
Riana menghempaskan tubuhnya ke atas kasur di kamar barunya.
"Hmmm, wangi banget" ucapnya.
"Iya dong, memang gini kalau rumahnya dikerjain sama yang handal. Semuanya sudah rapi dan wangi serta siap untuk ditempati" jawab Diko bangga.
"Iya deh, kamu memang handal" ujar Riana untuk menghibur suaminya.
Diko hanya tertawa kecil mendengar pengakuan dari istrinya itu.
Diko membaringkan tubuhnya disamping Riana.
"Aku harap kamu bisa merasa nyaman di sini, dapurnya juga lebih lengkap dari dapur lama kita, biar kamu bisa sering-sering masak biar ga suntuk di rumah" ucap Diko mengingat bahwa kini Riana sudah menjadi ibu rumah tangga karena telah resign dari pekerjaannya.
"Kamu sampai perhatiin sedetail itu Mas?" tanya Riana sambil mengubah posisinya menyamping menghadap suaminya.
"Untuk istriku yang hebat ini, apa sih yang ga?" jawabnya sambil tertawa.
Riana mencubit gemas pinggang suaminya. Ia sangat bahagia dan berharap bisa selalu seperti ini dengan Diko.
Diko perlahan mendekat ke arah Riana.
Dengan begitu berhati-hati ditempelnya bibirnya ke bibir Riana dengan lembut. Dikecupnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Dicobanya untuk sedikit lebih cepat dan menuntut, berharap ada balasan dari Riana. Riana kemudian membalas ciuman suaminya itu dengan perlahan.
Ada rasa senang dalam hati Diko karena Riana mulai bisa menerima aktifitas seksual yang dua bulan ini tak lagi bisa mereka lakukan, dan Diko pun belum memberanikan diri untuk mencobanya.
Entah kenapa saat ini timbul keberaniannya untuk mengetes apakah istrinya sudah siap untuk dicumbunya selayaknya suami istri seperti dulu.
Tangan Diko membelai rambut Riana dengan mesra. Ia ingin Riana nyaman melakukannya oleh karena itu ia menjaga untuk tak terlalu menggebu-gebu walaupun darahnya sudah berdesir kencang.
Diturunkannya ciumannya menuju leher jenjang milik istrinya, dinikmatinya perlahan dengan penuh kehati-hatian. Terdengar lenguhan pendek dari Riana yang membuat dirinya semakin bernafsu.
Desahan demi desahan terdengar ditelinganya hingga Diko sulit menahan dirinya untuk tak menggebu-gebu. Dirinya seperti sudah kelaparan namun harus tetap makan pelan-pelan, sungguh sulit untuk dilakukan. Namun terus dicobanya agar Riana tetap nyaman.
Tangannya yang sejak tadi sudah tak sabaran perlahan menuju blouse yang dikenakan Riana kemudian menyingkapnya dengan perlahan.
Diko langsung menghentikan aktifitasnya. Ia segera sadar bahwa Riana masih belum siap untuk semua ini.
"Sayang, maaf. Maafin aku. Ga apa-apa kalau kamu belum siap" ucap Diko sambil mengusap wajah Riana yang masih terlihat takut.
"Kamu tenangin diri ya, kamu aman, ada aku di sini" lanjut Diko berusaha menenangkan istrinya.
Riana mencoba duduk dan menarik nafas panjang dan membuangnya secara teratur seperti yang telah di ajarkan psikolog padanya jika perasaan takut dan paranoid kembali datang padanya.
Diko melihat Riana berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia bangga saat ini Riana sudah mulai bisa menenangkan dirinya saat perasaan paranoidnya muncul.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa sayang, kamu pasti bisa" ucap Diko sambil merangkul pundak istrinya itu.
Riana mengangguk sambil terus mensugesti dirinya dengan pikiran positif. Diko masih sefia mendampingi Riana yang masih menenangkan dirinya sendiri hingga kurang lebih 10 menit Riana sudah tampak kembali seperti Riana yang biasanya.
"Aku bisa Mas" ucapnya kemudian.
"Iya, aku yakin kamu bisa" jawab Diko sambil menepuk punggung tangan istrinya.
Tiba-tiba ponsel Riana berdering.
Terlihat nama Mey tertera di sana sedang melakukan panggilan untuknya.
"Hallo" jawab Riana.
"Ri, Bu Devi mau jengukin elu. Kira-kira lu udah bisa atau belum? Kalau belum, ga usah di paksain. Gue ngerti" ucap Mey.
Riana tersenyum. Ia tak menyangka Bu Devi, manager keuangan di kantornya sebagai atasan mau menjenguknya.
"Iya, gue udah bisa kok. Datang aja ke rumah mertua gue. Kapan rencananya?" tanya Riana kemudian.
"Sore ini abis pulang kerja kita kesana ya" jawab Mey.
"Oke, gue tunggu ya" ucap Riana mengakhiri percakapan.
__ADS_1