Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 43


__ADS_3

"Please Mbak, pulangnya nanti malam aja yaaa" rengek Tia pada Riana setelah makan siang.


Ia minta temani Riana ke houseware untuk mencari beberapa barang.


"Mas Reza soalnya ada urusan Mbak, mama masih capek banget" lanjutnya.


"Mbak sih mau aja, tapi Mas Diko katanya malam ini ada kerjaan yang mau di selesaikan" jawab Riana kebingungan karena ia dan Diko berencana pulang ke rumah mereka menjelang sore ini.


"Janji deh jam 6 udah di rumah" rayu Tia lagi agar Riana mau menemaninya.


"Hmmm, ya udah Mbak ijin ke Mas Diko dulu ya mudah-mudahan boleh" ucapnya pada Tia.


Kemudian Riana langsung beranjak mencari Diko untuk meminta ijin karena ia akan pergi bersama Tia. Sejujurnya, ia malas harus bicara pada Diko tapi ia juga tak enak jika menolak Tia.


Dilihatnya Diko sedang memilih beberapa action figure miliknya yang masih berada di rumah ini untuk nanti dibawa pulang ke rumah.


"Mas" panggil Riana pelan.


Kemudian Diko berbalik melihat Riana yang memanggilnya.


"Iya, kenapa Ri?" tanyanya.


"Hmm, Tia minta tolong temenin ke houseware buat beli koper sama beberapa barang lain soalnya Reza lagi ada urusan. Kalau misalnya kita pulang kerumah agak malam boleh ga?" tanyanya dengan sopan namun tetap tak ada muka ramah terlihat di wajahnya.


"Iya, tapi jangan terlalu malam, aku ada kerjaan yang harus selesai besok soalnya." jawab Diko mengizinkan.


Kemudian Diko terlihat merogoh saku di bagian belakang celananya dan mengambil dompetnya serta menyerahkan sebuah kartu berwarna silver pada Riana.


"Buat apa Mas?" tanya Riana melihat ATM yang di sodorkan Diko.

__ADS_1


"Pakai ini kalau kamu beli sesuatu di sana ya" ucap Diko.


"Hmm, ga usah Mas. Aku masih ada kok, lagian ATM kamu yang satu lagi juga masih ada di aku" jawabnya sambil menolak pemberian Diko.


Kemudian ia pun berlalu dan menemui Tia.


'Aku ga butuh uang buat saat ini Mas, melainkan kasih sayang. Yang selalu kamu sodorkan hanya uang uang dan uang, kalau masalah uang, dari sebelum menikahpun aku sudah bisa cari uang' gumam Riana sambil menuruni tangga.


Sebenarnya Tia sengaja mengajak Riana untuk pergi bersamanya agar Papa dan Mamanya bisa memcoba mencari tahu permasalahan sebenarnya dari Diko.


...***...


Selepas Riana dan Tia pergi, Bu Hesti sengaja menyuruh Bi Prapti untuk membuat cemilan, agar ada alasan menyuruh Diko turun ke lantai satu untuk mengobrol dengan Bapak dan Ibunya.


"Dik, ayo coba cicip dulu ini bikinan Bi Prapti barusan" ujar Bu Hesti sambil menarik Diko yang kebetulan turun.


Dibukanya obrolan-obrolan ringan dengan Diko agar Diko tak curiga.


Sambil menikmati pisang goreng coklat buatan Bi Prapti mereka pun mengobrol dengan asyiknya. Diko tak sedikitpun terlihat curiga bahwa moment ini di setting oleh orang tuanya dan Tia.


Setelah kurang lebih setengah jam mengobrol, Pak Ridwan mulai ingin menelisik.


"Ko, kamu sama Riana baik-baik aja kan?" tanya Bapaknya.


"Emangnya kenapa Pa?" tanya Diko balik.


"Hmm, ga apa-apa. Papa liat Riana banyak Diam kalau lagi sama kamu. Apa kalian ada


masalah?" lanjut Pak Ridwan berhati-hati.

__ADS_1


"Hmm, jangan bahas ini deh Pa. Aku males" jawab Diko.


"Kok gitu Dik? Berarti benar ada masalah?" tanya Bu Hesti yang mulai bersuara.


"Ma, please jangan bahas ini ya" pintanya pada Ibunya.


"Dik, Papa mohon kamu perlakukan Riana dengan baik. Kamu lihat kan kemarin bagaimana keluarganya? Semuanya baik di sana ramah sama kita, jangan sampai kita mengecewakan orang" nasehat Pak Ridwan.


"Paaa, aku ga pernah memarahi Riana. Tanya aja ke Riana kalau Papa dan Mama ga percaya" jawab Diko lagi.


"Bersikap yang tidak baik itu bukan hanya memarahi Nak" ujar Bu Hesti lagi.


"Dengan bersikap acuh saja kamu udah bersikap tidak baik dengan istri kamu" ucap Bu Hesti.


"Aku tahu Ma, udah deh aku ga mau bahas ini" jawab Diko yang mulai kesal.


"Kami sebagai orang tua kan hanya menasehati kamu, agar kamu tidak salah jalan" ucap Pak Ridwan dengan nada sedikit tinggi karena kesal melihat Diko yang sedang menghindar.


"Pa, aku akan urus rumah tangga ku. Cukup saat memutuskan untuk menikah saja yang Papa campuri" jawab Diko.


Pak Ridwan terkaget mendengar ucapan Diko.


"Jadi kamu anggap Papa ini mencampuri urusan kamu?" tanya Pak Ridwan marah.


"Kan aku sudah bilang sama Papa kalau aku belum siap untuk menikah saat itu, tapi papa tetap paksa aku dengan berbagai alasan" jawab Diko tak kalah terlihat marah.


Pak Ridwan naik darah melihat Diko yang keras kepala.


"Kamu ini benar-benar ya Diko. Pokoknya Papa ga mau tahu. Kamu jangan sampai kecewakan Riana, perlakukan dia dengan Baik, sayangi Dia, dan pakai perasaanmu" ucapnya sambil menunjuk wajah Diko dengan geramnya.

__ADS_1


__ADS_2