju dan mengenakan pakaian rumahan. Kemudian, ia segera istirahat.
"Mas, tolong panggilin Bi Yum dong" ucap Riana pada Diko yang baru saja selesai ganti baju.
"Emangnya kenapa sayang?" tanya Diko heran.
"Ini minta tolong ganti sprei dulu" jawabnya.
Tak lama kemudian Bi Yum masuk ke kamar.
"Bi, spreinya tolong diganti dulu ya" ucap Riana.
"Bu, tapi ini spreinya baru aja saya ganti sebelum ibu pulang tadi" jawab Bi Yum heran.
"Wanginya ga enak Bi, saya mual nyium baunya" ucap Riana lagi.
__ADS_1
Diko mendekat dan mengambil bantal yang ada di atas tempat tidur kemudian menciumnya.
"Ini wangi pengharum yang biasanya kok sayang. Enak kok baunya" ucap Diko.
"Iya aku tahu ini wangi yang kayak biasanya, tapi ini bikin mual Mas" ucap Riana.
Diko dan Bi Yum seketika berpandangan. Kemudian Diko memberi kode pada Bi Yum agar segera mencarikan sprei yang lain.
"Tapi Bu, kalau nunggu agak lama ga apa-apa kan? Soalnya sprei yang lain juga pakai pewangi yang sama, jadi saya strika dulu sprei yang baru aja kering tadi" ucap Bi Yum.
Riana mengangguk setuju.
Setelah sprei di tempat tidur mereka di ganti oleh Bi Yum, barulah Riana bisa tertidur pulas.
...***...
Kemudian dilihatnya keluar kamar, terlihat Riana sedang menonton televisi.
"Kamu udah bangun Mas?" tanyanya saat melihat Diko keluar kamar sambil menggosok-gosok mata.
"Suara berisik apa sih sayang?" tanya Diko.
"Maaf Pak," sahut Bi Yum dari arah dapur.
"Bi Yum lagi ngapain?" tanya Diko heran.
"Ini Pak, Bibi lagi bikin kue gemblong" ucapnya.
__ADS_1
"Kue apaan itu Bi?" tanya Diko yang baru sekali ini mendengar nama kue gemblong.
"Sejenis jajanan pasar Pak, dari ketan yang di kukus kemudian ditumbuk begini sampai halus" jelas Bi Yum sambil menunjuk lumpang tradisional yang dipakainya.
"Kok tiba-tiba bikin ini Bi?" tanya Diko.
Bi Yum langsung memandang ke arah Riana.
"Ibu katanya lagi pengin maka kue gemblong Pak, di Jakarta mana ada lagi orang yang jual. Ibu penginnya sekarang juga, jadi ya udah Bibi langsung bikin" jelas Bi Yum.
Diko manggut-manggut, kemudian langsung beranjak ke ruang keluarga.
"Kamu kenapa tiba-tiba pengin makan kue gemblong?" tanya Diko pada istrinya.
"Iya nih Mas, ga tahu. Tiba-tiba aja kepikiran terus rasanya pengin banget gitu, tapi aku maunya yang masih anget" ucap Riana.
Diko mulai paham ternyata istrinya itu mulai mengidam. Karena tak biasanya Riana seperti ini.
"Harus sekarang juga?" tanya Diko lagi.
"Penginnya sekarang Mas, rasanya tuh udah terbayang-bayang di ujung lidah" rengek Riana.
Diko langsung mendekat dan menempelkan kepalanya ke perut Riana.
"Anak Papa sayang lagi pengin kue gemblong ya? Kok ga pengin pizza atau hamburger aja gitu?" ucap Diko seolah bertanya pada anaknya yang masih di dalam perut istrinya.
Riana pun terkekeh.
__ADS_1
"Mungkin anak kita seleranya lokal kali Mas, dia ga suka yang western" ucap Riana sambil tertawa geli.