Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 17


__ADS_3

Diko melangkahkan kaki ke ruangannya dengan langkah gontai. Tatapannya kebawah dan raut wajahnya cukup muram.


Begitu sampai di mejanya, ia duduk dan langsung dibenamkannya wajahnya di antara kedua lengannya.


Sekitar lima menit, Joe masuk ke ruangan dengan membawa dua cup kopi. Sepertinya ia tadi terlebih dahulu mampir ke coffee shop sebelum ke kantor.


Di taruhnya satu di atas meja Diko. Kemudian digoyang-goyangkannya tubuh Diko dengan telunjuknya.


"Dik.. Heh Dik.. Lu tidur?" ucapnya sambil menggoyangkan bahu Diko.


"Ini ada kopi. Ngopi dulu gih, biar ga ngantuk" lanjutnya.


"Dik.. Lu tidur beneran?" lanjut Joe karena belum ada respon dari Diko.


"Hmmm" sahut Diko lirih.


"Lu tidur?" tanya Joe lagi.


"Ga" jawab Diko singkat.


"Hmmmm.. Gue tahu. Bau-baunya nih masih tentang masalah nikah ni. Aromanya masih belom kelar ni masalah penemuan jodoh" ujar Joe sambil duduk di kursi yang berada di depan meja Diko.


Diko mengangkat kepalanya kemudian memandang wajah Joe dengan tatapan hopeless kemudian mengangguk.


"Tia nikahnya dimajuin jadi 2 minggu lagi, dan gue mesti nikah sebelum itu" ucap Diko sambil menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Hahhh??" sahut Joe terkejut.


"Lu harus nikah dalam waktu dekat dan sekarang lu masih diem aja gitu di sini?" tanya Joe.


"Lha terus gue mesti gimana??" tanya Diko bingung.


"Lu udah jadi ketemuan sama Riana waktu itu?" tanya Joe pada Diko.


"Udah, tapikan ga mungkin gue ngajak nikah tiba-tiba gini. Lha kalau gue ditolak gimana, lagian gue belum begitu yakin Joe" jawabnya.


"Kan elu belum nyoba, udah lu pokoknya ketemu dia sekarang. Entah gimana caranya lu sambil cari mood dia yang enak, terus langsung ajak nikah" cecar Joe tak sabar.


Diko bengong mendengar saran Joe yang menyuruhnya melamar Riana sekarang.


Ia kemudian mencari kontak bernama Riana dan melakukan panggilan telepon serta me-loud speakernya.


Terdengar suara panggilan yang sedang menyambung.


Tak lama terdengar suara Riana dari seberang telepon.


"Halo.." ucap Riana.


"Eh iya, halo Ri" jawab Diko gugup.


"Lagi sibuk ga?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Aku lagi ngajar nih, tapi sebentar lagi kelar. Ada apa Mas?" jawab Riana.


"Hmmm.. Hmm" Diko terlihat kebingungan.


"Mas.. Mas Diko.. Haloo" ucap Riana karena tidak mendapat jawaban dari Diko.


Joe memelototkan matanya sebagai kode agar Diko segera bicara.


"Hmm, iya, hehe, inii.. Hmm maksud aku siang ini ketemu di Cafe Toffie yang di dekat Unphar bisa ga?" tanya Diko.


"Ooh, aku kira ada apa. Iya, bisa Mas. Tapi berhubung aku sebentar lagi kelar ngajar, kayaknya aku duluan yang sampe sana deh" jawab Riana.


"Oh kalau gitu aku gerak sekarang ya. Sekitar 15 menit aku nyampe" jawab Diko cepat.


Joe tersenyum puas mendengar percakapan Diko dan Riana.


Diko langsung mengantongi ponsel dan mengambil kunci mobilnya.


"Gue mesti ngomong gimana bro?" tanya Diko bak anak kecil yang bertanya PR pada orang tuanya.


"Lu pokoknya begitu liat moodnya bagus, langsung aja. Jangan lupa berdoa, dan ingat lu mesti tulus jangan pura-pura. Yakinin diri lu Dik" jawab Joe memberi nasehat.


Diko mengangguk.


"Oke, gue jalan dulu ya. Doain lancar" ucapnya sambil menepuk pundak Joe kemudian berlalu.

__ADS_1


__ADS_2