Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 47


__ADS_3

"Kalian berantem??" tanya Joe penasaran.


Diko mengangguk mengiyakan.


"Terus gara-gara ini lu jadi tiba-tiba ngerokok?" tanya Joe lagi.


"Ya gue lagi suntuk aja" jawab Diko sekenanya.


"Ah, udah udah, ga ada, ga ada, sini rokok lu, sini" ucap Joe sambil menarik paksa rokok yang sedang dihisap oleh sahabatnya itu kemudian memadamkannya.


Diko hanya bisa pasrah, karena ia tahu Joe adalah orang yang paling setia menjalankan pola hidup sehat dan tak bosan-bosannya menasehati Diko.


"Kalian berantem kenapa? Apa segitu gedenya sampai Riana pergi?" tanya Joe sambil menarik kursi ke sebelah Diko.

__ADS_1


Diko pun menceritakan perihal permasalahannya dengan ayahnya, kemudian bagaimana pertengakarannya dengan Rjana tadi malam.


Joe hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak habis pikir pada Diko.


"Lu itu bukannya belum bisa cinta sama Riana, tapi emang lu sendiri yang ga membuka hati lu" ujar Joe geram.


"Gue tahu itu, gue sadar dengan apa yang udah gue lakukan, dan gue sengaja" jawab Diko dengan pandangan menerawang.


Joe mengeryitkan dahi menunggu penjelasan selanjutnya.


"Minuman keras, dunia malam, perempuan, bahkan narkoba, itulah hidup gue tiap hari, dulu, sampai akhirnya gue kena batunya. Dan Riana belum tahu itu" lanjut Diko lagi.


"Dan gue selalu merasa bersalah ketika gue membuka hati buat dia. Gue kayak ngerasa penuh dosa, dan ada ketakutan dalam diri gue kalau seandainya dia tahu dulu suaminya adalah orang yang penuh maksiat dia bakal jijik sama gue" jelas Diko sambil meremas rambutnya.

__ADS_1


"Udah ga terhitung lagi berapa banyak perempuan yang pernah tidur sama gue dulu, sedangkan Riana?? Dia masih perawan. Gue bener-bener ngerasa jahat banget Joe, gue ngerasa ini ga adil untuk Riana" tambahnya.


Joe menghela nafas panjang. Ia paham atas apa yang dirasakan Diko. Ia pun prihatin melihat Diko yang seperti di kejar bayang-bayang masa lalunya.


"Makanya gue selalu ngerasa belum siap untuk menikah, gue harus menyiapkan mental gue buat kembali cerita tentang masa lalu gue yang mana istri gue mesti tahu. Sampai akhirnya gue terpaksa harus buru-buru nikah." ucap Diko sebelum Joe memberi komentar.


"Kejadian itu kan sudah bertahun-tahun yang lalu Dik. Waktu perusahaan kita baru-baru berkembang, terus lu salah langkah, salah memilih lingkungan. Tapi lu harus move on dong, Tapi gue setuju lu harus jujur ke Riana, biar dia bisa nerima elu apa adanya" ujar Joe memberi pandangan.


"Sekarang gini deh, lu selesaikan satu-satu dulu biar pikiran lu ga penuh. Pertama, lu baikan dulu sama Riana, setelah itu ketika suasana udah enak baru deh lu coba ngomong. Gue yakin Riana ga bakal benci sama lu, kalau kecewa itu manusiawi karena mungkin dia berharap banyak sama lu, tapi kalau benci gue rasa Riana ga mungkin seperti itu" tambah Joe meyakinkan Diko.


"Ga segampang ngomongnya Joe, sekarang ketemu Riana aja belom" ucap Diko.


"Iyaa, tapi lu harus coba, gimana sih lu? Belum juga mulai udah mundur duluan" jawab Joe yang kesal dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


Diko hanya bisa mengangguk lemah.


__ADS_2