
Setelah Diko dan Riana melepas Bu Hesti pulang ke rumahnya, mereka pun masuk ke dalam rumah.
"Welcome to the new journey sayang" ucap Diko sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang.
"Mas, nanti kalau di lihat Bi Yum kan ga enak" ucap Riana yang khawatir jika ARTnya sampai melihat mereka sedang bermesraan.
"Ya ampun, aku lupa kalau sekarang kita ga cuma berdua di rumah" jawab Diko sambil melepaskan pelukannya.
"Yaudah yuk kita ke kamar aja" ajak Diko sambil menarik lengan Riana.
Sesampainya di dalam kamar, Riana sudah bisa melihat gelagat suaminya yang ingin segera bermesraan dengannya. Riana sadar selama ini Diko sudah lama terabaikan. Sejak tinggal di rumah mertuanya, Riana tak seperhatian dulu pada suaminya.
Diko berbaring di atas tempat tidur untuk melepas lelahnya. Ia meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit letih.
Riana berinisiatif untuk berbaring di samping suaminya.
"Mudah-mudahan kita betah di sini ya sayang" ucap Diko.
__ADS_1
"Iya Mas" jawab Riana sambil membelai mesra rambut suaminya.
Diko menangkap tangan Riana yang sedang membelai rambutnya.
Dengan perlahan ia mendekat dan mengecup bibir istrinya. Riana memejamkan matanya setelah merasakan sesuatu yang lembut sedang berada di atas bibirnya. Dengan mudah Riana membalas ciuman Diko dengan begitu lembut.
Semakin lama ciuman yang awalnya begitu berhati-hati itu kini sudah semakin menderu Terdengar suara nafas yang mulai berat mengiringi tarian-tarian yang dimainkan bibir dan lidah keduanya.
Tangan Diko yang sejak tadi menahan diri kini sudah berada di dalam blouse yang digunakan Riana seolah sedang mencari sesuatu yang menjadi favoritenya di sana.
Dengan penuh hati-hati, ditariknya blouse tersebut ke atas. Sambil sesekali diperhatikannya ekspresi Riana karena takut akan ada penolakan.
Tetapi sejauh ini istrinya masih terlihat menikmati dan seperti tak ada penolakan sedikit pun. Diko pun semakin berani dan percaya diri bahwa kali ini akan berhasil menyalurkan hasratnya sekaligus memberikan nafkah bathin untuk Riana yang sudah lama tak ia lakukan.
Dicobanya untuk mengarah ke leher Riana yang jenjang, lagi-lagi yang di dapatkannya adalah desahan yang seolah berkata lagi lagi dan lagi. Diko semakin yakin dengan tindakannya, ia dengan lihai segera menuju dua buah gundukan kenyal favoritenya. Dinikmatinya seperti sedang kelaparan dan tak ada puasnya.
Riana pun semakin tak terkendali, ia tak bisa menahan dirinya untuk tak menginginkan sesuatu yang lebih dari Diko.
__ADS_1
Malam yang semakin panas mereka nikmati berdua. Erangan silih berganti terdengar begitu menggebu-gebu.
Walau keduanya telah bersimbah keringat tetapi tak menghalanginya untuk melakukannya lagi dan lagi. Diko yang seperti tak ada kenyangnya terus bolak balik menunjukkan kebolehannya di atas ranjang.
Begitu ketagihannya mereka berdua seperti pengantin baru. Di tambah suara hujan deras yang mulai turun membuat suasana semakin syahdu dan keduanya semakin bebas bersuara, mengerang dan mendesah sebagai wujud menghargai pasangan.
Tenaga dan nafsu keduanya mereda seiring dengan hujan yang turut mereda.
"Terima kasih sayang, aku bahagia sekali" ucap Diko sambil mengecup mesra kening istrinya.
Riana bernafas lega, karena akhirnya ia kembali mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai istri, yaitu melayani kebutuhan biologis suaminya yang telah lama tak ia penuhi. Akhirnya satu persatu ketakutannya mulai pergi dan menghilang.
Satu keinginannya saat ini yaitu untuk selalu bersama Diko. Merajut kembali rumah tangga mereka yang sempat bolak balik di terjang hujan badai, namun kini hujan badai tersebut perlahan mulai tenang dan semoga segera terlihat kemunculan pelangi.
Di peluknya pinggang Diko dengan erat, kemudian di benamkannya wajahnya di dada suaminya itu.
"Aku sayang kamu Mas" ucapnya tulus.
__ADS_1
Hati Diko terasa hangat mendengarnya. Dielusnya rambut Riana dengan mesra. Di kecupnya kening Riana sekali lagi seolah menjawab bahwa ia juga sangat mencintai Riana.