Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 140


__ADS_3

Setelah pertemuan itu, Riana dan Diko mengantarkan Dira pulang ke rumahnya. Mereka sekalian pamit sama Tante Risna dan Om Didi karena nanti malam Riana dan Diko akan pulang ke Jakarta.


"Tante, Om, aku anterin Dira pulang sekalian kami berdua pamit ya. Nanti malam kami pulang ke Jakarta" ucap Riana saat melihat Tante Risna dan Om Didi sedang duduk di ruang keluarga rumah mereka.


Tante Risna dan Om Didi segera bangkit mendekati Riana dan Diko.


"Lho kok cepet banget ndhuk pulang nya?" tanya Om Didi sambil menepuk pundak Diko.


"Iya Om, sudah seminggu lebih ninggalin kerjaan. Sepertinya sudah harus kembali ke rutinitas" jawab Diko.


Om Didi tertawa dan mengangguk sambil menepuk pundak Diko pelan.


"Benar juga, namanya masih muda. Memang harus semangat kerja, nanti kalau sudah seperti Om ini, baru deh waktunya istirahat. Habisnya sudah tidak sekuat dulu, sudah banyak capeknya" ucap Om Didi lagi.


Tante Risna memandang Riana sambil mengangkat alisnya. Seolah kode bertanya 'bagaimana dengan Dira tadi?'.


Riana yang paham hanya memberi anggukan pelan sebagai jawaban kalau 'all is well'.


Saat berpelukan untuk berpamitan dengan tante Risna, Riana membisikkan kalau nanti ia akan menghubungi Tante Risna.

__ADS_1


Sebelum masuk ke dalam mobil, Riana mencoba menelisik Dira.


"Sepertinya Alex tertarik sama kamu" ucap Riana sambil melihat ekspresi Dira.


"Tadi dia juga minta nomor handphoneku" jawab Dira penuh keraguan.


Riana cukup terkejut ternyata Alex gerak cepat juga.


"Kalau untuk berteman biasa mungkin aku bisa Ri, tapi kalau untuk lebih sepertinya aku belum bisa untuk saat ini" ucap Dira.


"Aku mengerti, aku juga tidak bisa bilang apa-apa tentang Alex karena aku juga baru kenal dia tadi. Tapi menurut aku ga ada salahnya kamu mencoba untuk lebih kenal dengan dia" ucap Riana memberi masukan.


Dira mengangguk sambil tersenyum.


"Bagus itu, memang seperti itu seharusnya Dir. Aku yakin kamu pasti bisa melewati badai ini, dan menjalani hidup kamu seperti biasa lagi. Kamu harus semangat ya" ucap Riana sebagai kalimat berpisah.


Keduanya lalu berpelukan erat cukup lama. Saling menguatkan, saling menunjukkan kasih sayang yang telah sekian lama menghilang.


Setelah itu Riana bergegas masuk ke dalam mobil. Mereka harus segera pulang ke rumah Budhe Retno karena sudah menjelang sore.

__ADS_1


Di perjalanan, Riana bertanya pada Diko tentang Alex.


"Sayang, sepertinya Alex tertarik sama Dira. Dia minta nomor handphone Dira" ucap Riana.


Diko tersenyum setuju, ia juga melihat seperti itu.


"Mereka berdua sama-sama sudah waktunya punya pasangan yang serius, lebih bagus lagi kalau bisa menikah. Alex laki-laki yang baik terlepas dari masalalunya. Ia pekerja keras, bertanggung jawab dan sudah matang secara usia" jawab Diko diplomatis.


"Aku belum kenal Alex dengan baik, tapi entah kenapa aku suka jika dia bisa menjadi jodoh untuk Dira. Semoga mereka betul berjodoh. Nanti aku bantu lewat Dira, kamu bantu lewat Alexnya ya Mas" ucap Riana.


"Maksud kamu, kita jadi mak comblangnya nih?" tanya Diko sambil melihat istrinya yang bersemangat sekali itu.


Riana mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau mereka benar-benar berjodoh kan kita juga dapat pahalanya Mas, sama seperti Papa kamu yang menjodohkan kita sampai menikah" ucap Riana.


Diko mengangguk setuju.


Riana mengulurkan tangan mengajak Diko bersalaman.

__ADS_1


"Untuk misi perjodohan Alex dan Dira" ucap Riana.


Diko menyambut uluran tangan Riana sambil mengangguk. Diko hanya bisa tertawa sambil mengacak rambut istrinya pelan.


__ADS_2