Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 97


__ADS_3

"Mas, aku bingung deh" ucap Riana yang terlihat gelisah seperti tak bisa tidur.


Diko yang memang masih terjaga langsung berbalik ke arah istrinya.


"Masalah yang tadi sore" ucap Riana memberi clue.


Diko menarik nafas panjang. Ia merasa harus segera membantu istrinya itu keluar dari kegalauannya.


"Sekarang, dari kamu sendiri keinginannya ke mana? Terus apa yang bikin kamu ngerasa bingung?" tanya Diko penasaran.


"Hmmm, gimana ya" jawab Riana bingung.


"Aku pengen balik kerja lagi sebenarnya Mas. Ya seperti yang kamu bilang, aku biasa berkegiatan. Sekarang aja kalau sehari aja ga diajak Mama atau kamu keluar rumah, aku bisa ngerasa suntuk banget" jawabnya lagi


"Tapi aku perlu meyakin diri dulu apa aku benar-benar sudah siap untuk bertemu orang banyak. Aku takut kalau nanti aku ketakutan di kantor ataupun pas lagi di lapangan ketemu klien gimana?" jelas Riana bimbang.

__ADS_1


"Kalau memang begitu, sebelum kamu bekerja lagi kamu harus bisa berusaha untuk menghilangkan rasa ketakutan itu. Besokkan jadwal kamu therapy, sebaiknya kamu konsultasikan dengan psikolog. Mana tau ada pandangan apakah dengan kondisi kamu saat ini sudah bisa untuk bekerja atau belum" jawab Diko memberi saran.


Riana mengangguk setuju dengan saran suaminya. Memang benar, sepertinya ia harus memastikan kondisinya sudah siap atau belum.


Diko membelai mesra anak rambut istrinya yang terlihat berantakan.


"Tapi kalau seandainya kamu memang memutuskan untuk kerja lagi, ada baiknya kita liburan dulu" ucap Diko.


"Untuk refreshing, menyegarkan pikiran kamu dan aku juga tentunya. Apalagi sejak menikah kita belum pernah honeymoon kan?" ucap Diko sambil tersenyum.


Riana tersenyum lebar, kemudian mengangguk setuju.


Hati Diko terasa adem mendengar ucapan istrinya. Walaupun dalam hatinya menginginkan demikian jika mereka punya anak nanti Rianalah yang memantau perkembangan anak mereka sehari-hari, namun ia tak ingin mengucapkannya karena takut Riana berkeinginan lain.


Namun ternyata tanpa ia ucapkan, keinginan itu datang dari dirinya sendiri.

__ADS_1


"Makasih ya sayang" ucap Diko senang.


"Semoga kita segera diberi buah hati" lanjutnya sambil memegang perut Riana.


Riana tersenyum dan mengamini harapan suaminya itu.


"Terus kapan aku cobain perawannya?" tanya Diko nakal.


Riana tertawa mendengar pertanyaan suaminya. Dirinya memang telah menjalani prosedur operasi hymenoplasty pasca kejadian itu.


Setelah kondisi fisik Riana pulih saat itu, dan melihat Riana yang down dan mengalami depressi tim dokter memutuskan agar ia menjalani operasi tersebut untuk mengembalikan kepercayaan dirinya dan sedikit bisa membuatnya tidak berpikir bahwa ia telah sangat kotor seperti yang dirasakan korban-korban pelecehan pada umumnya.


Dimana prosedur operasi tersebut bertujuan untuk memperbaiki kondisi vag*na dan menyambung kembali selaput dara Riana dengan selaput dara buatan dan akan memberi sensasi berdarah jika berhubungan intim selayaknya wanita yang masih perawan.


"Maaf ya Mas, aku harus bikin kamu begini" ucapnya tak enak hati.

__ADS_1


"Ga apa-apa sayang. Aku mengerti, tapi terkadang yang di sini yang kurang mengerti" jawabnya sambil menunjuk ke antara kedua pahanya.


Riana tertawa mendengar ucapan suaminya. Ia berjanji akan berusaha sekuatnya untuk menghilangkan semua ini. Ia kasihan dengan suaminya yang sudah berkorban sejauh ini untuk dirinya dan yang selalu sabar menghadapinya. Semoga ketakutan-ketakutan itu segera enyah dari dalam dirinya, dan ia bisa kembali menjalani kemesraan demi kemesraan khas suami istri dengan suaminya.


__ADS_2