
"Mbak Riana, Mbak" panggil Bi Prapti seraya mengetuk pintu kamar Riana.
Riana segera membukakan pintu dan melongokkan kepalanya karena ia baru saja selesai mandi.
"Ada temennya Mbak Riana di bawah" ucapnya memberitahu.
"Oh iya Bi, sebentar lagi saya turun. Tolong bikinin minum ya Bi, sama tolong potongin brownis yang di kulkas" ujar Riana.
Selepas Bi Prapti berlalu, ia segera melanjutkan berpakaian agar bisa segera turun menemui Mey dan Bu Devi.
Tak lama kemudian Riana bergegas turun dan menuju ruang tamu.
"Rianaa" teriak Mey girang sambil memeluk sahabatnya itu
"Ya ampun Ri, gue kangen banget" ucap Mey yang telah menjenguk keadaan Riana sekitar hampit dua bulan lalu.
"Iya gue juga kangen banget, lu jarang ke sini soalnya" jawab Riana.
"Ya kan gue takut ganggu kalau sering-sering" ucap Mey membela diri.
__ADS_1
"Gimana Ri keadaan kamu?" tanya Bu Devi sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Riana.
"Saya baik Bu" jawab Riana.
"Terima kasih ya Bu, Ibu sudah mau repot-repot jenguk saya" ucap Riana pada mantan atasannya yang masih muda dan segar itu.
"Sudah seharusnya bagi saya Ri" jawab Bu Devi.
Riana tersenyum mendengar jawaban Bu Devi. Atasannya itu benar-benar bijaksana. Seorang wanita muda yang cerdas dan sudah mempunyai jabatan sebagai manager keuangan, usianya mungkin sekitar 30 tahunan. Bu Devi memang tak terlalu dekat dengannya selama di kantor dulu, oleh karena itu Riana benar-benar tersanjung dengan kebaikan hatinya.
"Oh iya kok sepi Ri?" tanya Mey kemudian.
"Oh iya sebenarnya saya ke sini selain untuk melihat keadaan kamu, juga ada yang ingin saya sampaikan" ucap Bu Devi.
Riana mengeryitkan dahi heran sambil menunggu kalimat selanjutnya.
"Saya ingin menawarkan kamu untuk kembali bekerja di kantor. Berhubung Mey akan segera resign, jadi posisinya bisa kamu isi. Karena kamu kan sudah paham dan berpengalaman dalam bidang keuangan di kantor kita" jelas Bu Devi.
Riana terperangah tak percaya kemudian melihat ke arah Mey.
__ADS_1
"Hmm, kan niakahan gue sama Mas Heru bulan depan Ri. Tapi kan aturan tetap aturan, harus ada salah satu dari kami yang resign, dan gue mutusin untuk resign dari kantor" jelasnya.
"Lu serius mau resign?" tanya Riana meyakinkan Mey.
"Mas Heru lagi dapat promosi jabatan manager, jadi memang harus gue. Mungkin gue bisa mencoba peruntungan di perusahaan lain" ucap Mey yang bisa Riana rasakan kesedihannya. Karena Mey sudah sangat lama bekerja di sana, bahkan sebelum Riana masuk.
Riana mengangguk setuju.
"Jadi gimana Ri? Kamu tertarik ga?" tanya Bu Devi lagi.
"Eh, hmmm.. Duh gimana ya Bu" ucapnya bingung.
"Kalau saya coba diskusi sama suami saya dulu gimana Bu? Boleh?" tanya Riana.
"Oke, saya beri waktu 2 hari. Kalau memang nanti setelah 2 hari belum ada keputusan dari kamu, maka perusahaan akan buka lowongan ini untuk umum di media" jawab Bu Devi.
"Baik Bu" jawab Riana.
Hatinya bingung dan gundah. Kira-kira apa ia memang harus bekerja kembali atau tidak. Jika ia tanya dengan Diko kemungkinan besar Diko akan menyetujui agar dirinya ada kegiatan.
__ADS_1
Tapi sejujurnya baru saja ia menikmati masa-masa beristirahat yang tidak harus dipusingkan dengan urusan kantor. Ia menikmati setiap waktu yang kini bisa dengan leluasa ia punya. Akankah ia kembali harus mengabdi di kantornya?