
Riana melepas celananya kemudian mengambil posisi buang air kecil. Kemudian ia menampung urinenya pada sebuah wadah yang sudah ia sediakan.
Namun setelah wadah tersebut berisi, ia masih saja tetap duduk di closet dan menyerahkannya pada Diko.
"Kamu aja yang cek ya, aku takut" ucap Riana.
Diko mengangguk setuju kemudian mengambil wadah urine yang diberikan Riana.
Diko membaca petunjuk yang terdapat di bungkus testpack tersebut dengan seksama karena ini adalah kali pertama ia menggunakan testpack bahkan untuk malihat bentuknya pun baru kali ini.
Setelah ia paham dengan petunjuknya, Diko mulai mencelupkan testpack tersebut kedalam wadah urine milik Riana.
Jantung Riana rasanya dag dig dug, karena ia sedang menunggu hasil dari keputusan jalan hidupnya 9 bulan ke depan. Riana benar-benar tegang.
Diko terlihat mengangkat testpack tersebut kemudian meletakkannya di bibir wastafel.
Sesuai instruksi yang terdapat pada bungkus testpack tersebut, setelah testpack diangkat kemudian harus di tunggu selama 1 menit.
Diko berusaha tak melihat benda tersebut sebelum 1 menit berakhir, ia juga deg-degan sekali menunggu hasilnya.
Mereka berdua berpandangan, kemudian ia mengelus punggung tangan Riana dengan lembut.
Setelah 1 menit berlalu, Diko segera melihat testpack tersebut.
__ADS_1
Riana mencermati ekspresi suaminya saat melihat hasilnya tersebut.
"Gimana Mas?" tanyanya penasaran.
Diko tak menjawab, ia hanya terlihat merentangkan kedua tangannya sambil sedikit tersenyum.
Rianapun bangkit dan menyambut pelukan Diko. Kemudian ia mengambil testpack tersebut dan melihat hanya ada 1 garis.
Entah kenapa air matanya mendesak untuk keluar. Rasanya seperti sedang mengecewakan suaminya.
"Belum rejeki kita sayang, ga apa-apa" ucap Diko sambil mengelus punggung Riana.
"Maaf ya Mas" ucap Riana di sela tangis kecilnya.
"Lho, kenapa nangis sayang?" tanya Diko lembut. Padahal ia tahu Riana mungkin merasa mengecewakannya.
"Kita baru mencoba sekitar satu bulan, masih banyak waktu. Kamu ga perlu sedih, aku ga kecewa. Kita nikmati aja prosesnya sampai suatu hari nanti ketika memang sudah dipercaya sama Tuhan" ucapnya menghibur hati Riana.
"Benar kamu ga kecewa Mas?" tanya Riana meyakinkan.
Diko mengangguk penuh keyakinan.
"Mungkin kita di kasih waktu buat pacaran dulu. Sebelum nikah kan kita ga pake pacaran. Emangnya kamu ga mau menikmati pacaran sama aku?" tanya Diko agar Riana tak merasa bersalah.
__ADS_1
Riana tersenyum dan mengangguk.
Ia beruntung rasanya memiliki suami seperti Diko yang benar-benar bisa menenangkannya. Sangat jauh berbeda dibanding awal pernikahan mereka dulu.
"Kita bikin lagi yuk" ajak Diko menggoda Riana.
Riana mencubit pinggang Diko dengan bertenaga, kemudian terlihat Diko yang meringis kesakitan.
"Kenapa sih sayang? Aku kan cuma becanda" tanyanya sambil meggosok-gosok pinggangnya yang masih sakit.
"Istrinya lagi sakit malah di ajak bikin anak" jawab Riana cemberut.
"Kan biar sembuh" jawab Diko.
"Emangnya gituan bisa nyembuhin masuk angin? Yang ada makin nambah masuk anginnya karena ga pake baju" ucap Riana manyun.
"Ya bisaa, mau bukti? ayo kita buktiin" jawab Diko sambil tersenyum nakal.
Riana memberikan satu lagi cubitan di pinggang kiri Diko kemudian pergi keluar toilet meninggalkan Diko yang sedang meringis sambil tertawa puas karena telah berhasil menggoda istrinya.
"Eh mau kemana sayang? Ayo kita bikin dulu" ucap Diko.
"Bodo amaaat" teriak Riana dari luar toilet.
__ADS_1
Tinggallah Diko yang tertawa puas sambil mengikuti istrinya keluar.