
Riana tengah merevisi laporan keuangan untuk segera di serahkan ke atasannya. Sampai-sampai ia lupa makan siang karena laporan ini harus segera diantarnya sore ini.
Sejak tadi Mei mengajaknya mengobrol tapi tak ia ledeni. Sebab ia tahu jika sudah mengobrol dengan sahabatnya itu, pasti akan memakan waktu yang lumayan lama.
"Lama banget sih Ri?" tanya Mei sambil menyembulkan kepalanya ke atas pembatas meja mereka.
"Duuh, dikit lagi. Pak Ryan udah neleponin gue minta ini segera" jawabnya sambil terus memandangi layar komputernya.
"Lagian kenapa baru diminta sekarang sih kalau emang buru-buru?" tanya Mei lagi.
"Ya mana gue tahu. Lu tanya sana ke orangnya. Gue juga bingung, padahal seharusnya deadlinenya masih tiga hari lagi" ucap Riana yang masih fokus.
"Yaudah deh, semangat ya. Ntar aja deh gue ceritanya" jawab Mei lemas.
Perut Riana sudah terdengar krucuk-krucuk. Ia celingak celinguk melihat sekitaran mejanya, tapi tak menemukan secuil pun cemilan atau sesuatu yang bisa ia makan.
Dengan pasrah ia melanjutkan pekerjaannya sambil berharap rasa laparnya bisa diajak kompromi untuk bersabar sampai laporan itu selesai.
30 menit berselang, akhirnya laporan tersebut selesai ia revisi kemudian diprint untuk ia serahkan. Sesampainya di depan ruangan atasannya, Riana dengan percaya dirinya langsung mengetuk pintu.
Setelah ketukan ke tiga, tak juga terdengar sahutan dari dalam. Dicobanya kembali, namun tetap tak mendapat jawaban.
Dengan memberanikan diri ia dorong pintu tersebut sambil melongokkan kepalanya. Ia keget bukan kepalang, melihat Pak Ryan, atasannya sedang berciuman begitu mesra dengan istrinya di atas sofa.
__ADS_1
Mereka yang sadar dengan kehadiran Riana langsung masing-masing menarik diri dan berusaha tenang. Riana pun meminta maaf atas kelancangannya.
"Maaf Pak, Bu. Saya tadi sudah mengetuk tapi tidak ada jawaban. Maaf saya sudah lancang" ucapnya sambil menunduk ke bawah karena tidak sanggup memandang wajah atasan dan istrinya.
"Tidak apa-apa. Silahkan masuk" ucap atasan Riana sambil memperbaiki jasnya yang sedikit berantakan.
Riana langsung menyerahkan laporan tersebut dan pamit keluar, ia sudah terlanjur tak enak hati telah memergoki dan mengganggu kemesraan pasangan suami istri itu.
Setelah itu Riana langsung melangkah ke meja Mei, kemudian mencolek bahunya.
"Yuk ke pantry, butuh asupan nutrisi nih gue" ucap Riana.
Dengan wajah sumringah Mei pun langsung mengekor sahabatnya itu dari belakang.
Mau tak mau ia membuka biskuit tersebut karena itu satu-satunya makanan yang tersisa di kulkas pantry. Riana mengunyahnya dengan lahap.
"Lu kelaperan?" tanya Mei sambil memandang Riana dengan tatapan geli.
"He'eh. Gue belum makan siang" jawabnya sambil terus mengunyah.
"Pantes" ucap Mei sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 4 sore.
Tiba-tiba ponsel Riana berbunyi, terlihat nama dan foto Diko terpampang di sana. Kemudian Riana mengangkat dan mengobrol dengan suaminya itu sebentar.
__ADS_1
Sembari Riana mengobrol, Mei memperhatikan sahabatnya itu yang sedang mesam-mesem bak orang yang sedang kasmaran.
Setelah Riana memutuskan panggilan teleponnya,
"Udah kayak abege lagi jatuh cinta lu ya, senyum-senyum ga jelas" ucap Mei sewot.
"Biariin, eh lu mau cerita apaan tadi?" tanya Riana penasaran.
"Eh bentar" ucap Mei sambil melihat sesuatu di dekat arah kerah baju Riana.
"Diih, apaan nih?" ucapnya sambil menyingkap rambut sebahu Riana yang menutupi lehernya.
"Abis gituan lu ya semalem, pantesan senyam senyum. Akhirnya jebol juga ya Ri" goda Mei sambil tertawa.
"Apaan sih lu" jawab Riana sambil kembali menata rambutnya untuk menutupi kissmark hasta karya Diko yang entah berapa banyak tercap di leher dan dadanya.
"Eh, enak ga sih Ri? Kasih tau gue doong" rayu Mei agar Riana mau bercerita.
"Enak sih, tapi enaknya yaa cuma 10% lah" jawab Riana sambil pura-pura berpikir.
"Masa sih?" tanya Mei penasaran.
"Iya, 90%nya lagi, enaakk bangeeett" jawab Riana sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Mei yang kesal setelah di kerjai temannya itu langsung melempar Riana dengan bungkus biskuit yang ada di atas meja.