
Diko pun beranjak ke halaman belakang untuk membantu Pakdhe Heri dan Bintang yang tengah membersihkan alat barbeque yang baru saja mereka ambil dari gudang.
Sedangkan para wanita sibuk di dapur untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Hingga malam menjelang mereka semua masih asyik dengan acara. Mengobrol dan bercanda yang tiada habisnya terasa seru hingga tak terasa hari semakin gelap.
Diko beberapa kali memergoki Dira sedang memandanginya. Ia tak tahu apa yang ada di pikiran Dira sehingga menatapnya seperti itu.
Sampai ia berkali2 mengusap wajahnya, ia takut kalau saja ada bekas saus atau makanan lain yang menempel di wajahnya sehingga Dira terus melihatnya.
Riana terlihat sibuk membereskan beberapa makanan yang masih tersisa. Ia mulai membereskan piring kotor untuk dibawa ke dapur karena hari mulai gelap.
"Aku ke toilet dulu ya" ucap Diko sambil berbisik pada Riana yang tengah berberes.
Kemudian Riana mengangguk.
"Udah mau malem nih, aku pamit dulu ya Budhe, Pakdhe" ucap Dira sambil berdiri dan menyambar ponselnya.
Iya pun menyalami Budhe Retno, Pakdhe Heri Farah, Bintang dan Riana kemudian berlalu.
"Kerja sesibuk gimana sih sampe ga bisa dateng acaranya Riana?" gumam Bintang setelah kepergian Dira.
"Ah udah lah, biarin. Kayak ga tau Dira aja" jawab Budhe Retno menepis prasangka anaknya.
Ternyata ketika hendak keluar, Dira berpapasan dengan Diko yang baru saja keluar dari toilet.
__ADS_1
Dira pun tersenyum dan menghampiri.
"Eh Mas Diko, kita selfie dulu ya. Besokkan udah harus pulang ke Jakarta" ucapnya sambil mengambil posisi yang sangat mepet dengan Diko.
"Oh, aku ajak Riana sekalian" jawab Diko.
"Jangan, jangan. Tadi udah kok aku foto sama Riana" ucapnya berbohong sambil memotret dirinya dan Diko.
"Aku pamit ya Mas Diko" ucapnya menyalami.
Diko pun mengulurkan tangannya untuk menyambut salam Dira.
Tapi tangan Diko tak kunjung dilepasnya.
"Hmm, maaf" ucap Diko sambil menarik tangannya pelan.
"Hmmm, takut ya? Takut dilihat Riana?" tanya Dira sambil tersenyum penuh arti dan tak melepas pegangannnya.
Diko akhirnya mengetahui bahwa Dira sedang menggodanya. Ternyata tatapannya sejak tadi adalah tatapan mencari perhatian Diko.
Diko sungguh tak habis pikir, bisa-bisanya Dira mencoba untuk menggoda suami sepupunya sendiri.
"Tolong lepaskan, dari pada saya tarik paksa" ucap Diko dengan suara yang dipelankannya.
Dira tertawa kecil mendengar ucapan Diko.
__ADS_1
"Duh, jangan galak-galak ntar naksir lho" jawabnya sambil melepaskan tangan Diko.
"Kalau butuh nomor telepon aku, lihat aja di HP Riana" ucapnya lagi sambil mengelus pipi Diko kemudian berlalu.
Setelah Riana menghilang dari balik pintu, Diko melihat ke setiap sudut ruangan. Ia takut kalau ada orang yang melihat dan akan menjadi salah paham.
Kemudian Diko kembali ke halaman belakang, terlihat Pakdhe Heri dan Bintang sedang membuka tutup sebuah meja bilyard, yang jarang mereka gunakan.
Melihat kedatangan Diko, mereka langsung sigap mengajak Diko bermain.
Budhe Retno geleng-geleng kepala melihat mereka yang tidak ada capeknya.
"Mas, aku mandi dulu ya" ujar Riana pada Diko yang mulai konsentrasi bermain.
"Diko jangan di ajak main tho, kasian capek. Pengantin baru lho ini" ucap Budhe Retno sambil menepuk pundak suaminya.
"Lha ini kalau udah main bilyard ya mesti sampai tengah malem Ri" tambah Budhe Retno.
Pakdhe Heri dan Bintang hanya cengengesan saja melihat Budhe Retno mengomel.
"Ga apa-apa Budhe, sekali-sekali ke sini. Main bilyard kalau ga sampai tengah malam ga enak Budhe" jawab Diko membela para lelaki.
"Iya Budhe, ga apa-apa kok" timpal Riana sambil tersenyum kemudian berbalik untuk masuk ke rumah.
Riana pun lalu masuk ke dalam rumah kemudian menuju kamar.
__ADS_1
"Kemarin malam ditinggal tidur, malam ini ditinggal main bilyard" gumamnya cemberut sambil melangkah gontai.
"Pengantin baru macam apa ini" dumelnya sambil menyambar handuk yang tergantung di balik pintu.