Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 18


__ADS_3

Riana memilih meja yang berada di tepi cafe kemudian duduk dan memesan minuman. Ia cukup heran karena Diko tiba-tiba mengajaknya bertemu.


'Apa Mas Diko serius dengan semua ini? Kalau aku mulai baper gimana? Terus kalau dia tiba-tiba ga jelas terus ngilang gimana?' bathinnya dalam hati.


Riana takut jika Diko hanya mempermainkan perasaannya saja kelak. Ia lelah jika harus memulai lagi berkenalan dengan orang baru, kemudian gagal dan begitu terus menerus.


Riana sudah dalam fase ingin segera mempunyai hubungan yang jelas dan serius. Ia tak ingin PDKT bak anak ABG yang ujung-ujungnya ia akan sakit hati.


Tiba-tiba lamunan Riana buyar karena seorang waiter yang datang membawakan pesanan Riana.


Tak lama kemudian muncul sosok Diko dari arah pintu cafe. Ia tersenyum kemudian mengambil posisi duduk berhadapan dengan Riana.


"Maaf ya kalau aku lama" ucap Diko basa-basi.


"Ga kok Mas, aku juga belum lama" jawab Riana.


Diko pun langsung memilih menu pesanannya dan menyerahkannya pada seorang waitress.


Kemudian dilihatnya Riana dengan detail mulai dari ujung rambut hingga bagian tubuh lainnya.


'Cantik' pikirnya.

__ADS_1


Kala itu Riana mengenakan kemeja berwarna peach yang dipadukan dengan rok span selutut berwarna khaki membuat tampilannya begitu cerah. Ditambah dengan rambut sebahunya yang terikat keatas serta make up bernuansa nude membuat wajahnya memancarkan kecantikan alami.


"Ri.." panggil Diko.


"Iya Mas" sahutnya.


"Kamu ga capek senin sampai jumat ngantor terus weekendnya ngajar seperti ini?" tanya Diko penasaran.


Riana tertawa mendengar pertanyaan Diko.


"Ya ga lah Mas. Aku juga ngajarnya cuma beberapa jam" jawab Riana kemudian.


"Lagian juga mumpung aku masih belum ada tanggung jawab, aku masih bisa mengeksplor diriku sesuai kemampuanku. Tapi nanti suatu saat aku sudah punya tanggung jawab, entah mungkin terhadap suami ataupun anak, ya aku ikhlas untuk melepas apapun pekerjaanku saat ini jika memang harus seperti itu" lanjutnya.


"Ketika papaku bilang kalau mau ngenalin anaknya, saat itu kamu keberatan ga?" tanya Diko menelisik.


Lagi-lagi Riana tersenyum mendengar pertanyaan Diko. Ia merasa seperti sedang diwawancara.


"Keberatan sih ga Mas, cuma aku awalnya takut aja kalau seandainya aku merasa tidak cocok terus aku akan jadi ga enak hati sama Pak Ridwan" jawab Riana jujur.


"Terus sekarang gimana? kamu ngerasa cocok ga?" tanya Diko sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apaan sih Mas" jawab Riana malu.


Ia heran kenapa Diko seperti sedang menguliti dirinya seperti ini. Jujur ia masih malu dan sungkan.


"Ya aku tanya aja, kalau ternyata kamu keberatan kan aku jadi ga enak" ujar Diko beralasan.


"Aku menikmati proses ini sih intinya" jawab Riana diplomatis.


Diko tersenyum mendengar jawaban Riana yang masih terkesan gengsi tersebut. Ia paham tak mudah bagi wanita untuk jujur dan dengan gamblang mengatakan isi hatinya dengan lelaki yang baru dikenalnya.


"Maaf ya Ri, kalau seandainya permintaan Papaku untuk kenalan sama aku udah buat kamu jadi terbebani" ucap Diko.


"Ga kok Mas, beneran aku ga terbebani sama sekali" jawab Riana dengan cepat.


"Kamu harus bersyukur Mas, karena masih ada orang tua yang perhatian sama kamu. Sampai masalah jodohpun mereka masih mengurusi kamu. Aku senang melihatnya. Karena aku udah ga bisa lagi merasakan seperti kamu. Kedua orang tuaku sudah meninggal, dan aku adalah anak satu-satunya. Aku kini menentukan jalan hidupku sendiri" jelas Riana.


Diko terkejut. Ia baru tahu bahwa Riana tak lagi memiliki orang tua. Seketika pikirannya terbuka, ia merasa bersalah karena kesal dengan ayahnya yang getol menjodohkannya Riana.


Benar apa yang di katakan Riana, seharusnya ia bersyukur karena orang tuanya masih saja memikirkan dirinya perihal jodoh sekalipun. Itu pertanda mereka sangat perhatian dan sayang pada dirinya.


Seketika, diraihnya tangan Riana,

__ADS_1


"Ri, kamu mau ga nikah sama aku?" ucap Diko tanpa basa basi.


__ADS_2