Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 55


__ADS_3

Riana tak tahu harus kemana untuk mengadu. Bercerita dengan orang lain hanya membuatnya malu dengan umur pernikahannya yang masih seumur jagung ini. Ia merasa lebih baik memendam semuanya. Walaupun entah kapan ia akan menemukan jalan keluarnya.


Untuk mengalihkan perhatiannya dengan semua permasalahan ini, Riana mulai menyalakan laptopnya untuk mencoba mengerjakan pekerjaannya karena hari ini ia masih cuti. Dicobanya untuk fokus dan berkonsentrasi agar pikiran dan hatinya bisa teralihkan sejenak.


Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


'tok tok tok'


Riana beranjak dari kursinya.


Kemudian ia mengintip dari balik jendela, untuk melihat siapakah yang datang.


'Mas Diko?' bathinnya setelah melihat Dikolah yang sedang berdiri di sana.


'Mau apa dia kesini?' gumamnya dalam hati dengan kesal.


Dibukanya pintu dengan wajah paling datar dan tanpa sepatah katapun. Riana punya keberanian memberontak di sini karena hanya ada Riana seorang, berbeda dengan di rumah mertuanya yang ramai dan Riana harus berpura-pura tidak ada masalah.


Diko melihat wajah Riana yang tak bersahabat dan matanya yang sembab. Bisa dipastikan Riana baru saja menangis.


"Kamu abis nangis?" tanya Diko sambil berniat mengusap pipi Riana. Namun dengan cepat Riana menepisnya.

__ADS_1


Diko terkejut dengan penolakan Riana.


"Ga usah sok baik kamu!" ucap Riana cepat.


Diko menarik nafas panjang. Ternyata Riana benar-benar marah padanya.


"Ri, kita bicara ya" bujuk Diko lembut.


"Ga usah! Ga perlu!" jawab Riana ketus.


"Aku salah, aku minta maaf" ucap Diko sambil memegang kedua pundak Riana.


Namun lagi-lagi Riana berusaha menolak dan melepaskan pegangan Diko.


"Riana," ucap Diko sambil kembali mencoba mendekat Pada Riana.


Riana menjauh mundur selangkah.


"Riana, please. Aku ga seperti yang kamu pikirkan" ucap Diko menarik Riana mendekat.


"Lepasin Mas! Aku udah ngerti semuanya" teriak Riana berusaha melepaskan tangan Diko pada pinggangnya.

__ADS_1


Tapi Diko tak melepaskan sedikitpun pegangannya, ia tahu Riana sangat emosi saait ini. Di tariknya tubuh Riana ke dalam, di tutupnya pintu kamar agar teriakan Riana tidak mengganggu orang di luar.


"Lepas Mas, pergi kamu!" jerit Riana sambil terus meronta.


"Kenapa kamu ke sini hah?!" oceh Riana dengan tatapan tajam.


"Sekarang Tia sudah menikah, Papa juga sudah tidak ada. Tidak ada lagi beban kamu untuk mempertahankan aku. Silahkan kamu tinggalin aku Mas!! Aku tahu tujuan kamu nikah sama aku cuma untuk memperlancar pernikahan Tia, bukan karena punya perasaan sama aku" teriaknya sambil terisak.


"Ri, please tenang dulu. Aku tidak seperti itu" jawab Diko sambil terus mempertahankan Riana yang terus meronta mencoba untuk melepaskan Diri.


"Memang jahat kamu Mas Diko! Kamu korbankan perasaanku, kamu permainkan aku dengan pernikahan bullshit ini!!" teriak Riana lagi seperti kehilangan kendali.


"Belum puas kamu menyakiti hati aku?! Kamu jebak aku dalam pernikahan tanpa cinta, setiap hari kamu berakting bersikap seperti tidak ada apa-apa padahal di situ hatiku tersiksa dan bertanya-tanya tentang apa arti pernikahan ini tanpa kasih sayang dari suamiku!!" pekiknya semakin kehilangan kendali.


Diko merasakan nyeri di dadanya mendengar perkataan Riana yang menohok hatinya. Riana benar-benar meluapkan emosinya.


Ia semakin meronta sambil memukul dada Diko dengan sekuatnya.


Diko masih terus berusaha mengendalikan Riana yang terkurung dalam emosinya. Ia berusaha memeluk Riana dan mengunci tubuh Riana agar tetap tenang.


Namun tangis Riana semakin terdengar keras.

__ADS_1


"Aku ga mau terus seperti ini, ceraikan saja aku Mas kalau memang itu membuatmu tidak terbebani dengan pernikahan ini!" ucap Riana meracau dan terus meronta.


__ADS_2