
Riana dan Diko memasuki kamar pengantin mereka dengan canggung.
Yang biasanya mereka mengobrol dengan santainya, kini terlihat tak banyak bicara.
Diko yang baru saja melihat dekorasi kamar masih sibuk melihat-lihat sampai ke kamar mandi.
"Hmm, bagus ya dekorasinya" ucapnya kikuk.
"Hmm, iya Mas, bagus ya" jawab Riana gugup.
"Aku ke kamar mandi dulu ya Ri" ucap Diko sambil berlalu ke kamar mandi.
Riana membongkar kopernya membereskan yang sudah di obrak-abriknya saat mencari baju tadi sore. Ia tak enak pada Diko kalau harus melihat koper berantakannya pada hari pertama sebagai istri.
Tak lama berselang, Diko keluar dari kamar mandi.
Ia terlihat bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana super pendek.
Sontak Riana kaget melihatnya, baru sekali ini ia melihat Diko dengan pakaian seminim ini.
Diko yang sadar dengan ekspresi kaget Riana langsung meminta maaf.
"Maaf yaa Ri, aku soalnya ga bisa tidur kalau pake baju. Emang udah dari dulu begini. Kamu ga apa-apa kan?" tanya Diko sopan.
Riana menyengir sambil menelan ludahnya.
__ADS_1
"Ehehe, ga apa-apa Mas. Santai aja" ucapnya sambil meneruskan beres-beres koper.
Kemudian Diko terlihat membuka laptopnya sambil duduk di atas sofa.
"Ada kerjaan ya Mas?" tanya Riana mencoba mencairkan suasana.
"Iya nih, ada email yang harus aku balas. Baru sempet buka email soalnya sejak kemarin" jawab Diko sambil terus berkonsentrasi pada layar laptopnya.
Riana yang sambil melipat baju-bajunya itu pun menjadi tidak bisa berkonsentrasi karena pemandangannya di kamar itu.
Diko yang bertelanjang dada, kemudian bagian celananya tertutup laptop membuat tampilannya seolah naked. Tentu saja itu membuat pikirannya travelling kemana-mana.
'Duh kenapa sih Mas Diko harus sexy banget. Aku aja rela pake baju sopan biar Mas Diko ga mikir macem-macem. Eh malah dia yang minim banget pakaiannya udah kaya mau renang' bathinnya sambil ujung matanya terus melirik Diko.
Riana langsung mengintip dari lubang yang berada di tengah pintu. Ternyata Tia lah yang datang.
"Kenapa Tia?" tanya Riana sambil membuka pintu cukup lebar.
Tia kemudian masuk beberapa langkah. Diko yang sedang bekerja pun turut bertanya.
"Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Gini, jam tanganku ketinggalan di toilet dekat ballroom tadi. Temenin aku dong Mas, aku takut ke sana sendiri" rengeknya pada Diko.
"Udah, ayo Mbak yang temenin" jawab Riana sambil menarik lengan Tia.
__ADS_1
"Kamu berani Ri?" tanya Diko meyakinkannya.
"Berani kok Mas, aku pergi sebentar ya" ucapnya pamit.
Riana dan Tia pun berjalan menuju lift dan turun ke lantai 1. Kemudian mereka berdua langsung mengecek ke toilet yang di maksud oleh Tia. Dan bersyukurnya, jam tersebut masih ada di tempat itu.
Tia tampak lega sambil memegang jam tangan pemberian kekasihnya itu.
"Ya ampun, untung aja jamnya masih ada Mbak. Aku takut banget kalau sampai hilang. Soalnya ini hadiah ulang tahun dari pacarku Mbak" jelas Tia sambil terus menggenggam jam tangannya itu.
"Masih rejeki kamu berarti Tia, lain kali hati-hati ya" ucap Riana sambil tersenyum.
Tia mengangguk merespon ucapan kakak iparnya itu.
"Oh iya Mbak, aku mau minta maaf. Gara-gara aku kalian jadi buru-buru nikahnya" ujar Tia sambil menunjukkan ekspresi sedih.
"Kok gara-gara kamu?" tanya Riana keheranan.
"Lho, Mbak Riana belum tahu kalau minggu depan aku menikah?" tanyanya dengan polos.
Riana menggelengkan kepalanya.
Tia sontak menutup mulutnya.
'Berarti Mas Diko belum cerita ke Mbak Riana' bathin Tia.
__ADS_1