Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 129


__ADS_3

Riana tak bergeming dan berusaha untuk tetap tenang. Dibiarkannya Diko memeluk erat tubuhnya.


"Mau sampai kapan Mas?" tanya Riana yang masih tak merubah posisinya.


Kali ini Diko yang diam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Ia takut salah, namun juga bingung.


"Semalaman aku berfikir, aku instrospeksi apa yang terjadi pada diriku, aku belum bisa menjadi suami yang bijak dalam mengendalikan emosiku" ucap Diko mengawali penjelasannya.


"Aku terlalu takut masalaluku mengusik rumah tangga kita, sampai akhirnya aku tidak menyadari bahwa aku sendirilah yang mengusik rumah tangga ini dengan ketidakmampuanku mengendalikan diri" jelasnya lagi.

__ADS_1


"Aku menerima kamu dengan segala masalalu kamu, tapi bukan berarti aku juga bisa menerima hal seperti kemarin tanpa kamu berusaha untuk berubah" jawab Riana yang masih mencoba untuk tak menaikkan intonasinya bicaranya.


"Apa setiap saat kamu hanya berpikir bagaimana caranya untuk menghindar tanpa bisa berdamai dengan masalalu? Hidup kita terus berjalan ke depan, kamu bisa menjadi seperti saat ini juga karena peran masalalu. Jadi untuk apa terus menerus memusuhi masalalu kamu? Yang ada, kalau kamu gagal menghindar, kamu malah menyalahkan keadaan bahkan orang lain seperti tadi malam yang menurutku itu tidak perlu terjadi kalau kamu bisa menyikapi dengan baik. Toh kita hanya bertemu sebentar, tidak banyak mengobrol juga dengan 'dia'. Sakit hatimu akan merusak diri kamu sendiri dan hanya akan membuang-buang waktu. Kalau saja tadi malam kamu bisa mengendalikan diri, mungkin sampai pagi ini kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk berdebat, kamu tidak perlu susah-susah harus meminta maaf, bahkan seharusnya pagi ini kita bangun pagi dengan perasaan bahagia bukannya perasaan bersalah" ucap Riana panjang lebar mengeluarkan semua isi hatinya dengan nada sedatar mungkin dan tak ingin tersulut emosi.


Diko semakin mengeratkan pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di pundak Riana. Dirinya seperti tertampar oleh ucapan istrinya.


Riana benar, kalau saja ia bisa lebih dewasa mungkin semua ini tidak perlu terjadi. Ia begitu mengutuk dirinya sendiri karena bisa-bisanya merusak bulan madu mereka yang harusnya indah malah menjadi mencekam sejak tadi malam. Jangankan pelukan hangat, senyum pun tak muncul dari sudut bibir keduanya sejak semalam.


Riana membalikkan badannya dan menghadap Diko.

__ADS_1


"Aku tidak marah Mas, aku hanya kecewa. Kamu adalah sosok yang aku jadikan panutan dan pemimpin dalam rumah tangga ini, kalau kamu sendiri goyah, bagaimana dengan aku? Kalau terus-terusan begini,yang ada bisa runtuh lama-lama" jawab Riana.


Diko mengangguk menyesali segalanya. Ia yang seharusnya menjadi contoh untuk istrinya. Tak semestinya ia gegabah seperti kemarin, marah-marah tidak jelas.


"Maafin aku ya udah bikin kamu kecewa, udah ngasih contoh yang ga baik buat istriku" ucap Diko penuh penyesalan.


"Aku akan berusaha semampu aku untuk menjadi lebih baik. Aku mohon kamu juga mau untuk terus mengingatkan aku kalau aku berbuat salah lagi, tapi semoga ini tidak terulang lagi" lanjut Diko.


Riana mengangguk kemudian bangkit dan beranjak ke kamar mandi.

__ADS_1


Diko menghela nafas berat. Ia lega akhirnya setelah minta maaf dengan istrinya. Namun ia juga tahu Riana masih kecewa padanya. Karena belum ada senyum yang tersungging di bibir istrinya itu.


__ADS_2