
Setelah selesai video call dengan Diko, Riana meletakkan ponselnya dan kembali melanjutkan aktivitas membacanya yang terputus.
Namun tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Ia mengira Diko yang lagi-lagi meneleponnya.
Ia kembali meraih ponsel yang baru saja diletakkanya dan melihat nomor tak dikenal sedang melakukan panggilan masuk.
Riana mengangkatnya karena takut kalau itu telepon penting.
"Hallo, Riana" ucap seseorang di seberang telepon.
"Ya Hallo, siapa ini?" tanya Riana penasaran.
"Ini aku" jawabnya.
Riana langsung bisa mengenali siapa yang sedang meneleponnya itu, yang tak lain adalah Pramudya.
"Ada perlu apa?Aku sedang sibuk" ucap Riana ketus.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, jujur saat itu aku khawatir melihat kamu tiba-tiba pingsan. Aku juga ingin meminta maaf kalau pertemuan kita hari itu membuat kamu shock dan terkejut sampai membuat kamu pingsan" ucap Pramudya.
"Aku sudah baik-baik saja. Kamu tidak perlu minta maaf, terima kasih sudah berniat meluruskan semuanya. Tapi yang pasti, kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Silahkan kamu jalani kehidupan kamu, begitupun aku" ucap Riana.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Dan sekali lagi, aku saat itu tidak berniat mencelakaimu sama sekali. Aku ingin kamu tahu yang sejelas-jelasnya. Aku juga pasti akan menghargai kehidupanmu saat ini, aku lihat betapa khawatirnya suamimu saat itu. Aku yakin dia pasti sangat menyayangimu, ia memang pantas untukmu Ri" ucap Pramudya.
Riana tak menjawab dan hanya bisa diam mendengar perkataan Pramudya.
"Untuk masalah interview kemarin, lupakan saja. Kapanpun kamu siap bekerja, perusahaan ini pasti akan terbuka lebar, dan aku berjanji untuk bersikap profesional. Tidak akan ada perbedaan sikap antara kamu dan yang lainnya" ucap Pramudya.
"Apa kamu tidak bersedia karena, hmmm, karena, aku?" tanya Pramudya ragu-ragu.
"Bukan" jawab Riana.
"Apa perusahaanku kurang menjanjikan?" tanya Pramudya penasaran.
"Mungkin aku belum bisa bekerja untuk saat ini sampai bebarapa waktu kedepan. Karena kondisiku yang belum memungkinkan" jawab Riana.
__ADS_1
"Tadi kamu bilang, kamu baik-baik saja. Apa kamu sakit Ri?" tanya Pramudya.
"Aku sedang hamil" jawab Riana dengan pasti.
Entah kenapa ada rasa nyeri yang menjalar di dada Pramudya. Wanita yang begitu di cintainya kini telah menjadi milik orang lain dan sedang hamil. Wanita yang ia mimpikan merajut rumah tangga bersamanya dan akan mengandung keturunannya, namun kenyataan berkata lain.
"Ooh, begitu. Selamat ya Ri, aku turut bahagia mendengarnya" ucap Pramudya berusaha tegar.
"Iya, terima kasih" jawab Riana seadanya.
Pramudya menutup panggilannya dengan perasaan pilu yang menyelimuti hatinya. Bukankah ini adalah buah dari apa yang dilakukannya dulu, ia tidak boleh kecewa. Mungkin rasa kecewa Riana padanya dulu lebih dari rasa kecewanya saat ini.
Riana pun meletakkan ponselnya dengan mood yang berantakan. Gara-gara telepon dari Pramudya, moodnya yang tadi happy setelah bervideo call dengan suaminya langsung berganti menjadi kesal.
Ia tak bisa membayangkan jika ia jadi bekerja di perusahaan Pramudya. Apalagi jika Diko tahu bahwa Pramudya adalah mantan kekasihnya, pasti akan ada prahara dalam rumah tangga mereka. Seprofesional apapun ia dan Pramudya, akan ada celah untuk setan yang menggoda. Lagian Riana masih bisa berpikir jernih, lebih baik ia menghindari masalah dari pada mempertaruhkan rumah tangganya.
Saat ini fokusnya hanyalah bayi yang ada dalam kandungannya dan juga Diko. Hidupnya sudah sangat lengkap dan bahagia, kebahagiaannya terasa komplit dengan kehamilannya dan juga Diko si suami terbaik yang ia miliki saat ini.
__ADS_1