
Riana langsung menghambur ke pelukan Diko yang langsung mencium keningnya dengan mesra.
Riana langsung melirik ke arah meja Joe yang kosong.
"Itu meja Joe, kami seruangan biar lebih mudah. Tapi dia lagi ketemu klien di luar" ucap Diko yang mengetahui isi pikiran Riana.
"Kamu belum makan siang kan? Yuk kita makan bareng-bareng" ucap Riana yang langsung membuka apa yang sudah dibelinya tadi.
Nafsu makan Diko langsung muncul begitu melihat apa yang dibawa Riana untuknya. Begitu terlihat nikmat dan menggiurkan.
Sambil makan siang mereka mengobrol santai. Karena sangat jarang mereka berdua bisa makan siang bersama selain Sabtu Minggu.
Diko terlihat begitu menikmati moment makan siangnya yang sangat jarang terjadi ini, karena ia biasanya makan siang dengan Joe, Joe lagi dan Joe terus. Namun hari ini berbeda, ia di temani oleh bidadari hatinya.
"Kalau kamu mau lanjut kerja ga apa-apa kok Mas" ucap Riana sambil membereskan bekas makan siang mereka kemudian membuangnya ke tong sampah.
"Masa istriku sekali-sekali ke sini terus aku malah kerja" ucap Diko.
"Ya ga apa-apa, biar aku balik ke kantor" ujarnya sambil berdiri menyandar ke meja kerja Diko.
Diko langsung menarik tubuh Riana untuk duduk di pangkuannya.
"Mas, nanti kalau ada orang yang masuk gimana?" tanya Riana panik.
Diko hanya tersenyum penuh arti.
"Biarin" jawabnya yang disambut pelototan Riana.
Riana langsung berniat bangkit dari pangkuan Diko karena khawatir ada yang melihat mereka bermesraan. Ia teringat pernah melihat atasan dan istrinya berciuman di kantor. Ia tak ingin hal yang sama di alami oleh karyawan Diko.
__ADS_1
Diko langsung gerak cepat menahan tubuh Riana agar tak bangkit. Ia langsung mengangkat gagang telepon yang ada di sebelahnya, kemudian memencet satu digit nomor.
"Lisa, sementara jangan bolehkan satu orangpun masuk ke ruangan saya" ucap Diko yang memudian meletakkan kembali gagang teleponnya.
"Gimana? Udah aman kaan?" tanyanya sambil menatap Riana.
"Kamu tu ya Mas, ada-ada aja" jawab Riana kemudian mencubit pinggang Diko.
"Abisnya aku masih kangen sama istriku ini" ucap Diko sambil mencium bibir Riana singkat.
"Kamu itu emang paling bisa kalau udah punya keinginan" ucap Riana yang kemudian balik mencium bibir Diko dengan penuh perasaan.
Diko pun tak menyianyiakan kesempatan. Dinikmatinya bibir istrinya dengan penuh penghayatan.
Lama kelamaan suara ciuman tersebut terdengar semakin panas dan berdecap kuat.
Riana merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah bokongnya. Ternyata Diko mulai terbakar nafsu.
Diko memindahkan ciumannya ke arah leher Riana hingga terdengar lenguhan Riana yang sedang menikmati.
"Aaahhh" lenguhnya yang membuat Diko semakin semangat dan berapi-api.
"Tangan Diko menjalar kedua bukit kembar milik Riana yang dengan mudah digapainya.
"Maasshhh" ucap Riana meracau.
Lagi-lagi Riana mendesah pertanda ia juga sudah terbakar nafsu.
Tangan Diko bergerak ke arah bawah, disingkapnya Rok istrinya agar leluasa.
__ADS_1
Riana merasakan seperti sesuatu yang sedang berjalan di pahanya menuju **** *************.
Kemudian Riana segera tersadar.
Riana menarik tubuhnya yang telah di dekap oleh Diko.
"Mas, please jangan. Ini kantor" ucap Riana menyadarkan suaminya.
"Seru kali ya kalau ngelakuinnya di kantor, biar kayak di film-film dewasa" jawab Diko sambil tersenyum nakal.
Riana melotot tak setuju dengan omongan suaminya.
"Mas, kamu jangan gila ya, aku ga mau" ucap Riana.
"Kamu ga kasian sama yang di bawah, udah bangun lho dia, gimana dong?" tanya Diko sambil menunjuk ke arah antara kedua pahanya.
"Nanti aja ya sayang, di rumah aja" jawab Riana lagi kemudian berusaha berdiri.
Lagi-lagi Diko mencegahnya.
"Kalau di rumah ya kelamaan dong sayang. Emangnya kamu ga ngerasa nanggung apaaa?" goda Diko.
Riana menggeleng berbohong, padahal ia memang menginginkan sesuatu yang lebih, namun ia malu untuk jujur.
Kemudian Diko berdiri dan menarik tangan Riana keluar.
"Mau kemana Mas?" tanya Riana yang buru-buru menyambar tasnya yang terletak di atas meja kerja Diko.
"Ke hotel" ucap Diko singkat sambil terus menggandeng istrinya keluar.
__ADS_1